shadow

Apa kabar budaya kita hari ini?

Apa kabar budaya kita hari ini

Apa kabar budaya kita hari ini?

Antri merupakan kegiatan sosial yang berjalan di mana saja. Penduduk kota Malang tentu tidak asing bersama nada wanita yang berulang-ulang mengatakan: ‘Budayakan tertata berlalu tintas, patuhilah rambu selanjutnya lintas dan marka jalan, menekankan keselamatan bukan kecepatan, dahulukan pejalan kaki dan pengendara sepeda, sepeda motor nyalakan lampu utama siang dan malam hari, tertata selanjutnya lintas cermin masyarakat berbudaya’.

Apa kabar budaya kita hari ini

Suara rekaman yang berada di setiap perempatan kota Malang lebih-lebih lampu merah tersebut, merupakan fasilitas pembelajaran bagi masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah masyarakat kita sudah berbudaya? Dilihat dari langkah berlalu lintas, apakah sudah mencerminkan masyarakat yang berbudaya?.

Tidak harus membohongi diri sendiri, kita maupun penulis pun, kadang belum mencerminkan sebagai masyarakat yang berbudaya, seandainya indikatornya adalah apa yang dikatakan pengeras nada di perempatan jalan tersebut. Bentuk kegelisahan pemerintah atas masyarakat kita yang belum berbudaya dicoba untuk membentuknya lewat pendidikan masyarakat di perempatan jalan.

Pesan pertama adalah ‘budayakan tertata berlalu lintas’. Menunjukkan belum sepenuhnya masyarakat tertata berlalu lintas, justru yang tersedia adalah budaya serobot serta klakson sebagai wujud ketidak sabaran atas adanya macet dll. Di Negara lain, lebih-lebih Negara tetangga, mobil maupun kendaraan lain sebenarnya disetting miliki klakson tapi jarang dibunyikan, dikarenakan cermin budaya bangsa mereka adalah seandainya klakson berbunyi bahkan berulang-ulang dan keras, menyatakan individu tersebut tidak sehat atau belum berbudaya.

Pesan ke dua adalah ‘patuhilah rambu selanjutnya lintas dan marka jalan’. Bagaimana langkah mematuhi rambu selanjutnya lintas yang benar? Tentu kita coba studi ulang di bangku TK, bahwa akan dikenalkan rambu ‘P’ adalah tempat parkir, tengah ‘P coret’ adalah dilarang parkir. Toh, masih tersedia yang belum paham, padahal tau akan tapi tidak senang tau.

Pesan yang ketiga adalah ‘utamakan keselamatan bukan kecepatan’. Masyarakat kita tentu akan memillih cepat dan selamat, tapi sayangnya ketika pengendara tersebut cepat dan selamat dirinya sendiri, tapi kadang membahayakan orang lain.

Pesan yang keempat adalah ‘sepeda motor, nyalakan lampu utama siang dan malam’. Bila berfokus terhadap ‘guna’, tentu ketika siang hari rekomendasi ini akan sulit dapat diterima, lebih-lebih ulang ketika matahari bercahaya terik, jadi boros seandainya harus dinyalakan, akan tapi dikarenakan rule is the rule, maka ikuti saja ketentuan yang ada. Nyalakan lampu utama titik.

Tertib berlalu lintas adalah cermin masyarakat berbudaya adalah pesan yang terakhir. Bila kita tertata berlalu lintas, maka kita adalah masyarakat yang berbudaya, bersama begitu kita dapat mematahkan ide Prof. Cokroaminoto, yang menjelaskan bahwa mentalitas bangsa kita adalah mental penyerobot dan priyayi. Ketika kita tidak ringan menyerobot dan tertata berlalu lintas maka kita tidak juga di dalam mentalitas tersebut.

Ajakan untuk jadi masyarakat yang berbudaya bersama menaati ketentuan selanjutnya lintas dan menyadari consensus yang sudah ada, seandainya lampu merah berhenti, seandainya lampu kuning hati-hati dan lampu hijau silakan tancap gas. Apa yang ditunaikan pemerintah tersebut punya niat membangun penyadaran (conscientization) masyarakat. Proses terjadinya pendidikan di tengah jalan tersebut cocok bersama pendapat H.A.R. Tilar yang menjelaskan bahwa pendidikan merupakan sistem pembudayaan. Dengan kata lain, pendidikan dan kebudayaan miliki jalinan yang saling berjalin kelindan antar satu bersama lainnya, tidak dapat dipisahkan. Ketika berkata pendidikan, maka kebudayaan pun ikut serta di dalamnya. Begitu sebaliknya. Pendidikan bukan cuma mempunyai tujuan menghasilkan manusia yang pintar yang terdidik, akan tapi yang lebih perlu adalah manusia yang terdidik dan berbudaya (educated civilized human being).

Wilayah resmi pendidikan seperti di sekolah, sudah jamak dikenal bahwa dari tempat tersebutlah para manusia pintar bermunculan. Berbeda bersama di masyarakat, lebih-lebih di perempatan jalan, dari tempat tersebutlah aplikasi dari wilayah resmi seperti sekolah, tempat tersebut mengesahkan dan jadi penilaian bahwa manusia pintar yang berasal dari sekolah, akan disahkan jadi manusia pintar yang terdidik dan berbudaya ketika lolos dari praktik antri dan tertata selanjutnya lintas lebih-lebih di perempatan lampu merah. www.ruangguru.co.id

Mobil mewah, mikrolet, sepeda motor, becak, dll, sepenuhnya miliki hak yang mirip di perempatan jalan. Mereka berhak untuk mendapatkan Info repetisi dari pengeras nada berkenaan ajakan tertata selanjutnya lintas, dan ajakan jadi masyarakat berbudaya. Ketika hak mereka sudah terpenuhi, maka kewajiban mereka sebagai masyarakat berbudaya tentu mempraktikkan ajakan pengeras nada tersebut.