shadow

Pendekatan, Metode, Teknik Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian

Pendekatan, Metode, Teknik Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian

Pendekatan, Metode, Teknik Ilmu Bantu, dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang dipakai di dalam antropologi pakai pendekatan kuantitatif (positivistik) dan kualitatif (naturalistik). Artinya di dalam penelitian antropologi dapat dijalankan lewat pengkajian secara statistik-matematis baik dijalankan untuk mengukur dampak maupun korelasi antar variabel penelitian, maupun dijalankan secara kualitatif-naturalistik.

Selain dikenal pendekatan positivistik dan naturalistik, menurut Kapplan dan Manners (1999: 6) di dalam antropologi termasuk dikenal pendekatan relativistik dan komparatif. Pendekatan relativistik menyaksikan bahwa setiap kebudayaan merupakan konfigurasi unik yang miliki cita rasa khas dan model serta kekuatan tersendiri. Keunikan ini kerap dinyatakan pemberian maupun tanpa pemberian bukti serta tidak banyak usaha membahas atau menjelaskannya. Memang di dalam pengertian tertentu, setiap budaya itu unik, persis sebagaimana uniknya individu, tiap helai rambut, dan tiap atom di alam semesta tidak sama. Akan namun bagaimana kami pernah mengetahuinya terkecuali tidak lebih pernah membandingkan suatu budaya bersama dengan budaya lain? Keberadaan berikut kadarnya bermacam-macam. Andai kata suatu fenomena seluruhnya unik, kami mustahil dapat memahaminya. Karena kami dapat mengetahui suatu fenomen, hanya bersama dengan mengetahui bahwa ia mempunyai kandungan sebagian kemiripan tertentu bersama dengan hal-hal yang telah kami kenal sebelumnya. Di sini kaum relativis tunjukkan bahwa suatu budaya kudu diamati sebagai suatu kebulatan tunggal, dan hanya sebagai “dirinya sendiri”.

Sedangkan kaum komparativis berpendapat bahwa suatu institusi, proses, kompleks atau ihwal suatu hal hal, haruslah terutama dahulu dicopot berasal dari matriks budaya yang lebih besar bersama dengan langkah tertentu sehingga dapat dibandingkan bersama dengan institusi, proses, kompleks, atau ikhwal-ikhwal di dalam konteks sosiokultural lain. Adanya relativitas yang ekstrem, berangkat berasal dari anggapan-anggapan bahwa ga ada dua budaya pun yang sama; bahwa pola, tatanan dan makna dapat “dipaksakan” terkecuali elemen-elemen diabstrasikan demi perbandingan. Oleh karenanya pembandingan bagian-bagian yang telah diabstrasikan berasal dari suatu keutuhan, tidaklah dapat dipertahankan secara analitis.

Namun karena pemahaman tentang ketidaksamaan itu bersumber berasal dari perbandingan, maka tidak dapat kami katakan bahwa pendekatan relativistik itu tidak miliki titik temu bersama dengan pendekatan komparatif. Tik temu ke dua berikut terdapat pada pasal tidak diijinkannya “pemaksaan”. Terutama soal-soal yang berkenaan bersama dengan ideologi, minat dan tekanan yang menimbulkan keragaman pendekatan metodologis itu. Sebab komparatif dan relativis sama-sama mengetahui bahwa tidak ada dua budaya pun yang sama persis. Sungguh pun demikian, mereka tidak serupa satu sama lain. Perbedaan berikut paling tidak du hal penting; (1) meskipun para komparativis mengakui bahwa seluruh bagian suatu budaya niscaya ada unsur perbedaannya, namun mereka percaa dan menekankan pada unsur persamaannya, yang saling kait-mengait secara fungsional; (2) sebaliknya kaum relativis terlampau menekankan masalah-masalah perbedaan dibandingkan komparativis (Kapplan dan Manners, 1999: 6-8).

Adapun metode penelitiannya dapat digunakan metode-metode penelitian
Deskriptif
Komparasi
Studi kasus
Etnografis
Survey
Dari sini penulis dapat memfokuskan metode penelitian komparatif secara rinci, karena merupakan ciri khas di dalam penelitian antropologi. Metode komparatif antropologi adalah metode penelitian yang mencabut unsur-unsur kebudayaan berasal dari konteks masyarakat yang hidup untuk satuan bandingannya bersama dengan sebanyak barangkali unsur-unsur dan aspek suatu kebudayaan. Dalam pemanfaatan metode ini didefinisikan persamaan-persamaan dan perbedaannya secara mendalam. Menurut Gopala sarana (1975) di dalam ilmu antropologi sedikitnya ada empat macam penelitian komparatif, yakni;
Penelitian komparatif di dalam obyek menyusun peristiwa kebudayaan manusia secara inferensial,
Penelitian komparatif untuk melukiskan suatu sistem perubahan kebudayaan,
Penelitian komparatif untuk taxonomi kebudayaan, dan
Penelitian komparatif untuk menguji korelasi-korelasi antar unsur, antar pranata, dan gejala kebudayaan manfaat sebabkan generalisasi-generalisasi tentang tingkah laku manusia pada umumnya.
Untuk penelitian komparatif model pertama ini banyak dijalankan oleh tokoh-tokoh seperti; Herbert Spencer, J. J. Bachoven, G. A. Wilken, L. H. Morgan, E. B. Tylor, J. G. Frazer, F. F. Graebner, dan W. Schmidt, dll. Dalam penelitian komparatif bersama dengan obyek menyusun peristiwa kebudayaan secara inferensial itu kudu diperhatikan hal-hal yang jadi satuan banding bagi para pakar antropologi. Dengan pakai kerangka kebudayaan, kami dapat sebabkan penggolongan atas hal-hal itu (Koentjaraningrat, 1990: 4). Kerangka kebudayaan itu merupakan kembinasi berasal dari ketiga bentuk kebudayaan dan ketujuh unsur kebudayaan universal yang disusun di dalam suatu bagan lingkaran atau matriks.

Penelitian komparatif model ke dua (proses perubahan kebudayaan) pada dasarnya terbagi atas dua bagian, yakni metode komparatif diakronik dan sinkronik. Pengertian metode komparatif diakronik di lapangan terjadi seumpama seseorang peneliti menyatukan information etnografi di dalam suatu komunitas pada sementara tertentu, dan diulang sebagian th. sesudah itu pada kunitas yang sama. Perbandingan situasi kebudayaan di dalam komunitas berkaitan pada sementara yang tidak serupa itu dapat memberi gambaran kepadanya tentang sistem perubahan kebudayaan yang terjadi di dalam sementara pada pengumpulan information yang pertama dan yang kedua. Sedangkan metode komparatif sinkronik, seumpama seseorang peneliti menyatukan information etnografi di dalam dua komunitas bersama dengan latar belakang kebudayaan etnik yang sama, namun komunitas yang satu keadaanya relatif terisolasi dan tertutup, sedang komunitas lainnya keadaannya lebih terbuka atau orbiditas. Kedua penelitian ini dijalankan di dalam sementara yang sama atau tanpa interval sementara yang lama (Koentjaraningrat, 1995: 4).

Berbeda bersama dengan penelitian komparatif untuk taxonomi kebudayaan, maka hampir seluruh pakar antropologi yang menganut konsepsi evolusi kebudayaan, pada hakikatnya termasuk melakukan taxonomi atau klasifikasi. Mengapa begitu, karena beragamnya kebudayaan di dunia ini sesudah itu mereka klasifikasikan ke di dalam golongan-golongan yang mereka sebut tingkat-tingkat evolusi. Tingkat-tingkat evolusi itu selanjutnya mereka susun menurut suatu hal langkah tata urut kronologi, bersama dengan memasang kebudayaan yang tampaknya paling primitif di dalam zaman sesudah itu, dan kelanjutannya kebudayaan yang tampaknya paling maju dan tinggi dikelompokkan di zaman yang paling muda (Koentjaraningrat, 1995: 10).

Berbeda bersama dengan penelitian komparatif untuk menguji korelasi dan memantapkan generalisasi. Penelitian ini secara umum terbagi dua kelompok, yakni;
Penelitian komparatif model E. B. Tylor,
Penelitian komparatif Cross-cultural.
Penelitian komparatif model E. B. Tylor, pada hakikatnya untuk menguji korelasi-korelasi pada unsur-unsur kebudayaan, yang sesudah itu digunakan untuk memantapkan generalisasi-generalisas di dalam kaitannya bersama dengan korelasi unsur-unsur itu. Sejak zaman E. B. Tylor perintis antropologi ini telah pakai metode itu terutama untuk memantapkan konsepsinya tentang sistem evolusi berasal dari tingkat masyarakat yang matriarchate ke tingkat masyarakat patriarchate. Caranya bersama dengan menghitung jumlah korelasi atau “adhesions” yang ada pada ada istiadat caude bersama dengan awal berasal dari sistem evolusi itu di dalam 300 masyarakat yang tersebar luas di dunia (Koentjaraningrat, 1983: 51-52).

Sedangkan penelitian komparatif cross-cultural, terutama di AS contohnya apa yang dijalankan oleh antropolog L. T. Hobhouse, G. C. Wheller, M. Ginsberg. Tiga peneliti antropologi itu di dalam risetnya meneliti sekitar 600 masyarakat yang tersebar luas di dunia, bersama dengan jalur mengkorelasikan mata pencaharian bersama dengan organisasi sosial, yang secara tertentu dirinci di dalam pranata-pranata, kekerabatan, pemerintahan, hukum dan keadilan, hak milik, pelapisan sosial, kanibalisme, dan sebagainya. Berdasarkan korelasi-korelasi itu, ketiga pakar itu menggolong-golongkan ke 600 masyarakat itu ke di dalam tujuh tingkat berdasarkan dua macam mata pencaharian yakni masyarakat berburu rendah dan masyarakat berburu tinggi yang dapat berevolusi ke dua arah. Salah satu arah evolusi adalah ke suatu masyarakat bercocok tanam I, masyarakat bercocok tanam II, dan masyarakat bercocok tanam III, sedang arah evolusi ke masyarakat berternak I dan II.

Kemudian penelitian komparatif cross-cultural itu lebih sungguh-sungguh terutama sesudah dijalankan oleh G. P. Murdock (1907-1985). Beliau pernah diminta oleh Angkatan Laut USA untuk memberi info tentang masyarakat dan kebudayaan masyarakat Kepulauan Mikronesia dan sesudah itu Kepulauan Okinawa, yang sesudah mereka rebut, dapat mereka jadikan basis untuk menyerang Jepang. Selain itu sumbangan penelitian Murdock yang paling miliki nilai adalah layaknya yang tercantum di dalam bukunya yang berjudul “World Distribution of Theories of Illenss” th. 1978 dan buku lainnya “Theories of Illens (1980: 50-51). Hasil penelitian bahwa Murdock mendapatkan bahwa ke 186 kebudayaan di di dalam simpelnya yang terbagi di dalam enam tempat geografi, membawa pandangan yang berbeda-beda pada sumber “rasa tidak sehat”. Pada biasanya mereka beranggapan rasa itu ditimbulkan oleh sebab-sebab alamiah (infeksi, stress, jadi tua, dan kecelakaan), sesudah itu sebab-sebab supranatural; layaknya nasib, gejala gaib, sentuhan benda najis, melanggar pantangan, serangan roh jahat, guna-guna dan sihir. Untuk momen rasa tidak sehat yang disebabkan oleh pelanggaran perilaku pantangan, seumpama banyak terjadi pada kebudayaan di selatan Gurun Sahara. Sebaliknya rasa tidak sehat yang disebabkan oleh memakan pantangan-pantangan banyak terjadi di Amerika Selatan. Begitu termasuk rasa tidak sehat yang disebabkan oleh sihir, banyak dikeluhkan oleh masyarakat Eropa Selatan, Afrika Utara, dan Asia Barat Daya. Rasa tidak sehat akibat serangan roh jahat paling banyak dikeluhkan di Kepulauan Pasifik. Akhirnya Murdock termasuk sebabkan korelasi-korelasi, seumpama rasa tidak sehat akibat serangan roh jahat, membawa korelasi yang tinggi bersama dengan mata pencaharian peternakan.

Kemudian terkecuali diamati berasal dari sebagian ilmu yang merupakan bagian di dalam ilmu antropologi menurut Koentjaraningrat (1981: 13) termasuk 5 disiplin ilmu, pada lain: Paleo-antropologi, antropologi fisik, etnolinguistik, prehistori, da etnologi.

Paleo-antropologi, merupakan ilmu tentang asal-usul atau soal terjadinya dan evolusi makhluk manusia bersama dengan mempergunakan bahan penelitian lewat sisa-sisa tubuh yang telah membatu, atau fosil-fosil manusia berasal dari zaman ke zaman yang tersimpan di dalam lapisan bumi dan di dapat bersama dengan bermacam penggalian.

Antropologi fisik, merupakan bagian ilmu antropologi yang mempelajari suatu pengertian tentang peristiwa terjadinya aneka warna makhluk hidup manusia terkecuali dipandang berasal dari sudut ciri-ciri tubuhnya, baik lahir (fenotipik) layaknya warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi badan, dan bentuk tubuh, maupun yang di dalam (genotipik), layaknya golongan darah, dan lain sebagainya. Manusia di muka bumi ini terkandung sebagian golongan berdasarkan persamaan tentang sebagian ciri tubuh. Pengelompokan layaknya itu di dalam ilmu antropologi disebut “ras”.

Etnolinguistik atau antropologi linguistik, adalah suatu ilmu yang bertalian bersama dengan erat bersama dengan ilmu antropologi, bersama dengan bermacam metode pemikiran kebudayaan yang berbentuk daftar kata-kata, pelukisan tentang ciri dan tata bhs berasal dari beratus-ratus bhs suku bangsa yang tersebar di bermacam tempat di muka bumi ini. Dari bahan ini telah berkembang ke bermacam macam metode pemikiran kebudayaan, serta bermacam metode untuk menganalisis dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan. Semua bahan dan metode itu sekarang telah terolah termasuk ilmu linguistik umum. Tetapi meskipun demikian ilmu etnolinguistik di bermacam pusat ilmiah di dunia masih senantiasa termasuk erat bertalian bersama dengan ilmu antropologi, apalagi merupakan bagian berasal dari ilmu antropologi.

Prehistori, merupakan ilmu tentang perkembangan dan penyebaran seluruh kebudayaan manusia sejak sebelum saat manusia mengenal postingan atau huruf. Dalam ilmu sejarah, seluruh sementara berasal dari perkembangan kebudayaan umat manusia mulai sementara terjadinya makhluk manusia, yakni sekitar 800.000 th. yang lantas hingga sekarang, dibagi jadi dua bagian, yakni; (1) era sebelum saat mengenal postingan atau huruf, (2) era sesudah manusia mengenal postingan atau huruf. Sub ilmu prehistori ini kerap disebut ilmu arkeologi. Di sini ilmu arkeologi sesungguhnya adalah peristiwa kebudayaan berasal dari zaman prehistori.

Etnologi, merupakan bagian ilmu antropologi tentang azaz-azaz manusia, mempelajari kebudayaan-kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat berasal dari bangsa-bangsa tertentu yang tersebar di muka bumi ini pada era sekarang. Belakangan ini sub ilmu etnologi telah berkembang jadi dua aliran.
Aliran pertama, yang menekankan pada penelitian diakronik disebut descriptive integration.
Aliran kedua, yang menekankan penelitian sinkronik dinamakan penelitian generalizing approach (Koentjaraningrat, 1983: 16).
Sebagai contoh pertalian geologi bersama dengan antropologi, karena geologi mempelajari ciri-ciri lapisan bumi serta perubahan-perubahannya, terutama dibutuhkan oleh sub ilmu paleoantropologi dan prehistori terutama untuk menentukan umur atau umur berasal dari fosil-fosil makhluk primat dan fosil-fosil manusia berasal dari zaman ke zaman. Begitu termasuk tentang umur artefak-artefak dan bekas-bekas budaya yang digali di dalam lapisan bumi itu. Hal ini dapat enteng tertolong oleh pemberian ilmu geologi lewat metode-metode kerjanya.

Peranan ilmu paleontologi di dalam antropologi adalah dapat menambahkan gambaran untuk sebabkan rekonstruksi tentang sistem evolusi bentuk-bentuk makhluk berasal dari dahulu hingga sekarang. Kemudian manfaat ilmu anatomi di dalam antropologi adalah untuk pemaham tentang ciri-ciri berasal dari bermacam kerangka manusia, bermacam bagian tengkorak, dan ciri-ciri bagian tubuh lainnya jadi obyek penelitian ini terutama bagi antropologi fisik.

Peranan ilmu kesegaran masyarakat di dalam antropologi adalah menambahkan pemahaman tentang sikap masyarakat yang ditelitinya tentang kesehatan, tentang sakit, penyembuhan tradisional, pada pantangan-pantangan tradisi dan makanan dan sebagainya. Kemudian manfaat ilmu psikiatri di dalam antropologi merupakan suatu pengulasan berasal dari pertalian pada ilmu antropologi dan psikologi, yang sesudah itu mendapat fungsi praktis sesudah mengetahui tingkah laku manusia bersama dengan segala latar belakang dan proses-proses mentalnya. Begitu pula manfaat ilmu linguistik di dalam antropologi miliki kontribusi besar di dalam mengembangkan konsep-konsep dan metode-metode untuk membahas segala macam bentuk bhs dan asalnya. Demikian termasuk dapat dicapai suatu pengertian tentang ciri-ciri dasar berasal dari tiap bahas di dunia secara cepat dan enteng dipahami (Koentjaraningrat, 1983: 33).

Peranan ilmu peristiwa di dalam antropologi, miliki makna penting di dalam memberi gambaran, latar belakang tentang kehidupan era lantas sebagai mana digambarkan di dalam bermacam peninggalan, seperti; dokumen, prasasti, naskah tradisional, arsip kuno, dan lain sebagainya. Para antropolog perlu peristiwa terutama peristiwa berasal dari suku-suku bangsa yang ditelitinya. Selain itu termasuk untuk memecahkan persoalan-persoalan alkulturasi, difusi yang berbentuk eksternal. Sedangkan manfaat geografi di dalam antropologi adalah menambahkan gambaran tentang bumi serta ciri-ciri iklim dan lingkungan fisik lainnya yang memengaruhi fisik dan kebudayaan masyarakatnya. Lain lagi bersama dengan manfaat ilmu ekonomi di dalam peranannya pada antropologi adalah menambahkan gambaran aktivitas kehidupan ekonominya yang terlampau dipengaruhi sistem kemasyarakatannya, untuk bahan komparatif tentang bermacam hal seumpama sikap kerja pada kekayaan, sistem gotong-royong, tradisi hadapi musim paceklik, dll. Begitu termasuk manfaat ilmu hukum rutinitas bagi antropologi, dapat menambahkan jawaban tentang masalah-masalah hidup yang berbentuk perdata, sosial kontrol, dan pengendalian sosial lainnya yang melukiskan kedisiplinan hidup masyarakat yang ditelitinya. Bagi ilmu politik, peranannya di dalam antropologi adalah untuk mengetahui kekuatan-kekuatan, wewenang, distribusi, serta proses-proses politik di dalam segala macam sistem pemerintahan mereka. teks eksplanasi

Kemudian terkecuali ditelaah berasal dari macam-macam penelitian, di dalam antropologi dikenal sebagian bentuk penelitian seperti;
Penelitian descriptive integration,
Penelitian generalizing approach,
Penelitian komparatif. Untuk penelitian komparatif ini menurut Gopala Sarana (1975) di dalam antropologi terbagi-bagi lagi jadi 4 macam yakni; (a) penelitian komparatif bersama dengan obyek menyusun peristiwa kebudayaan manusia secara inferensial, (b) penelitian komparatif untuk melukiskan suatu sistem perubahan kebudayaan, (c) penelitian komparatif untuk taksonomi kebudayaan dan (d) penelitian komparatif untuk menguji korelasi-korelasi antar unsur, antar pranata, dan antar gejala kebudayaan, manfaat sebabkan generalisasi-generalisasi tentang tingkah laku manusia pada umumnya.

baca juga :

Ringkasan Sejarah Politik Bali

Ringkasan Sejarah Politik Bali

Ringkasan Sejarah Politik Bali
Di Balik perdamaian & ketertiban yang nampak tahu terhadap zaman kolonial tahun 1908-1945, kebijakan Belanda memperburuk ketegangan sosial dan ekonomi lama dan juga membangkitkan ketegangan baru. kemudian terhadap masa Rezim kolonial, dibikin risau oleh bangkitnya komunisme & nasionalisme terhadap dekade 1920-an, yang melancarkan kebijakan untuk memulihkan rutinitas Bali.

Proyek selanjutnya menuntut pemulihan kembali rutinitas praktik kultural, religius, dan hukum yang tradisional. selain itu termasuk menghendaki dipulihkannya keluarga-keluarga penguasa lama, yang para bagian terkemukannya, yang pernah diakui lalim oleh Belanda & dikirim ke pengasingan, kemudian kini dipandang sebagai penjamin perlu berasal dari tatanan tradisional yang harmonis.

Sruktur negara kolonial, terutama kekuatannya yang dahsyat & sistem pemerintahan yang tak langsung berguna sebagai pembatas barangkali terdapatnya oposisi politik terbuka. Sebenarnya hal itu mendorong konflik politik & sosial di kalangan orang Bali, yakni terutama di selama silsilah kasta & kelas dan juga di kalangan puri & tidak membangkitkan solidaritas melawan negara Belanda.

Sebagai perumpamaan terhadap tahun 1920-an, Bali mengalami suatu debat publik yang panas tentang hak-hak istimewa kasta, di mana kaum jelata (sudra) yang terdidik berhadapan bersama dengan para wakil konservatif berasal dari 3 kasta tertinggi (triwangsa). Meskipun pembicaraan itu dipangkas oleh Belanda, tetapi ketegangan kasta berlanjut dibawah permukaan & merebak kembali selama Revolusi Nasional & terhadap masa pasca kemerdekaan.

Dinamika sama sangat tahu ada diranah ekonomi. Bahkan sebelum akan Depresi memuncakkan masalah ekonomi, orang Bali udah menderita ditindih salah satu beban pajak terberat di Hindia Belanda, & tetap termasuk dituntut jalankan kerja rodi kebanyakan 25 hari per tahun untuk pemerintahan/para agen pribuminya. Di kala efek berasal dari Depresi jadi terasakan seutuhnya terhadap kurang lebih tahun 1932, kemelaratan, kelaparan dan tuna-tanah jadi akut. Sebab, para pejabat Bali dibandingkan bersama dengan para pejabat Belanda, bertanggung jawab atas sistem pajak & penghisapan rodi di tingkat lokal, maka kejengkelan & kemarahan termasuk cenderung tertuju kepada para pejabat Bali ketimbang negara Kolonial Belanda.

Kemudian kala keruntuhan rezim kolonial Belanda & pemberlakuan administrasi militer Jepang yang sama kuatnya terhadap Maret 1942 menandai dimulainya masa perubahan yang mendalam terhadap politik Bali. Dengan dilanjutkannya pemerintahan tak langsung oleh Jepang, digabungkan bersama dengan sistem penghisapan kekayaan yang kian kejam, memuncakkan konflik yang ada di kalangan orang Bali, udah mengakibatkan konflik baru, & kala kekuasaan dahsyat negara Jepang, sebagaimana negara Belanda sebelumnya, yang menghambat pertentangan/konflik politik terbuka, banyak variasi upayanya didalam memobilisasi masyarakat Bali untuk keperluan perang berikan pengalaman yang tak pernah didapat pada mulanya bagi banyak pemuda Bali didalam organisasi politik & militer.

Upaya itu termasuk menimbulkan perubahan perlu didalam hal wacana politik di Bali. Signifikansi politis berasal dari pertumbuhan ini jadi tahu bersama dengan runtuhnya kekuasaan negara Jepang & proklamsi kemerdekaan Indonesia oleh pemimpin kaum Republikan, Soekarno terhadap Agustus 1945. Orang Bali langsung jadi bergerak secara politis & militer demi membela & menentang Republik Indonesia yang baru dideklarasikan & melunaskan dendam bersama dengan lama terhadap para tersangka kolaborator. Penundaan selama lebih berasal dari 6 bulan sebelum akan tentara Belanda tiba di Bali untuk mengantikan administrasi Jepang berikan kesempatan yang unik bagi berlanjutnya mobilisasi & konflik politik di kalangan orang Bali. Kesempatan ini nyaris seutuhnya diciptakan oleh pertentangan antara administrasi militer Inggris di Jawa, yang tidak mendambakan jadi sangat meluas di Hindia Belanda & otoritas militer & sipil Belanda yang mencari barangkali untuk secepatnya bercokol kembali di Bali.

Kesempatan yang tercipta oleh runtuhnya kekuasaan negara sentral mengimbuhkan banyak variasi hasil di beragam bagian Bali yang berbeda. Perbedaan lokal didalam struktur kelas, akses terhadap pendidikan, hubungan rural produksi, & pola persaingan di kalangan puri merubah distribusi pertolongan sosial & geografis untuk republikanisme Indonesia terhadap 1945-1946.

Wilayah basis utama pertolongan kaum Republikan adalah kerajaan sentral Buleleng, Badung, Tabanan, & untuk beberapa lama feodal relatif lemah. Kerajaan Timur Karangasem, Bangli, Gianyar, & Klungkung, di mana puri yang berku’asa selalu kuat, membentuk tulang punggung antirepublikanisme.

Dalam hasratnya untuk kembali ke Hindia, para ahli strategi Belanda gagal memperkirakan perubahan yang dialami Bali semenjak 1942. Masih yakin bahwa Bali “tidak berminat didalam politik”, & bahwa masyarakatnya “tertata rapi” & hamonis, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada,/ cuma sedikit, perlawanan terhadap pemberlakuan kembali pemerintahan Belanda terhadap tahun 1946. Ternyata mereka keliru, di kala mendarat di Pantai Sanur terhadap Maret 1946, pasukan Belanda memasuki pulau yang udah terpecah di antara para pendukung & penentang kemerdekaan Indonesia. Perlawanan militer yang sengit oleh tentara Republik di Bali berjalan hingga 1948, & setelah perlawanan itu, perjuangan politik tetap berlanjut. Merespon sikap perlawanan tersebut, para ahli strategi Belanda jadi Mengenakan orang Bali yang “bermaksud baik” & para pemimpin feodal mereka untuk memata-matai, melaporkan, & membunuh kaum Republikan, yang mereka tuding sebagai “teroris”.

Dengan demikian itu, strategi Belanda mendorong permusuan & bentrokan terbuka di kalangan orang Bali. Menjelang akhir 1949, kurang lebih 2000 orang Bali tewas, kurang lebih sejumlah 700 orang di pihak Belanda yang berperkara, dibandingkaan cuma segelintir serdadu Belanda. Perkembangn politik eksternal tetap merubah konflik lokal selama masa revolusi. Kemudian, setelah tahun 1946, beberapa negara Republik, kolonial Belanda, & Negara Indonesia Timur (NIT) yang disetir Belanda bersaing memperebutkan kekuasaan tertinggi di Bali.

Perlu diketahui bahwa orang Bali tidak berpaling secara seragam kepada salah satu berasal dari pusat-pusat politis itu, tetapi kepada seutuhnya bersama dengan kadar berbeda-beda & terhadap kala yang berlainan. Pengarahan & rangsangan yang merebak berasal dari pusat-pusat yang bergeser itu menunjang membentuk strategi politik & militer beragam group yang berbeda di Bali, kerap kali bersama dengan cara yang sangat terperinci. Pentingnya lagi, mereka bersinggungan dengan, & memperkuat, ketegangan yang udah ada.

Menjelang tahun 1949 berjalan perselisihan hebat antara orang Bali yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia & mereka yang bekerjasama bersama dengan Belanda, & negara bonekanya, NIT. Perselisihan politik ini termasuk mempunyai dimensi kultural yang kuat. Kaum Republikan bicara tentang perlunya menghapuskan hak-hak istimewa “feodal” & kasta, kala lawannya bicara soal perlunya melestarikan “tradisi” & kebudayaan Bali. Dinamika politik nasional & internasional termasuk menunjang mengaksentuasikan keterbelahan di didalam kubu kaum Republikan. Yang terutama perlu adalah keretakan antara badan utama para pejuang kemerdekaan yang turun gunug, terhadap awal 1948, sebelah ditandatanganinya persetujuan gencatan senjata antara Belanda & Republik (Perjanjian Renville), & mereka yang meneruskan perjuangan bersenjata hingga bulan Januari 1950.

Tercapainya kemerdekaan Indonesia terhadap akhir 1949 tidak mengakhiri konflik politik di kalangan orang Bali. Sebaliknya perselisihan antara kaum kolaborator (tulen/tersangka) & kaum Republikan,serta keterbelahan di didalam kubu kaum politik Republikan itu sendiri, tetap dilukiskan melalui kekerasan politik terbuka & perjuangan yang belarut-larut untuk mengontrol aparatus negara lokal. Meskipun demikian riasan sosial & politik para protagonisnya berubah selama lima belas tahun berikutnya, perjuangannya terhadap hakikatnya selalu tidak kunjung selesai.

Di tahun 1965 menjelang kudeta Oktober, pelbagai golongan yang bertentangan secara diametral didalam politik, ekonomi, & keperluan kelas mengontrol elemen-elemen aparatus negara yang berbeda, seperti militer, polisi, birokrasi, & eksekutif. Kudeta ini menyediakan dalih & kesempatan bagi konsolidasi kekuasaan politik satu golongan, dipimpin PNI, atas tanggungan golongan lain, PKI & sekutunya.

Dari tahun 1950-1965, konflik politik ditransformasikan oleh kondisi ekonomi yang memburuk bersama dengan serius, kebijakan ekonomi pemerintahan, & perubahan serentak terhadap struktur kelas Bali, Implementasi agresif perombakan penguasaan tanah di Bali, dipimpin PKI & organisasi pertaninya, dan juga dibantu oleh elemen-elemen kunci didalam negara lokal ikut menaikkan polarisasi politik di selama silsilah kelas setelah 1963.

Perjuangan demi tanah buat persiapan panggung bagi reaksi hebat & keras oleh para tuan tanah & sekutunya didalam PNI setelah kudeta & kudeta balik antikomunis Oktober 1965. Konflik politik di kalangan orang Bali kian diperkuat oleh ketergantungan finansial negara lokal terhadap pusat, & oleh bangkitnya kaum borjuis Bali baru bersama dengan ikatan erat terhadap negara lokal. Tidak mempunyai otonomi finansial apa pun yang signifikan, negara lokal tidak membawa sarana maupun motivasi untuk menunjang pemberontakan tempat melawan pusat terhadap akhir dekade 1950-an. Sebaliknya, negara lokal pun melakukan tindakan melakukan tindakan selaku pengedar lokal patronase, bersama dengan kaum kaum borjuis pribumi sebagai pemetik keuntungan utamanya. Sistem itu membangkitkan dugaan tentang bias & kronisme politik & menghambat dinamika konflik politik lokal.

Di kala negara lokal makin lama bergeser ke kiri terhadap dekade 1960-an, bersama dengan Gubernur Suteja yang Sukarnois selaku pemimpin, banyak pihak yang jadi tersisihkan berasal dari alur patronase berbondong-bondong menunjang PNI, sehingga memperkencang reaksi politik melawan PKI & Suteja setelah Oktober 1965. Kelemahan & ketiadaan otonomi aparatus negara lokal berarti bahwa rangsangan politis yang singgah berasal dari pusat cenderung memperkuat & mentranspormasikan perselisihan politik di Bali, terutama pentingnya didalam proses. Proses yang dimaksud adalah partai-partai politik tingkat nasional & sistem persaingan & mobilisasi politik di bawah sistem Demokrasi Terpimpin Sukarno setelah tahun 1949.

Menjelang awal dekade 1960-an, perjuangan demi kekuasaan negara lokal di Bali terekspresikan melalui meningkatnya pengerahan massa siap tempur & konfrontasi antara para pendukung PNI & PKI. Dengan begitu, ribuan rakyat awam jadi berbagi ikatan solidaritas yang kuat bersama dengan para bagian lain didalam organisasi politiknya, & antagonisme yang mendalam terhadap mereka yang berada di kubu lawan.

Bersama kondisi ekonomi yang memburuk bersama dengan serius, gugusan bencana alam & wabah hingga terhadap awal dekade 1960-an mengakibatkan spekulasi bahwa Bali sedang mengalami ketidakseimbangan kosmis. Letusan Gunung Agung terhadap 1963 di sedang berlangsungnya upacara agama yang jelimet untuk memulihkan keseimbangan itu, dicermati sebagai alamat malapetaka yang lebih besar. Bertepatannya momen selanjutnya bersama dengan bangkitnya militansi PKI & terutama bersama dengan kampanye perombaka penguasaan tanahnya yang agrasif, menimbulkan dugaan bahwa PKI, entah bagaiman bertanggungjawab atas ketidakseimbangan itu. Usulan semacam itu bersama dengan tahu ditiupkan oleh PNI, & pihak-pihak lain yang, dikarenakan alasan, jadi terancam oleh/antagonistik terhadap, PKI.

Menggemakan tuduhan Belanda & kaum konservatif Bali terhadap Republikan selama Revolusi, mereka mencap PKI-Bali sebagai antireligius & musuh kebudayaan Bali. Tuduhan ini nyatanya tidak terelakan & mengaksentuasikan intensitas konflik terhadap dekade 1960-an & menyediakan motivasi & dalih yang ampuh untuk penghukuman keras setelah kudeta 1965. Yang termasuk penting adalah posisi militer di Bali yang relatif lemah. Tidak seperti unit-unit di tempat lain di Indonesia, yang meraih hak atas lahan tanah yang luas & aset lainnya bersama dengan nasionalisasi perusahaan asing terhadap akhir dekade 1950-an, militer di Bali tidak mempunyai basis ekonomi yang kuat & mandiri. Akibatnya, militer di Bali cenderung, bergerak secara oportunistik sejalan arus politik haluan kiri di Bali. Tetapi, dikala arus itu berbalik bersama dengan telak terhadap akhir tahun 1965, militer di Bali cepat membuat perubahan haluannya. Meskipun sejumlah perwira ditangkap & diadili dikarenakan disangka menunjang PKI & kudetanya, beberapa besar lolos bersama dengan jadi ujung tombak didalam serangan terhadap para tersangka komunis. Hingga Oktober 1965, konflik politik yang sengit hingga batas spesifik ditampung oleh akses yang setara di kedua belah pihak terhadap lembaga-lembaga negara kunci di tingkat lokal.

Tetapi bersama dengan kudeta, keseimbangan yang rapuh itu pecah, & terbukalah jalur bagi penghukuman keras oleh PNI & pengikutnya, bersama dengan pertolongan hangat berasal dari militer nasional & lokal. Bagi yang tidak akrab bersama dengan wacana peristiwa & politik Bali modern. pengamatan tentang pentingnya daya-daya ekonomi negara, hubungan kelas, partai politi & militer didalam membentuk peristiwa Bali barangkali nampak tidak luar biasa, lebih-lebih biasa-biasa saja. sesungguhnya, jikalau pengamatan itu dibikin didalam hubungannya bersama dengan masyarakat lain bersama dengan peristiwa yang sama-sama enteng berubah & berdarahnya, boleh jadi sesungguhnya demikian. Tetapi mengajukan klaim/interpretasi semacam itu tentang peristiwa Bali adalah berjalan melawan arus kuat opini ilmiah & populer.

Demikianlah ulasan tentang Sejarah Politik Bali, yang terhadap kesempatan yang baik ini dapat dibahas disini. Semoga kamu dapat bersama dengan enteng tahu ulasan di atas. Kiranya lumayan sekian, tidak cukup lebihnya mohon maaf, & hingga jumpa.

Baca Juga :

UIN RIL Lahirkan Dua Doktor Baru

UIN RIL Lahirkan Dua Doktor Baru

UIN RIL Lahirkan Dua Doktor Baru

UIN RIL Lahirkan Dua Doktor Baru
UIN RIL Lahirkan Dua Doktor Baru

Membanggakan bagi civitas akademika Univesitas Islam Negeri (UIN)

Raden Intan Lampung (RIL). Dua dosen IAIN Bengkulu meraih gelar doktornya di UIN yang baru saja bermetamorfosis dari IAIN Raden Intan menjadi UIN RIL.

Alhamdullillah, ini semua berkat dukungan semua. Sehingga IAIN Radin Intan diberi kepercayaan menjadi UIN RIL. Dan dua doktor baru yang diluluskan UIN RIL, merupakan salah satu syarat untuk bisa bermetamorfosis. Mudah-mudahan IAIN Bengkulu mengikuti jejak UIN RIL,”ujar Prof Dr Moh Mukri. M.Ag (19/3)

Dua doktor baru yang diluluskan berasal dari Prodi Hukum Keluarga

Program Pascasarjana (PPs) S3 UIN Raden Intan Lampung. Kedua promovendus menjalani sidang promosi doktor terbuka di ruang sidang PPs.

Doktor baru ini atas nama Nurul Hak dan Zurifah Nurdin mahasiswa angkatan tahun 2013.

Nurul Hak lulus dengan disertasi berjudul ‘Kedudukan dan Hak Anak Luar Nikah

Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 tentang Status Anak Luar Nikah (Studi Persepsi Hakim Pengadilan Agama se Wilayah Bengkulu).

 

Baca Juga :

Ujian SBMPTN Sub Panlok Bandung Diikuti 51.961 Peserta

Ujian SBMPTN Sub Panlok Bandung Diikuti 51.961 Peserta

Ujian SBMPTN Sub Panlok Bandung Diikuti 51.961 Peserta

Ujian SBMPTN Sub Panlok Bandung Diikuti 51.961 Peserta
Ujian SBMPTN Sub Panlok Bandung Diikuti 51.961 Peserta

Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) untuk Panitia Loka

l (Panlok) 34 Bandung akan diikuti oleh 51.961 peserta dari Sub Panlok Bandung dan Tasikmalaya.

SBMPTN merupakan agenda tahunan yang rutin dilakukan. Tahun sekarang melebihi target yang ditentukan yaitu 39.600 pendaftar,” ujar ketua Panlok 34 Bandung Arry Bayrus di Gedung Labtek V ITB, Bandung, Selasa, (16/05).

Dikatakan Arry, untuk peserta USBMPTN terbagi ke dalam dua bagian, yakni ujian PBT

(Paper Base Test) SBMPTN di ikuti 49.506 peserta, serta ujian CBT (Computer Base Test) SBMPTN ada 2.455 peserta.

Kemudian, untuk peserta yang memerlukan fasilitas khusus di Sub Panlok Bandung ada 16 orang. Sedangkan, sambung Arry, untuk yang di Sub Panlok Tasikmalaya 2 orang.

“Walaupun yang mendaftar untuk diberi fasilitas khusus ada 16 orang, hanya 13 orang

yang telah melapor, begitu juga dengan Tasikmalaya,” terangnya.

Untuk peserta yang memerlukan fasilitas khusus, ujian mereka akan di pusatkan di Gedung Labtek VII Fakultas Farmasi Bandung. Serta didampingi oleh pengawas yang berkompten di Bidangnya.

“Seluruh peserta diharapkan tepat waktu, dan maksimal keterlambatan 30 menit, apabila masih telat maka dinyatakan tidak bisa mengikuti ujian SBMPTN,” tandasnya.

 

Sumber :

https://seotornado.net/faktor-faktor-yang-berpengaruh-pada-terjadinya-fotosintesis/

Mahasiswa Harus Mampu Menganalisa Peristiwa Termasuk Bom

Mahasiswa Harus Mampu Menganalisa Peristiwa Termasuk Bom

Mahasiswa Harus Mampu Menganalisa Peristiwa Termasuk Bom

Mahasiswa Harus Mampu Menganalisa Peristiwa Termasuk Bom
Mahasiswa Harus Mampu Menganalisa Peristiwa Termasuk Bom

Menteri Sosial Dr. Idrus Marham mengharapkan mahasiswa mampu menganalisa semua peristiwa,

termasuk bom yang baru terjadi, secara akademik, faktual, dan logis.

Bangsa Indonesia sedang berkabung dengan terjadinya tragedi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Banyak yang mengkritik, menghujat, dan beragam reaksi lainnya, kata Idris Marham.

Namun, mahasiswa jangan asal menilai sesuatu yang belum tentu benar, katanya pada ribuan peserta

dari 42 perguruan tinggi swasta (PTS) se-Lampung dalam Dialog Nasional Tiga Menteri di Convention Hall Kampus Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL), Senin (14/5).

Dia berpesan kepada para mahasiswa agar tidak sekadar lulus kuliah, tapi juga bagaimana bisa mengukir prestasi. Dia memotivasi mahasiswa dengan kisah perjalanan hidupnya dari desa di Sulawesi Selatan.

Idrus mengaku lahir bukan dari keluarga mampu. Tapi, dengan tekad kuat,

dia akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini. Dalam berteman, katanya, dia tak akan mengubah sikapnya, caranya berteman, meski kini menjabat menteri

 

Sumber :

https://peacetaiwan.com/dampak-negatif-terjadinya-globalisasi-bagi-aspek-sosial/

Si Kasep Siap Diluncurkan

Si Kasep Siap Diluncurkan

Si Kasep Siap Diluncurkan

Si Kasep Siap Diluncurkan
Si Kasep Siap Diluncurkan

Dinas Pendidikan Kota Bandung rencanakan peluncuran Sistem Seleksi Kepala Sekolah Pintar,

atau lebih dikenal dengan nama Si Kasep pada Rabu (28/11).

Aplikasi inovatif Dinas Pendidikan tersebut dapat digunakan untuk menjaring para guru yang memiliki potensi untuk menjadi kepala sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Mia Rumiasari mengatakan, proses seleksi kepala sekolah sudah berjalan. Bahkan pekan ini sudah masuk tahap ketiga yakni tes substansi. Dari 580 orang pendaftar untuk tiga jenjang pendidikan yakni TK, SD, dan SMP. Sebanyak 264 orang di antaranya yang terjaring hingga tahap ketiga.

“Kami sudah menggunakan Si Kasep ini. Namun demikian baru akan meluncurkan pada Rabu ini,”

ucapnya saat menjadi pembina apel mulai bekerja di Plaza Balai Kota Bandung, Senin (26/11).

Ia mengungkapkan, seleksi melalui Si Kasep mampu menghasilkan calon kepala sekolah yang profesional dan akuntabel.

“Mereka yang terjaring melalui seleksi kali ini diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan kepala sekolah di tiga jenjang hingga tahun 2022 mendatang,” ungkapnya.

Selanjutnya Mia menambahkan, sebagai prasyarat untuk menjadi kepala sekolah, seorang guru harus memiliki Nomor Unik Kepala Sekolah (NUKS) yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan pasca lolos seleksi kepala sekolah.

Persiapan matang dilakukan untuk memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan Nomor 15 tahun 2018 yang menyatakan bahwa kekosongan jabatan kepala sekolah yang diisi Pelaksana Tugas (Plt), tidak boleh lebih dari enam bulan.

“Secara bertahap mereka yang terjaring seleksi akan didaftarkan Diklat. Terakhir kali kami menyelenggarakan Diklat tahun 2016 di Solo. Tahun depan kami berharap dapat menyelenggarakan Diklat di Kota Bandung dengan mendatangkan para narasumbernya ke sini,” pungkasnya.

Perlu diketahui, jumlah sekolah negeri di Kota Bandung antara lain tiga TK Negeri, 274 SD Negeri, dan 57 SMP Negeri serta lima rintisan SMP Negeri

 

Baca Juga :

 

 

Surat Edaran Disdik Diprotes Ortu Siswa

Surat Edaran Disdik Diprotes Ortu Siswa

Surat Edaran Disdik Diprotes Ortu Siswa

Surat Edaran Disdik Diprotes Ortu Siswa
Surat Edaran Disdik Diprotes Ortu Siswa

Orang tua (Ortu) siswa Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Anak Usia Dini (Paud)

di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyayangkan surat edaran keluaran Dinas Pendidikan (Disdik) KBB.

Pasalnya dalam surat bernomor 500/4403-bid.SD/2018 tanggal 21 Nopember 2018 tersebut meminta seluruh guru dan kepala sekolah mengikuti gerak jalan untuk memperingati Hari PGRI ke-73, di Kantor Pemkab Bandung Barat Ngamprah pada hari ini, Kamis (22/11), serta memberi dispensasi siswa SD diberikan tugas belajar di rumah.

Hal ini menuai protes orang tua siswa. Mereka menilai tak selayaknya Dinas Pendidikan meliburkan sekolah hanya karena agenda seremonial. Guru seharusnya tak meninggalkan tugas pokok mengajar dan KBM berjalan normal.

Agus Hariyanto (46), salah satu orang tua siswa SD negeri di Ngamprah menilai,

sebaiknya jika kegiatan melibatkan semua guru dilaksanakan pada hari libur sekolah.

“Saya juga tahunya anak saya libur karena gurunya nggak ada,” ucapnya, Kamis (22/11).

Senada dengan Agus, Kepala UPT Pendidikan Cililin, Hidayat mengatakan, saat akan meliburkan sekolah, timbul pertanyaan dari sejumlah komite sekolah dan orang tua siswa yang menyayangkan KBM mesti terhenti.

Atas dasar itu dirinya memerintahkan KBM tetap berjalan seperti biasa.

Hanya perwakilan tiap sekolah saja yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Khusus untuk wilayah UPT Cililin kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa, kami hanya mengirim perwakilan sebanyak 150 orang. Kalau untuk meliburkan sekolah demi acara tersebut saya kira kurang baik karena tugas pokok ditinggalkan,” ungkapnya.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/c0jbsCdefue2OHhUvmiEl

ADRI Gelar Internasional Conference Di Kota Cirebon

ADRI Gelar Internasional Conference Di Kota Cirebon

ADRI Gelar Internasional Conference Di Kota Cirebon

ADRI Gelar Internasional Conference Di Kota Cirebon
ADRI Gelar Internasional Conference Di Kota Cirebon

Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) menggelar acara International Conference

(Konferensi Internasional) ke-20. Acara dilaksanakan selama 2 hari (Senin-Selasa) dipusatkan di Hotel Prima Cirebon.

Para peserta baik yang berasal dari dalam dan luar negeri ini mengikuti 2 acara simposium. Pertama, International Symposium Social Sciences Education and Humanities (ISSEH). Kedua, International Symposium on Sciences, Engineering and Technology (ISSET).

Kedua kegiatan simposium tersebut merupakan bagian dari kegiatan dosen dalam mempublikasikan karangan ilmiah dan hasil-hasil penelitian untuk kemudian disajikan di dalam prosiding, baik terindeks Thomson Reuters maupun Scopus.

Ketua Umum ADRI Dr. Achmad Fathoni Rodli, M.Pd menyampaikan apresiasi kepada Rektor Universitas Swadaya

Gunung Jati (Unswagati) Cirebon atas kesediaan menjadi tuan rumah pelaksanaan International Conferensi ke-20. Ia pun bangga, acara dihadiri delegasi dari berbagai perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri.

“Sebelumnya yang ke-18 di Malaysia, ke-19 di Jepang,” ucap Ketua Umum ADRI Achmad Fathoni Rodli usai pembukaan, Senin (19/11).

International Conference, sebut Ia, dilaksanakan untuk meningkatkan produk-produk karya ilmiah para dosen yang bergabung sebagai anggota ADRI, baik dari sisi produk jurnal maupun prosidingnya. Sebab, produk-produk dosen sesuai aturan Menteri Ristek Dikti, harus sudah terindeks berskala internasional (publikasi di jurnal internasional).

Olehnya, International Conference ini dinilai ADRI sebagai sarana untuk membangun reputasi individu dosen

dan universitas tempat dosen itu mengabdi. International Conference ke-20 ini memberi peluang kepada setiap dosen untuk membangun kerjasama, saling share dan care serta networking dengan ilmuwan (dosen) dari luar negeri.

“Pesertanya dari seluruh Indonesia, ada dari Aceh, bahkan dari beberapa negara. Tadi ada 11 negara hadir. Dan itu memang kriteria dari international Conference yang ketentuannya, diatur oleh pemerintah,” paparnya.

Di samping itu, kriteria lainnya ialah dengan menyediakan narasumber (autor/peneliti) yang telah teruji dan banyak menghasilkan karya-karya (riset) yang diisitasi akademisi di dunia perguruan tinggi internasional.

“Apa kriterianya ? Narsum minimal 4 negara. Ini bahkan 5 negara,” sebutnya.

Dia menyatakan, international conference kali ini mempunyai keistimewaan dibanding pelaksanaan International Conference sebelumnya. Sebab, acara simposium terbagi menjadi 2 bagian, bidang ilmu eksakta dan sosial.

Masih kata Achmad Fathoni Rodli, setelah para peserta mempresentasikan karya ilmiahnya, akan ada deklarasi implementasi revolusi industri 4.0 yang diikuti oleh Perguruan Tinggi se Indonesia.

“Oleh karena itu, Menteri sudah mengeluarkan peraturan menteri tentang pembelajaran jarak jauhnya. Tentang pendidikan Daring. Atau istilah kami adalah tentang pembelajaran digital class. Dengan demikian maka nanti akan ada 1 dosen bisa mengajar untuk 1 ribu mahasiswa,” ujarnya.

Digital class diselenggarakan oleh setiap perguruan tinggi di Indonesia. Dengan metode pembelajaran digital class, setiap dosen bisa mengajar mahasiswa mencapai seribu orang, baik dalam maupun luar negeri.

“Mereka melakukan pembelajaran, dialog, diskusi, evaluasi, daftar hadir. Itu semua juga ada di dalam kelas digital,” menurutnya.

Achmad Fathoni Rodli menambahkan, ADRI telah mempersiapkan pelaksanaan International Conference ke-21 pada tanggal 3 Desember 2018 bertempat di Universitas 19 November, Kolaka-Sulawesi Tenggara.

“Itu juga kita menyiapkan 5 ribu kelas digital. Untuk seluruh dosen anggota ADRI dengan free hosting. Di situlah nanti setiap dosen punya kelas digital,” terangnya.

Artinya, penerapan kelas digital itu berlaku bagi satu bidang konsentrasi keilmuan tapi dapat ditempuh di seluruh perguruan tinggi.

“Ikut mata kuliah hukum di sini, kemudian sampai lulus dengan sertifikatnya. Nanti diakui misalnya di hukum yang sama di UGM, luar negeri, maka dia tinggal menambah beberapa kredit saja,” tambahnya.

 

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/pengertian-ihsan.html

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Dominasi Perolehan Piala Citra 2018

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Dominasi Perolehan Piala Citra 2018

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Dominasi Perolehan Piala Citra 2018

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Dominasi Perolehan Piala Citra 2018
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Dominasi Perolehan Piala Citra 2018

Kemendikbud — Film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ (MSPEB) berhasil mendominasi perolehan Piala Citra pada Festival Fim Indonesia (FFI) 2018 yang diseleggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu malam (9/12). Dari 22 piala yang dipersiapkan untuk 21 kategori dan satu penghargaan khusus Lifetime Achievement, MSPEB berhasil memborong sepuluh di antaranya.

Piala Citra yang diraih oleh film dengan latar belakang keindahan alam Nusa Tenggara T

imur tersebut antara lain untuk kategori sutradara terbaik, yaitu Mouly Surya, pemain pembantu wanita terbaik, Dea Panendra, pemeran utama wanita terbaik, Marsha Timothy, serta film terbaik. Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi, didampingi Staf Teknis Mendikbud Bidang Strategi Implementasi Kebijakan Machhendra menyerahkan langsung penghargaan bagi film terbaik FFI 2018.

Pemeran pembantu wanita terbaik, Dea Panendra melihat keberhasilan yang diraih film MSPEB pada FFI 2018 sebagai kerja sama yang kuat antara seluruh tim, “Tercermin dari banyaknya penghargaan yag diperoleh Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak malam ini, sebenarnya itu kerja sama dari semua tim, jadi enak kerjanya, gampang masuk ke karakternya,” ujar Dea. Ia menyebut kemenangannya ini sebagai pengingat bahwa dirinya memiliki tanggung jawab sebagai seorang aktris, “Ini tanggung jawab buat aku untuk terus berkarya, jangan males jadi aktor,” ujarnya.

Kejutan muncul dari kategori pemeran pria utama terbaik yang diraih oleh Gading Marten dalam film ‘Love for Sale’. Dalam kategori tersebut Gading bersaing dengan empat aktor lainnya, yaitu, Adipati Dolken dalam ‘Teman Tapi Menikah’, Iqbaal Ramadhan dalam ‘Dilan 1990’, Oka Antara dalam ‘Aruna dan Lidahnya’, serta Ariyo Bayu dalam ‘Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta’.

Tahun ini, pemeran FFI 2018 juga memberikan penghargaan Lifetime Achievement atau Prestasi Seumur Hidup kepada aktris senior Widyawati atas dedikasinya pada dunia perfilman hingga saat ini.

Hasil lengkap perolehan Piala Citra Festival Film Indonesia 2018:

 

Film Dokumenter Pendek Terbaik
Rising from The Silence
Shalahuddin Siregar

Film Dokumenter Panjang Terbaik
Nyanyian Akar Rumput
Yuda Kurniawan

Film Pendek Terbaik
Kado
Aditya Ahmad

Film Animasi Terbaik
Si Juki The Movie
Faza Meonk

Pemeran Pembantu Wanita Terbaik
Dea Panendra
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Pencipta Lagu Tema Terbaik
Rayi Putra, Astono Andoko, Anindyo Baskoro
“Kulari ke Pantai” Film Kulari ke Pantai

Penata Suara Terbaik
Khikmawan Santosa
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Penata Musik Terbaik
Zeker Khaseli Yudhi Arfani
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Penata Rias Terbaik
Jerry Oktavianus
Wiro Sableng: Pendekar Maut Naga Geni 212

Penata Busana Terbaik
Adrianto Sinaga, Nadia Adharina
Wiro Sableng: Pendekar Maut Naga Geni 212

Pemeran Pembantu Pria Terbaik
Nicholas Saputra
Aruna dan Lidahnya

Pemeran Anak Terbaik
Ni Kadek Thaly Titi Kasih
Sekala Niskala

Lifetime Achievement
Widyawati

Skenario Adaptasi Terbaik

Titien Wattimena

Aruna dan Lidahnya, adaptasi novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak

Skenario Asli Terbaik
Mouly Surya dan Rama Adi
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Penata Efek Visual Terbaik
Keliek Wicaksono
Wiro Sableng: Pendekar Maut Naga Geni 212

Pengarah Sinematografi Terbaik
Yunus Pasolang
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Pengarah Artistik Terbaik
Frans XR Paat
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Pemeran Pria Terbaik
Gading Marten
Love For Sale

Pemeran Wanita Terbaik
Marsha Timothy
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Sutradara Terbaik
Mouly Surya
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Film Terbaik
Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

 

Baca Juga :

 

 

Kemendikbud Raih Tiga Penghargaan di Ajang Top IT & TELCO 2018

Kemendikbud Raih Tiga Penghargaan di Ajang Top IT & TELCO 2018

Kemendikbud Raih Tiga Penghargaan di Ajang Top IT & TELCO 2018

Kemendikbud Raih Tiga Penghargaan di Ajang Top IT & TELCO 2018
Kemendikbud Raih Tiga Penghargaan di Ajang Top IT & TELCO 2018

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meraih penghargaan di ajang

bergengsi yaitu Top IT & TELCO 2018. Kemendikbud menerima penghargaan sebagai TOP IT Implementation on Ministry 2018 dan TOP Digital Transformation Readiness 2018. Selain itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy juga menerima penghargaan sebagai Top Leader on IT Leadership 2018.

“Semoga penghargaan ini tidak menjadikan Kemendikbud sombong akan tetapi

menjadikan tantangan Kemendikbud untuk memberikan layanan yang lebih baik lagi kepada user baik instansi atau masyarakat pengguna layanan Kemendikbud,” kata Mendikbud, di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Acara puncak kegiatan penilaian dan pemberian penghargaan TOP IT & TELCO 2018 berlangsung di Golden Ballroom, The Sultan Hotel Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018. Acara ini dihadiri oleh 500 undangan dari berbagai instansi dan perusahaan.

Top IT & TELCO 2018 ini diselenggarakan oleh majalah IT Works bekerjasama

dengan beberapa asosiasi di bidang teknologi informasi, telekomunikasi, dan konsultan teknologi informasi independen. Tema yang diangkat pada ajang tahun ini adalah Great IT for Great Business & Government.

Panitia menyeleksi dan menghasilkan 200 kandidat. Dari 200 kandidat tersebut, terseleksi 150 finalis. Ketua Penyelenggara dan Pemimpin Redaksi majalah It Works, M. Lutfi Handayani, menjelaskan bahwa kegiatan Top IT & TELCO ini dilakukan secara objektif dan independen, dan bukan sekadar ajang penilaian dan penghargaan semata

 

Sumber :

http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi