shadow

Pendekatan, Metode, Teknik Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian

Pendekatan, Metode, Teknik Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian

Pendekatan, Metode, Teknik Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang dipakai di dalam antropologi pakai pendekatan kuantitatif (positivistik) dan kualitatif (naturalistik). Artinya di dalam penelitian antropologi dapat dijalankan lewat pengkajian secara statistik-matematis baik dijalankan untuk mengukur dampak maupun korelasi antar variabel penelitian, maupun dijalankan secara kualitatif-naturalistik.

Selain dikenal pendekatan positivistik dan naturalistik, menurut Kapplan dan Manners (1999: 6) di dalam antropologi termasuk dikenal pendekatan relativistik dan komparatif. Pendekatan relativistik menyaksikan bahwa setiap kebudayaan merupakan konfigurasi unik yang miliki cita rasa khas dan model serta kekuatan tersendiri. Keunikan ini kerap dinyatakan pemberian maupun tanpa pemberian bukti serta tidak banyak usaha membahas atau menjelaskannya. Memang di dalam pengertian tertentu, setiap budaya itu unik, persis sebagaimana uniknya individu, tiap helai rambut, dan tiap atom di alam semesta tidak sama. Akan namun bagaimana kami pernah mengetahuinya terkecuali tidak lebih pernah membandingkan suatu budaya bersama dengan budaya lain? Keberadaan berikut kadarnya bermacam-macam. Andai kata suatu fenomena seluruhnya unik, kami mustahil dapat memahaminya. Karena kami dapat mengetahui suatu fenomen, hanya bersama dengan mengetahui bahwa ia mempunyai kandungan sebagian kemiripan tertentu bersama dengan hal-hal yang telah kami kenal sebelumnya. Di sini kaum relativis tunjukkan bahwa suatu budaya kudu diamati sebagai suatu kebulatan tunggal, dan hanya sebagai “dirinya sendiri”.

Sedangkan kaum komparativis berpendapat bahwa suatu institusi, proses, kompleks atau ihwal suatu hal hal, haruslah terutama dahulu dicopot berasal dari matriks budaya yang lebih besar bersama dengan langkah tertentu sehingga dapat dibandingkan bersama dengan institusi, proses, kompleks, atau ikhwal-ikhwal di dalam konteks sosiokultural lain. Adanya relativitas yang ekstrem, berangkat berasal dari anggapan-anggapan bahwa ga ada dua budaya pun yang sama; bahwa pola, tatanan dan makna dapat “dipaksakan” terkecuali elemen-elemen diabstrasikan demi perbandingan. Oleh karenanya pembandingan bagian-bagian yang telah diabstrasikan berasal dari suatu keutuhan, tidaklah dapat dipertahankan secara analitis.

Namun karena pemahaman tentang ketidaksamaan itu bersumber berasal dari perbandingan, maka tidak dapat kami katakan bahwa pendekatan relativistik itu tidak miliki titik temu bersama dengan pendekatan komparatif. Tik temu ke dua berikut terdapat pada pasal tidak diijinkannya “pemaksaan”. Terutama soal-soal yang berkenaan bersama dengan ideologi, minat dan tekanan yang menimbulkan keragaman pendekatan metodologis itu. Sebab komparatif dan relativis sama-sama mengetahui bahwa tidak ada dua budaya pun yang sama persis. Sungguh pun demikian, mereka tidak serupa satu sama lain. Perbedaan berikut paling tidak du hal penting; (1) meskipun para komparativis mengakui bahwa seluruh bagian suatu budaya niscaya ada unsur perbedaannya, namun mereka percaa dan menekankan pada unsur persamaannya, yang saling kait-mengait secara fungsional; (2) sebaliknya kaum relativis terlampau menekankan masalah-masalah perbedaan dibandingkan komparativis (Kapplan dan Manners, 1999: 6-8).

Adapun metode penelitiannya dapat digunakan metode-metode penelitian
Deskriptif
Komparasi
Studi kasus
Etnografis
Survey
Dari sini penulis dapat memfokuskan metode penelitian komparatif secara rinci, karena merupakan ciri khas di dalam penelitian antropologi. Metode komparatif antropologi adalah metode penelitian yang mencabut unsur-unsur kebudayaan berasal dari konteks masyarakat yang hidup untuk satuan bandingannya bersama dengan sebanyak barangkali unsur-unsur dan aspek suatu kebudayaan. Dalam pemanfaatan metode ini didefinisikan persamaan-persamaan dan perbedaannya secara mendalam. Menurut Gopala sarana (1975) di dalam ilmu antropologi sedikitnya ada empat macam penelitian komparatif, yakni;
Penelitian komparatif di dalam obyek menyusun peristiwa kebudayaan manusia secara inferensial,
Penelitian komparatif untuk melukiskan suatu sistem perubahan kebudayaan,
Penelitian komparatif untuk taxonomi kebudayaan, dan
Penelitian komparatif untuk menguji korelasi-korelasi antar unsur, antar pranata, dan gejala kebudayaan manfaat sebabkan generalisasi-generalisasi tentang tingkah laku manusia pada umumnya.
Untuk penelitian komparatif model pertama ini banyak dijalankan oleh tokoh-tokoh seperti; Herbert Spencer, J. J. Bachoven, G. A. Wilken, L. H. Morgan, E. B. Tylor, J. G. Frazer, F. F. Graebner, dan W. Schmidt, dll. Dalam penelitian komparatif bersama dengan obyek menyusun peristiwa kebudayaan secara inferensial itu kudu diperhatikan hal-hal yang jadi satuan banding bagi para pakar antropologi. Dengan pakai kerangka kebudayaan, kami dapat sebabkan penggolongan atas hal-hal itu (Koentjaraningrat, 1990: 4). Kerangka kebudayaan itu merupakan kembinasi berasal dari ketiga bentuk kebudayaan dan ketujuh unsur kebudayaan universal yang disusun di dalam suatu bagan lingkaran atau matriks.

Penelitian komparatif model ke dua (proses perubahan kebudayaan) pada dasarnya terbagi atas dua bagian, yakni metode komparatif diakronik dan sinkronik. Pengertian metode komparatif diakronik di lapangan terjadi seumpama seseorang peneliti menyatukan information etnografi di dalam suatu komunitas pada sementara tertentu, dan diulang sebagian th. sesudah itu pada kunitas yang sama. Perbandingan situasi kebudayaan di dalam komunitas berkaitan pada sementara yang tidak serupa itu dapat memberi gambaran kepadanya tentang sistem perubahan kebudayaan yang terjadi di dalam sementara pada pengumpulan information yang pertama dan yang kedua. Sedangkan metode komparatif sinkronik, seumpama seseorang peneliti menyatukan information etnografi di dalam dua komunitas bersama dengan latar belakang kebudayaan etnik yang sama, namun komunitas yang satu keadaanya relatif terisolasi dan tertutup, sedang komunitas lainnya keadaannya lebih terbuka atau orbiditas. Kedua penelitian ini dijalankan di dalam sementara yang sama atau tanpa interval sementara yang lama (Koentjaraningrat, 1995: 4).

Berbeda bersama dengan penelitian komparatif untuk taxonomi kebudayaan, maka hampir seluruh pakar antropologi yang menganut konsepsi evolusi kebudayaan, pada hakikatnya termasuk melakukan taxonomi atau klasifikasi. Mengapa begitu, karena beragamnya kebudayaan di dunia ini sesudah itu mereka klasifikasikan ke di dalam golongan-golongan yang mereka sebut tingkat-tingkat evolusi. Tingkat-tingkat evolusi itu selanjutnya mereka susun menurut suatu hal langkah tata urut kronologi, bersama dengan memasang kebudayaan yang tampaknya paling primitif di dalam zaman sesudah itu, dan kelanjutannya kebudayaan yang tampaknya paling maju dan tinggi dikelompokkan di zaman yang paling muda (Koentjaraningrat, 1995: 10).

Berbeda bersama dengan penelitian komparatif untuk menguji korelasi dan memantapkan generalisasi. Penelitian ini secara umum terbagi dua kelompok, yakni;
Penelitian komparatif model E. B. Tylor,
Penelitian komparatif Cross-cultural.
Penelitian komparatif model E. B. Tylor, pada hakikatnya untuk menguji korelasi-korelasi pada unsur-unsur kebudayaan, yang sesudah itu digunakan untuk memantapkan generalisasi-generalisas di dalam kaitannya bersama dengan korelasi unsur-unsur itu. Sejak zaman E. B. Tylor perintis antropologi ini telah pakai metode itu terutama untuk memantapkan konsepsinya tentang sistem evolusi berasal dari tingkat masyarakat yang matriarchate ke tingkat masyarakat patriarchate. Caranya bersama dengan menghitung jumlah korelasi atau “adhesions” yang ada pada ada istiadat caude bersama dengan awal berasal dari sistem evolusi itu di dalam 300 masyarakat yang tersebar luas di dunia (Koentjaraningrat, 1983: 51-52).

Sedangkan penelitian komparatif cross-cultural, terutama di AS contohnya apa yang dijalankan oleh antropolog L. T. Hobhouse, G. C. Wheller, M. Ginsberg. Tiga peneliti antropologi itu di dalam risetnya meneliti sekitar 600 masyarakat yang tersebar luas di dunia, bersama dengan jalur mengkorelasikan mata pencaharian bersama dengan organisasi sosial, yang secara tertentu dirinci di dalam pranata-pranata, kekerabatan, pemerintahan, hukum dan keadilan, hak milik, pelapisan sosial, kanibalisme, dan sebagainya. Berdasarkan korelasi-korelasi itu, ketiga pakar itu menggolong-golongkan ke 600 masyarakat itu ke di dalam tujuh tingkat berdasarkan dua macam mata pencaharian yakni masyarakat berburu rendah dan masyarakat berburu tinggi yang dapat berevolusi ke dua arah. Salah satu arah evolusi adalah ke suatu masyarakat bercocok tanam I, masyarakat bercocok tanam II, dan masyarakat bercocok tanam III, sedang arah evolusi ke masyarakat berternak I dan II.

Kemudian penelitian komparatif cross-cultural itu lebih sungguh-sungguh terutama sesudah dijalankan oleh G. P. Murdock (1907-1985). Beliau pernah diminta oleh Angkatan Laut USA untuk memberi info tentang masyarakat dan kebudayaan masyarakat Kepulauan Mikronesia dan sesudah itu Kepulauan Okinawa, yang sesudah mereka rebut, dapat mereka jadikan basis untuk menyerang Jepang. Selain itu sumbangan penelitian Murdock yang paling miliki nilai adalah layaknya yang tercantum di dalam bukunya yang berjudul “World Distribution of Theories of Illenss” th. 1978 dan buku lainnya “Theories of Illens (1980: 50-51). Hasil penelitian bahwa Murdock mendapatkan bahwa ke 186 kebudayaan di di dalam simpelnya yang terbagi di dalam enam tempat geografi, membawa pandangan yang berbeda-beda pada sumber “rasa tidak sehat”. Pada biasanya mereka beranggapan rasa itu ditimbulkan oleh sebab-sebab alamiah (infeksi, stress, jadi tua, dan kecelakaan), sesudah itu sebab-sebab supranatural; layaknya nasib, gejala gaib, sentuhan benda najis, melanggar pantangan, serangan roh jahat, guna-guna dan sihir. Untuk momen rasa tidak sehat yang disebabkan oleh pelanggaran perilaku pantangan, seumpama banyak terjadi pada kebudayaan di selatan Gurun Sahara. Sebaliknya rasa tidak sehat yang disebabkan oleh memakan pantangan-pantangan banyak terjadi di Amerika Selatan. Begitu termasuk rasa tidak sehat yang disebabkan oleh sihir, banyak dikeluhkan oleh masyarakat Eropa Selatan, Afrika Utara, dan Asia Barat Daya. Rasa tidak sehat akibat serangan roh jahat paling banyak dikeluhkan di Kepulauan Pasifik. Akhirnya Murdock termasuk sebabkan korelasi-korelasi, seumpama rasa tidak sehat akibat serangan roh jahat, membawa korelasi yang tinggi bersama dengan mata pencaharian peternakan.

Kemudian terkecuali diamati berasal dari sebagian ilmu yang merupakan bagian di dalam ilmu antropologi menurut Koentjaraningrat (1981: 13) termasuk 5 disiplin ilmu, pada lain: Paleo-antropologi, antropologi fisik, etnolinguistik, prehistori, da etnologi.

Paleo-antropologi, merupakan ilmu tentang asal-usul atau soal terjadinya dan evolusi makhluk manusia bersama dengan mempergunakan bahan penelitian lewat sisa-sisa tubuh yang telah membatu, atau fosil-fosil manusia berasal dari zaman ke zaman yang tersimpan di dalam lapisan bumi dan di dapat bersama dengan bermacam penggalian.

Antropologi fisik, merupakan bagian ilmu antropologi yang mempelajari suatu pengertian tentang peristiwa terjadinya aneka warna makhluk hidup manusia terkecuali dipandang berasal dari sudut ciri-ciri tubuhnya, baik lahir (fenotipik) layaknya warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi badan, dan bentuk tubuh, maupun yang di dalam (genotipik), layaknya golongan darah, dan lain sebagainya. Manusia di muka bumi ini terkandung sebagian golongan berdasarkan persamaan tentang sebagian ciri tubuh. Pengelompokan layaknya itu di dalam ilmu antropologi disebut “ras”.

Etnolinguistik atau antropologi linguistik, adalah suatu ilmu yang bertalian bersama dengan erat bersama dengan ilmu antropologi, bersama dengan bermacam metode pemikiran kebudayaan yang berbentuk daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bhs berasal dari beratus-ratus bhs suku bangsa yang tersebar di bermacam tempat di muka bumi ini. Dari bahan ini telah berkembang ke bermacam macam metode pemikiran kebudayaan, serta bermacam metode untuk menganalisis dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan. Semua bahan dan metode itu sekarang telah terolah termasuk ilmu linguistik umum. Tetapi meskipun demikian ilmu etnolinguistik di bermacam pusat ilmiah di dunia masih senantiasa termasuk erat bertalian bersama dengan ilmu antropologi, apalagi merupakan bagian berasal dari ilmu antropologi.

Prehistori, merupakan ilmu tentang perkembangan dan penyebaran seluruh kebudayaan manusia sejak sebelum saat manusia mengenal postingan atau huruf. Dalam ilmu sejarah, seluruh sementara berasal dari perkembangan kebudayaan umat manusia mulai sementara terjadinya makhluk manusia, yakni sekitar 800.000 th. yang lantas hingga sekarang, dibagi jadi dua bagian, yakni; (1) era sebelum saat mengenal postingan atau huruf, (2) era sesudah manusia mengenal postingan atau huruf. Sub ilmu prehistori ini kerap disebut ilmu arkeologi. Di sini ilmu arkeologi sesungguhnya adalah peristiwa kebudayaan berasal dari zaman prehistori.

Etnologi, merupakan bagian ilmu antropologi tentang azaz-azaz manusia, mempelajari kebudayaan-kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat berasal dari bangsa-bangsa tertentu yang tersebar di muka bumi ini pada era sekarang. Belakangan ini sub ilmu etnologi telah berkembang jadi dua aliran.
Aliran pertama, yang menekankan pada penelitian diakronik disebut descriptive integration.
Aliran kedua, yang menekankan penelitian sinkronik dinamakan penelitian generalizing approach (Koentjaraningrat, 1983: 16).
Sebagai contoh pertalian geologi bersama dengan antropologi, karena geologi mempelajari ciri-ciri lapisan bumi serta perubahan-perubahannya, terutama dibutuhkan oleh sub ilmu paleoantropologi dan prehistori terutama untuk menentukan umur atau umur berasal dari fosil-fosil makhluk primat dan fosil-fosil manusia berasal dari zaman ke zaman. Begitu termasuk tentang umur artefak-artefak dan bekas-bekas budaya yang digali di dalam lapisan bumi itu. Hal ini dapat enteng tertolong oleh pemberian ilmu geologi lewat metode-metode kerjanya.

Peranan ilmu paleontologi di dalam antropologi adalah dapat menambahkan gambaran untuk sebabkan rekonstruksi tentang sistem evolusi bentuk-bentuk makhluk berasal dari dahulu hingga sekarang. Kemudian manfaat ilmu anatomi di dalam antropologi adalah untuk pemaham tentang ciri-ciri berasal dari bermacam kerangka manusia, bermacam bagian tengkorak, dan ciri-ciri bagian tubuh lainnya jadi obyek penelitian ini terutama bagi antropologi fisik.

Peranan ilmu kesegaran masyarakat di dalam antropologi adalah menambahkan pemahaman tentang sikap masyarakat yang ditelitinya tentang kesehatan, tentang sakit, penyembuhan tradisional, pada pantangan-pantangan tradisi dan makanan dan sebagainya. Kemudian manfaat ilmu psikiatri di dalam antropologi merupakan suatu pengulasan berasal dari pertalian pada ilmu antropologi dan psikologi, yang sesudah itu mendapat fungsi praktis sesudah mengetahui tingkah laku manusia bersama dengan segala latar belakang dan proses-proses mentalnya. Begitu pula manfaat ilmu linguistik di dalam antropologi miliki kontribusi besar di dalam mengembangkan konsep-konsep dan metode-metode untuk membahas segala macam bentuk bhs dan asalnya. Demikian termasuk dapat dicapai suatu pengertian tentang ciri-ciri dasar berasal dari tiap bahas di dunia secara cepat dan enteng dipahami (Koentjaraningrat, 1983: 33).

Peranan ilmu peristiwa di dalam antropologi, miliki makna penting di dalam memberi gambaran, latar belakang tentang kehidupan era lantas sebagai mana digambarkan di dalam bermacam peninggalan, seperti; dokumen, prasasti, naskah tradisional, arsip kuno, dan lain sebagainya. Para antropolog perlu peristiwa terutama peristiwa berasal dari suku-suku bangsa yang ditelitinya. Selain itu termasuk untuk memecahkan persoalan-persoalan alkulturasi, difusi yang berbentuk eksternal. Sedangkan manfaat geografi di dalam antropologi adalah menambahkan gambaran tentang bumi serta ciri-ciri iklim dan lingkungan fisik lainnya yang memengaruhi fisik dan kebudayaan masyarakatnya. Lain lagi bersama dengan manfaat ilmu ekonomi di dalam peranannya pada antropologi adalah menambahkan gambaran aktivitas kehidupan ekonominya yang terlampau dipengaruhi sistem kemasyarakatannya, untuk bahan komparatif tentang bermacam hal seumpama sikap kerja pada kekayaan, sistem gotong-royong, tradisi hadapi musim paceklik, dll. Begitu termasuk manfaat ilmu hukum rutinitas bagi antropologi, dapat menambahkan jawaban tentang masalah-masalah hidup yang berbentuk perdata, sosial kontrol, dan pengendalian sosial lainnya yang melukiskan kedisiplinan hidup masyarakat yang ditelitinya. Bagi ilmu politik, peranannya di dalam antropologi adalah untuk mengetahui kekuatan-kekuatan, wewenang, distribusi, serta proses-proses politik di dalam segala macam sistem pemerintahan mereka. teks eksplanasi

Kemudian terkecuali ditelaah berasal dari macam-macam penelitian, di dalam antropologi dikenal sebagian bentuk penelitian seperti;
Penelitian descriptive integration,
Penelitian generalizing approach,
Penelitian komparatif. Untuk penelitian komparatif ini menurut Gopala Sarana (1975) di dalam antropologi terbagi-bagi lagi jadi 4 macam yakni; (a) penelitian komparatif bersama dengan obyek menyusun peristiwa kebudayaan manusia secara inferensial, (b) penelitian komparatif untuk melukiskan suatu sistem perubahan kebudayaan, (c) penelitian komparatif untuk taksonomi kebudayaan dan (d) penelitian komparatif untuk menguji korelasi-korelasi antar unsur, antar pranata, dan antar gejala kebudayaan, manfaat sebabkan generalisasi-generalisasi tentang tingkah laku manusia pada umumnya.

baca juga :