shadow

Zuckerberg Sumbang $120 Juta untuk Sekolah Negeri di San Fransisco

Zuckerberg Sumbang $120 Juta untuk Sekolah Negeri di San Fransisco

Zuckerberg Sumbang $120 Juta untuk Sekolah Negeri di San Fransisco

Zuckerberg Sumbang $120 Juta untuk Sekolah Negeri di San Fransisco
Zuckerberg Sumbang $120 Juta untuk Sekolah Negeri di San Fransisco

Sejumlah $5 juta pertama dari $120 juta akan diberikan kepada sekolah

di kawasan Ravenswood and Redwood City, San Francisco untuk membantu proses transisi siswa dari tingkat 8 ke tingkat 9.
CEO Facebook Mark Zuckerberg dan istrinya, Priscilla Chan, memberikan sumbangan $120 juta kepada sekolah negeri di kawasan teluk San Francisco. Sumbangan yang dibahas pasangan ini Selasa dalam wawancara ekslusif dengan Associated Press, akan diberikan dalam periode lima tahun ke depan.

Sumbangan ini merupakan alokasi terbesar dari $1.1 milyar nilai saham Facebook yang tahun lalu dijanjikan pasangan ini untuk lembaga non profit Silicon Valley Community Foundation.

“Pendidikan sangat mahal dan sumbangan ini hanya sedikit dari jumlah besar yang dibutuhkan,”

kata Chan, seorang dokter anak, dalam wawancara di Menlo Park, California, kantor pusat Facebook. “Apa yang kami coba lakukan adalah menjembatani perubahan dengan menjajaki dan mendukung promosi pengembangan model dan terobosan baru.”

$5 juta pertama dari $120 juta akan diberikan kepada sekolah di kawasan Ravenswood and Redwood City, San Francisco dan akan berpusat pada pelatihan dasar, teknologi ruang kelas dan membantu proses transisi siswa dari tingkat 8 ke tingkat 9. Pasangan ini dan yayasannya yang disebut “Startup: Education”, menentukan prioritas keperluan, berdasarkan diskusi-diskusi dengan staf administrasi sekolah dan tokoh setempat.

Chan yang berusia 29, dan Zuckerberg, 30, menjalankan kegiatan filantropi sebagai tema

utama kehidupan rumah tangga mereka. Keduanya memberikan sumbangan dengan rekor tertinggi pada 2013. Sumbangan $1.1 milyar ini mengalahkan sumbangan sebesar $500 juta yang diberikan pasangan ini tahun sebelumnya kepada Yayasan Silicon Valley, yang membantu para donor mengalokasi bantuan mereka.

Tahun lalu, Zuckerberg tercatat sebagai orang terkaya nomer 21 berdasarkan daftar yang dikeluarkan majalah Forbes tentang orang terkaya di dunia, dibawah Jeff Bezos dari Amazon dan diatas sejumlah milyarder ternama lainnya seperti investor Carl Icahn dan filantropis George Soros. Ia memiliki saham Facebook bernilai lebih dari $27 milyar.

Pada 2013, disaat rata-rata gaji tahunan CEO Amerika melampaui batas $10 juta ditengah membesarnya jurang perbedaan pendapatan, Zuckerberg mengambil gaji simbolik tahunannya yaitu sebesar $1.

 

Baca Juga :

 

 

Waktu, Kemampuan Membaca Anak-anak di AS Menurun

Waktu, Kemampuan Membaca Anak-anak di AS Menurun

Waktu, Kemampuan Membaca Anak-anak di AS Menurun

Waktu, Kemampuan Membaca Anak-anak di AS Menurun
Waktu, Kemampuan Membaca Anak-anak di AS Menurun

Sebuah laporan di AS menunjukkan bahwa waktu untuk membaca sebagai aktivitas santai

dan kemampuan membaca anak-anak di AS telah menurun dalam 30 tahun terakhir.
Meski anak-anak Amerika masih menghabiskan bagian dari harinya untuk membaca, waktu untuk membaca sebagai aktivitas santai berkurang dibandingkan berpuluh tahun lalu, dan kemampuan membaca pun turun signifikan, menurut laporan yang dirilis Senin (12/5).

Lembaga nirlaba Common Sense Media di San Francisco, yang fokus pada efek-efek media dan teknologi pada anak-anak, menerbitkan laporan tersebut, yang mengumpulkan informasi dari beberapa studi dan basis data nasional.

“Laporan ini membawa peringatan,” ujar Vicky Rideout, penulis utama laporan tersebut.

“Kami melihat penurunan yang sangat besar dalam hal membaca di kalangan remaja dan kecepatan penurunannya pun lebih cepat.”

Laporan itu menunjukkan bahwa presentase anak umur 9 tahun yang membaca untuk santai sekali atau lebih setiap minggu telah turun dari 81 persen pada 1984 menjadi 76 persen pada 2013, berdasarkan studi-studi pemerintah. Bahkan ada penurunan lebih besar di antara anak-anak berusia di atas itu.

Sebagian besar jarang membaca untuk kesenangan. Sekitar sepertiga

dari anak berusia 13 tahun dan setengah dari remaja 17 tahun dalam sebuah studi mengatakan mereka membaca untuk santai kurang dari dua kali per tahun.

Dari mereka yang membaca atau dibacakan, anak-anak cenderung menghabiskan rata-rata antara 30 menit dan satu jam setiap hari dengan aktivitas tersebut, menurut laporan tersebut. Anak-anak yang lebih tua dan remaja cenderung membaca untuk santai dengan waktu yang sama setiap hari.

Rideout memperingatkan bahwa mungkin ada perbedaan dalam bagaimana orang melihat teks dan studi-studi yan gdisertakan mungkin tidak memasukkan cerita-cerita yang dibaca di Internet atau di media sosial.

Laporan itu juga menemukan bahwa banyak anak-anak yang kesulitan membaca.

Hanya sekitar sepertiga dari murid-murid kelas empat yang sudah lancar membaca dan sepertiga lagi mendapat nilai di bawah “basic” dalam hal kemampuan membaca.

Meski demikian, nilai kemampuan membaca anak-anak telah meningkat sejak 1970an, menurut salah satu tes yang mengukur kemampuan membaca.

Namun nilai membaca di antara remaja berusia 17 tahun relatif sama sejak 1970an.
Sekitar 46 persen anak-anak kulit putih dianggap lancar membaca, dibandingkan dengan 18 persen pada anak kulit hitam dan 20 persen pada anak-anak Hispanik.

“Dua puluh tahun berlalu tanpa kemajuan adalah sesuatu yang memalukan,” ujar Rideout.

Laporan itu mengatakan bahwa supaya anak-anak lebih sering membaca, para orangtua harus lebih sering meluangkan waktu dan memberi contoh sebagai pembaca. (Reuters)

 

Sumber :

https://publiclab.org/profile/ojelhtcmandiri

Mahasiswa Indonesia Ikuti Kompetisi Peradilan Semu Internasional di AS

Mahasiswa Indonesia Ikuti Kompetisi Peradilan Semu Internasional di AS

Mahasiswa Indonesia Ikuti Kompetisi Peradilan Semu Internasional di AS

Mahasiswa Indonesia Ikuti Kompetisi Peradilan Semu Internasional di AS
Mahasiswa Indonesia Ikuti Kompetisi Peradilan Semu Internasional di AS

Kompetisi peradilan semu internasional ‘The Philip C. Jessup Law Moot Court’ sedang berlangsung di Washington DC dari 6-13 April 2014. Acara ini diikuti para mahasiswa fakultas hukum dari 84 negara, termasuk dua tim dari Indonesia yang mengikuti kompetisi resmi, dan satu tim yang mengikuti eksibisi.
WASHINGTON DC —

Kompetisi peradilan semu internasional Philip C. Jessup Cup yang sudah diadakan selama 55 tahun selalu menarik minat mahasiswa fakultas hukum dari seluruh dunia. Para mahasiswa mulai dari Asia, Amerika, Eropa hingga Afrika mengasah kemampuan dan pengetahuan mengenai proses hukum, argumen dan beracara dalam persidangan internasional.

Ribuan mahasiswa dari sekitar 600 perguruan tinggi berlomba dalam simulasi peradilan internasional yang menyidangkan kasus-kasus yang menjadi sengketa antar negara setelah menang kompetisi di masing-masing negara.

Lesley A. Benn Direktur Eksekutif Internasional Law Student Association (ILSA) mengatakan tahun ini ada tiga tim peserta dari Indonesia.

“Ada dua Fakultas Hukum dari Indonesia yang berkompetisi, Universitas Indonesia dan Universitas Pelita Harapan dan satu fakultas hukum dari Universitas Udayana yang kami sebut tim eksibisi, kami memiliki 10 tim tersendiri yang tidak ikut dalam putaran Jessup Cup tapi berkesempatan melakukan sidang pendahuluan,” katanya.

Lesley Benn menambahkan kompetisi peradilan semu internasional tahun ini makin ketat karena tim unggulan hampir dua kali lipat jumlah tahun-tahun sebelumnya yang kini mencapai 40-45 tim unggulan.

Miftahul Khairi ketua tim Jessup Cup dari Universitas Indonesia

yang tahun lalu masuk kelompok 10 besar untuk berkas memori dan 16 besar untuk kategori presentasi tim, berharap bisa melaju ke final setelah bertanding melawan tim dari University of Queensland, Australia.

“Tahun lalu kami juga pernah melawan Australia, melawan Sydney dan kami menang mudah-mudahan tahun ini menang lagi,” kata Miftahul.

Miftahul Khairi bersama tiga anggota tim lainnya secara bergilir menyampaikan argumen serta pembelaan. Ia mengatakan kasus yang dibahas tahun ini lebih sulit dibandingkan tahun lalu karena banyak menyertakan isu-isu kecil sementara waktu argumen sangat terbatas.

I Wayan Alit Sudarsana ketua tim dari Universitas Udayana mengatakan isu

dan kasus yang diangkat Philip C Jessup Moot Court tahun ini menarik karena membahas kasus hukum kelautan internasional.

“Hal yang baik karena kita adalah negara kepulauan di mana tahun 2002 kita pernah melawan Malaysia dalam kasus Sipadan – Ligitan di Mahkamah Internasional, jadi ini seperti mempersiapkan generasi-generasi muda yang mencoba mengawal 17.584 pulau yang ada di Indonesia,” papar I Wayan.

Gede Bagus Ananda Pratama anggota tim Universitas Udayana lainnya mengatakan meskipun mereka masih tim eksibisi tapi dihadapkan dengan Ukraina yang sudah dua kali ikut menjadi peserta.

“Jadi meskipun tim eksibisi, lawan kami lebih senior, itu yang pertama, yang kedua tim eksibisi

juga bersaing meskipun hanya di persidangan awal. Secara keseluruhan akan dikalkulasi dan ada tiga penghargaan yang diperebutkan tim eksibisi,” ujar Gede Bagus.

 

Sumber :

https://www.edocr.com/v/pnxvgw53/ojelhtcmandiri/Evolusi-Dan-Implementasi-Teknik-SEO-Sebagai-Traffi

Tentang Peristiwa Solo Tanggal 2 April 1948

Tentang Peristiwa Solo Tanggal 2 April 1948

Tentang Peristiwa Solo Tanggal 2 April 1948
Kemerdekaan Penerangan terhadap tanggal 2 April 1948 mengemukan tentang moment di solo lebih lanjut sbb: Sejak sebagian lama, keamanan masyarakat Surakarta dan sekelilingnya kerap di ganggu oleh pengacau – pengacau yang bersembunyi di belakang suatu golongan atau badan. Soal itu tidak terlepas dari perhatian Pemerintah, dan Pemerintah insyaf pula, bahwa kondisi sedemikian tidak sanggup dibiarkan merajalela. Agar agar pembasmian anasir – anasir yang merugikan itu sanggup dijelaskan bersama langkah pas dan terhadap selagi pas pula, pemerintah belum sampai sekaligus bertindak.

Pada era ini Pemerintah berpikiran udah sampai waktunya untuk mobilisasi – mobilisasi konsep pembersihan selanjutnya diatas.

Berkat ketangkasan – ketangkasan pemuda – pemuda kami di tangkap 3 orang yang di anggap menjadi pemegang rol penting di dalam kejahatan yang menimpa terhadap rakyat Surakarta dan sekelilingnya bersama tidak membawa korban yang bermakna yakni: Pihak pemuda 1 orang yang tewas, pihak orang – orang yang dipergunakan oleh pengacau 4 orang tewas. Mendapat luka – luka pihak pemuda 1 orang , pihak lain selanjutnya 3 orang. Meskipun udah di ambil suatu hal langkah untuk menghindarikan perkelahian, masih terhitung berlangsung korban, karena orang – orang menjadi sasaran pembersihan mempergunakan markas – markas, bersembunyi dan memerintahkan kepada anak – anak yang tidak tahu – menahu duduknya soal memang untuk mengadakan perlawanan.

Pemerintah menunjukkan terlampau menyesal, bahwa orang – orang yang tidak berdosa di paksa turut menjadi korban. Kepada pemuda Suranto tewas, dan kawannya yang luka di di dalam mobilisasi kewajiban yang suci, menunjang Pemerintahan melepas masyarakat surakarta dari rasa kekuatiran dan tidak aman, disampaikan terimakasih dan penghargaan pemerintah atas jasanya.

Perlu kami tegaskan sekali lagi, bahwa tindakan pembersihan selanjutnya di atas dan yang sedang dilaksanakan terus tidak bersangkut paut bersama soal – soal politik, namun semata – mata tentang perbuatan –perbuatan yang di ancam oleh hukum belaka. Pemerintah tidak menunjuk instansi – instansi resmi yang diwajibkan mobilisasi pembersihan yang di pimpin oleh Jaksa Tentera Agung . Di luar instansi – instansi tersebut, lain – lain golongan / pihak di larang untuk turut campur di dalam tindakan pembersihan ini. Terhadap pelanggaran – pelanggaran ini dapat diadakan tindakan keras menurut undang – undang yang berlaku. (Antara, 2 April 1948)

Sumber : kumpulansurat.co.id

Baca Juga :

Reconstruksi Dan Koordinasi Kepolisian – Kepolisian Tahun 1948

Reconstruksi Dan Koordinasi Kepolisian – Kepolisian Tahun 1948

RECONSTRUKSI DAN KOORDINASI KEPOLISIAN – KEPOLISIAN
Kini telah di terasa usaha reconstruksi dan koordinasi di kalangan – kalangan kepolisian ketenteraraan. Dengan penetapan wakil presiden / Menteri Pertahanan a.i., maka terasa tgl. April 1948 dihapuskan susunan:

Polisi Tentara (PT);
Polisi Tentara Laut (PTL);
Polisi Angkatan Udara (PAU);
Pengawas TNI.
Sejak itu, bagian – bagian badan – badan berikut disatukan di dalam satu “Corp Polisi Militer”.Badan ini terbagi menjadi 2 corpsen:
Corp Polisi Militair di Jawa;
Corp Polisi Militair di Sumatera
Lingkungan kekuasaan CPM sementara tetap seperti di dalam badan – badan kepolisian –kepolisian ketentaraan dulu. Pada biasanya lingkungan kekuasaan itu tidak meliputi kembali badan – badan / orang bukan militer. Jadi yang juga di dalam lingkungan kekuasaannya ialah perihal perkara –perkara pelanggaran / kejahatan yang dijalankan seseorang / badan militair. Dengan sendirinya badan – badan kepolisian atau badan – badan pengawas kepunyaan badan perjuangan, yang telah dileburkan di dalam keliru satu bagian di dalam Angkatan Perang, tidak kembali diperbolehkan lakukan tugas kepolisian, seperti menangkap orang tersangka, menghambat dan memeriksa.

Dengan pergantian berikut di atas, saat ini hanya tersedia dua alat kepolisian Negara:
Polisi Negara;
Corps Polisi Militair.
Adapun ban tanda badan kepolisian ketentaraan baru ini ialah : Huruf P dan M berwarna hitam diatas basic putih. Di pada dua huruf terkandung bintang hitam. Panjangnya ban ini 30 cm, tengah lebarnya 12 cm. (Antara, 1 April 1948)

Baca Juga :

Penelusuran Informasi Digital Online

Penelusuran Informasi Digital Online

Penelusuran Informasi Digital Online

Penelusuran Informasi Digital Online
Penelusuran Informasi Digital Online

Penelusuran Informasi Digital/Online

Adapun penelusuran informasi digital atau elektronik, seperti disebutkan di atas merupakan satu metode penelusuran informasi yang menggunakan teknologi informasi dan computer terutama untuk keperluan penelusuran koleksi atau sumber-sumber informasi yang berupa file elektronik atau digital. Sehingga pada penelusuran informasi digital atau elektronik ini, apa yang dicari dan alat yang digunakan untuk dicaripun sama-sama merupakan hasil dari sebuah pengembangan teknologi informasi dan komputer yang berupa digital atau elektronik.
Sumber-sumber digital sendiri sebetulnya sangat beragam, akan tetapi setidaknya ada beberapa yang mungkin sering digunakan oleh para praktisi dan akademisi yakni:

a) OPAC (Online Public Access Catalog)

OPAC merupakan alat penelusuran informasi yang bersifat elektronik dan digital yang dapat digunakan untuk menemukan informasi pustaka/koleksi baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik/digital. Namun memang pada kenyataannya untuk saat ini OPAC ini masih banyak digunakan ‘hanya’ untuk keperluan temu kembali informasi pustaka terutama yang tercetak atau dengan kata lain fungsinya tak lain hanya sebagai pengganti katalog tercetak.

b) E-Journal (Electronic Journal)

Journal elektronik atau orang sering menyebut sebagai e-journal merupakan satu bentuk sumber digital yang dapat digunakan dalam penelusuran informasi yang berasal dari jurnal ilmiah atau popular, baik jurnal tercetak yang dielektronikan maupun jurnal yang memang ‘hanya’ terbit secara elektronik.

c) E-Book

E-book atau buku elektronik merupakan satu sumber digital atau elektronik yang dapat digunakan oleh pengguna yang ingin mendapatkan informasi dari sebuah buku yang dikemas dalam format elektronik atau digital. Pengguna dapat melakukan penelusuran sekaligus membaca bahkan mendownload file buku elektronik yang tersedia di banyak situs di internet. Buku elektronik ini bisa berasal dari buku tercetak yang dielektronikan atau didigitalkan, atau bisa juga hanya terbit dalam versi digital/elektronik.
d) E-Publications
E-Publications atau publikasi elektronik merupakan sumber informasi digital yang diterbitkan oleh berbagai institusi atau penerbit atau organisasi atau bahkan perorangan baik yang bersifat ilmiah atau tidak. Bentuknya dapat apapun seperti e-news, e-newspaper, e-bulletine, e-gallery dan sebagainya.
e) Online Database
Online Database atau Basis Data Online merupakan sumber informasi digital/elektronik yang berisi berbagai macam jenis informasi digital seperti e-journal, e-book, e-proceeding, e-articles, abstracts, images, dan publikasi lainnya yang dapat diakses dari satu situs web atau pangkalan data elektronik. Basis data ini seringkali mengalami distorsi pengertian dengan e-journal, hal ini dikarenakan memang sebagian besar informasi yang ada di dalamnya berupa jurnal elektronik. Namun perlu ditekankan bahwa basis data online (database online) ‘berbeda’ dengan e-journal.

Tipe Penelusuran Informasi

Tipe Penelusuran Informasi

Tipe Penelusuran Informasi

Tipe Penelusuran Informasi
Tipe Penelusuran Informasi

Dari pola telusurnya, penelusuran dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:

1. Telusur dokumen: penelusuran dimulai dengan identifikasi dokumen dan / atau sumber, baru dari sini dihasilkan informasi aktual.
2. Telusur informasi: penelusuran dimulai dengan informasi yang diperoleh dari bank data, kumpulan data, atau perorangan.

Selain itu sebetulnya dilihat dari cara dan juga alat yang digunakan

maka penelusuran dapat pula dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Penelusuran Informasi Konvensional: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui cara-cara konvensional/manual seperti menggunakan kartu katalog, kamus, ensiklopedi, bibliografi, indeks, dan sebagainya.
2. Penelusuran Informasi Digital: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui OPAC (Online Public Access Catalog), Search Engine (di Internet), Database Online, Jurnal Elektronik, Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital.
Namun pada layanan penelusuran informasi, pembedaan tersebut seringkali diabaikan dikarenakan banyak pemakai yang memilih menggunakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Bahkan seringkali terjadi penelusuran informasi menggunakan kombinasi dari perangkat penelusuran konvensional dan digital untuk mendapatkan data atau informasi setepa mungkin.

Penelusuran Informasi Konvensional

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa penelusuran informasi konvensional merupakan satu jenis penelusuran yang memanfaatkan sumber-sumber informasi dan atau sumber-sumber penelusuran yang sifatnya konvensional atau offline atau ‘tercetak’. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan berbagai media penelusuran seperti katalog tercetak, bibliografi, indeks atau kumpulan indeks, kumpulan abstrak, ensiklopedia atau kamus, dan media lain yang sifatnya ‘manual’ atau dengan teknik-teknik klasik tanpa bantuan teknologi informasi/computer.
Pada penelusuran konvensional pengguna dan juga pustakawan atau petugas perpustakaan dituntut mampu memahami masing-masing fungsi sumber informasi atau sumber penelusuran serta karakteristiknya sehingga mampu menemukan informasi dengan benar, tepat dan akurat. Sebagai Contoh:

“Pengguna harus tahu bahwa untuk mencari koleksi buku

pustaka di sebuah perpustakaan maka yang perlu dilakukan pertama adalah menentukan apa (judul, subyek, penulis) yang akan dicari, kemudian alat apa yang dapat membantu dalam melakukan pencarian. Dalam hal ini biasanya pengguna/petugas paling tidak sudah mempunyai sebuah catatan tentang subyek, judul, penulis atau kata kunci yang akan digunakan untuk menelusur. Sedangkan alat yang digunakan cukup sebuah katalog tercetak (katalog subyek, katalog judul, kataloh pengarang), karena memang yang diperlukan hanya itu. Nah setelah ditemukan, pengguna/petugas juga perlu tahu bagian informasi mana yang perlu ‘diambil’ dan ‘dicatat’ untuk menemukan buku/pustaka yang dimaksud dalam katalog. Biasanya call number atau nomer panggil-lah yang menjadi ‘alat’ terakhir bagi pengguna/petugas untuk menemukan koleksi buku/pustaka yang dimaksud, untuk itu nomer panggil inilah yang perlu diperhatikan selanjutnya oleh pengguna. Sehingga pada kasus ini maka pengguna atau petugas mempunyai dan atau mendapatkan informasi berupa judul/ subyek/pengarang, katalog tercetak, nomer panggil, dan tanda penomoran rak yang akan mengantarkannya kepada koleksi buku/pustaka yang diinginkan.”

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi 

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi
Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi 

Secara sederhana informasi dapat dipahami sebagai data yang diberi makna. Artinya informasi merupakan bentuk ‘olahan’ dari data yang diperuntukan untuk tujuan tertentu agar penerima dapat mengerti arti dan makna dari data tersebut. Sedangkan menurut businessdictionary.com informasi didefinisikan sebagai berikut:
“Data that is (1) accurate and timely, (2) specific and organized for a purpose, (3) presented within a context that gives it meaning and relevance, and (4) can lead to an increase in understanding and decrease in uncertainty.”
Definisi di atas jelas memperlihatkan bahwa informasi merupakan bentuk pemaknaan dari data dalam konteks tertentu yang ditujukan agar dapat meningkatkan pemahaman dan mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.

Informasi secara prinsip sebetulnya

‘hanya’ terdiri dari dua jenis yakni informasi lisan dan informasi terekam. Informasi lisan merujuk pada informasi yang disampaikan secara lisan dan merupakan bentuk komunikasi di dalam masyarakat. Sedangkan informasi terekam merujuk kepada informasi yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, jurnal, compact disc, ataupun bentuk lainnya. Perpustakaan sebagai lembaga pusat sumber informasi biasanya lebih banyak mengelola informasi terekam bukan informasi lisan.

Informasi yang terekam dalam perpustakaan

dapat dilihat dalam berbagai bentuk koleksi ataupun media seperti koleksi buku fiksi, koleksi buku non fiksi, koleksi media cetak non buku, koleksi multimedia, dan koleksi digital/online. Koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi fiktif, inspiratif, dan rekreatif yang berupa buku cerita, novel, dan lain-lain. Sedangkan koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi yang lebih bersifat informatif, edukatif, dan ilmiah yang berupa buku teks, buku referensi, buku pedoman, buku manual, dan lain-lain.
Adapun koleksi media non buku biasanya berupa terbitan berkala, leaflet, pamlet, brosur, poster, kliping, lukisan atau gambar, peta, globe bahkan alat peraga. Koleksi multimedia merupakan satu bentuk informasi terekam dalam berbagai media yang mengandalkan teknologi elektronik seperti video cassette, audio cassette, CD, DVD, media mikro, audio reader, slide suara, audio book, dan lain-lain. Bahkan kemajuan internet telah membuat informasi dapat diakses secara online melalui situs web, video onine, audio online, journal online, database online, majalah online, koran online dan media online lainnya.
Keberadaan informasi dalam keanekaragaman bentuk media atau sumber tentu menjadikan masalah tersendiri dalam bagaimana menemukan kembali informasi yang ada. Apalagi apabila jumlah informasi yang beredar sudah mencapai ribuan, jutaan bahkan milyaran. Hal inilah yang kemudian mengapa diperlukan adanya media atau strategi untuk mendapatkan informasi secara cepat, tepat dan akurat. Proses dalam menemukan informasi inilah yang sering disebut sebagai temu kembali informasi, dimana secara spesifik juga akan menyangkut penelusuran informasi.

Temu kembali informasi sendiri merupakan

kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai (Sulistyo-Basuki, 1992). “Temu balik informasi” merupakan istilah yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakan. Sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang dibutuhkan, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan / unit informasi.
Penelusuran informasi menjadi penting karena “ruh” atau “nyawa” dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemakai, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemakai, dan bagaimana memberikan “jalan” kepada pemakai untuk menemukan informasi yang dikehendaki. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat dan tepat. Proses dan penggunaan alat yang tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula.

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah
Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Ratusan siswa meriahkan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) ke-17 di Medan

, Sumut. Lasenas kali ini berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya karena lebih banyak diisi kegiatan simulasi, diskusi, pidato, ketrampilan membuat cokelat, lilin, dan lainnya.

“Lasenas 2019 sangat berbeda dengan sebelumnya. Kami desain agar siswa bisa memahami sejarah dengan cara menyenangkan tanpa menghafal. Lasenas juga tidak hanya menonjolkan pada agenda jalan-jalan,” kata Kasubdit Geografi Sejarah Kemendikbud Agus Widiatmoko yang ditemui saat pembukaan Lasenas ke-17 di Medan, Selasa (9/7).

Cara-cara kreatif, lanjutnya, harus dilakukan agar siswa tidak melupakan sejarah. Apalagi di era revolusi industri 4.0, pemahaman sejarah siswa semakin tergerus oleh paparan teknologi.

Sejarah masih dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan karena penuh dengan hafalan.

 

BACA JUGA: Kemendikbud: Usia 15 Tahun 15 Hari Bisa Diterima di SMP Negeri

Lasenas ke-17 ini yang diadakan hingga 12 Juli mendatang diikuti 150 peserta yang terdiri dari siswa dan siswi SMA, SMK dan MA serta guru-guru dari seluruh Indonesia.

Direktur Sejarah Kemendikbud Triana Wulandari

yang membuka Lasenas ke-17 mengungkapkan, banyak tempat bersejarah di Medan perlu diangkat lagi ke permukaan. Lewat Lasenas, siswa diajarkan memahami sejarah dan melihat langsung kota-kota bersejarah di Indonesia.

“Dengan demikian, siswa akan lebih mencintai sejarah dan kebudayaan Indonesia yang sangat beragam,” ucapnya.

 

Baca Juga :

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah
80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

Pemerintah akan mendorong 80 universitas untuk mengembangkan inovasi produk unggulan daerah.

Nanti setiap kampus akan mendapat bantuan pendanaan sekitar Rp5 miliar.

Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe mengatakan, melalui proses teaching industry kementerian akan mendorong universitas untuk mengembangkan produk unggulan berdasarkan sumber daya alam (SDA) di daerah setempat. Dia menjelaskan, selama ini yang sudah mendapatkan tugas khusus pengembangan SDA setempat baru perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN BH).

“Ke depan kami memiliki rencana agar tidak hanya PTN BH, namun semua perguruan tinggi yang punya kekhususan untuk diberi tugas khusus membangun produk inovasi berbasis wilayah. Harapan kita secara nasional semua perguruan tinggi memiliki hal ini,” katanya saat Workshop Tindak Lanjut Hasil Rakernas Kemenristekdikti 2019 bidang Penguatan Inovasi di Jakarta kemarin.

Baca Juga:

Menristekdikti: Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

Kemenristekdikti akan memberikan fasilitas dana. Selain itu, juga bantuan sarana prasarana yang diperlukan untuk pengembangan unggulan inovasi tersebut.

Jumain menerangkan, kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) telah ditugasi mengembangkan padi dan buah, Institut Teknologi Surabaya (ITS) dengan kendaraan listriknya, hingga Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan pengembangan bibit unggul sapi.

“PTN BH telah kami tugaskan dengan teaching industry yang melahirkan kemampuan untuk masuk ke dunia usaha dari inovasi yang telah dihasilkan. Harapan ini, semua perguruan tinggi pun bisa berinovasi dan menghilirisasi produknya,” jelasnya.

Dia memberikan contoh inovasi yang saat ini tengah dibina

untuk pengembangan produk unggulan di daerah setempat. Seperti di kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh dengan pengembangan nilam sebagai bahan baku parfum. Kemudian di Universitas Khairun Ternate untuk mengembangkan minyak atsiri dari buah pala.

Jumain melanjutkan, kalaupun perguruan tinggi tersebut masih belum mampu melakukan pengembangan secara mandiri, maka diperbolehkan kerja sama dengan perguruan tinggi lain. “Misalnya di Universitas Khairun kan kemampuannya dalam pengembangan minyak atsiri kan belum (baik). Nah, kita minta nanti kerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) atau IPB,” jelasnya.

 

Sumber :

https://telegra.ph/Contoh-Teks-Eksplanasi-Tentang-Sosial-Pengangguran-07-05