preferential-lite
shadow

Tipe Penelusuran Informasi

Tipe Penelusuran Informasi

Tipe Penelusuran Informasi

Tipe Penelusuran Informasi
Tipe Penelusuran Informasi

Dari pola telusurnya, penelusuran dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:

1. Telusur dokumen: penelusuran dimulai dengan identifikasi dokumen dan / atau sumber, baru dari sini dihasilkan informasi aktual.
2. Telusur informasi: penelusuran dimulai dengan informasi yang diperoleh dari bank data, kumpulan data, atau perorangan.

Selain itu sebetulnya dilihat dari cara dan juga alat yang digunakan

maka penelusuran dapat pula dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Penelusuran Informasi Konvensional: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui cara-cara konvensional/manual seperti menggunakan kartu katalog, kamus, ensiklopedi, bibliografi, indeks, dan sebagainya.
2. Penelusuran Informasi Digital: penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui OPAC (Online Public Access Catalog), Search Engine (di Internet), Database Online, Jurnal Elektronik, Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital.
Namun pada layanan penelusuran informasi, pembedaan tersebut seringkali diabaikan dikarenakan banyak pemakai yang memilih menggunakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Bahkan seringkali terjadi penelusuran informasi menggunakan kombinasi dari perangkat penelusuran konvensional dan digital untuk mendapatkan data atau informasi setepa mungkin.

Penelusuran Informasi Konvensional

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa penelusuran informasi konvensional merupakan satu jenis penelusuran yang memanfaatkan sumber-sumber informasi dan atau sumber-sumber penelusuran yang sifatnya konvensional atau offline atau ‘tercetak’. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan berbagai media penelusuran seperti katalog tercetak, bibliografi, indeks atau kumpulan indeks, kumpulan abstrak, ensiklopedia atau kamus, dan media lain yang sifatnya ‘manual’ atau dengan teknik-teknik klasik tanpa bantuan teknologi informasi/computer.
Pada penelusuran konvensional pengguna dan juga pustakawan atau petugas perpustakaan dituntut mampu memahami masing-masing fungsi sumber informasi atau sumber penelusuran serta karakteristiknya sehingga mampu menemukan informasi dengan benar, tepat dan akurat. Sebagai Contoh:

“Pengguna harus tahu bahwa untuk mencari koleksi buku

pustaka di sebuah perpustakaan maka yang perlu dilakukan pertama adalah menentukan apa (judul, subyek, penulis) yang akan dicari, kemudian alat apa yang dapat membantu dalam melakukan pencarian. Dalam hal ini biasanya pengguna/petugas paling tidak sudah mempunyai sebuah catatan tentang subyek, judul, penulis atau kata kunci yang akan digunakan untuk menelusur. Sedangkan alat yang digunakan cukup sebuah katalog tercetak (katalog subyek, katalog judul, kataloh pengarang), karena memang yang diperlukan hanya itu. Nah setelah ditemukan, pengguna/petugas juga perlu tahu bagian informasi mana yang perlu ‘diambil’ dan ‘dicatat’ untuk menemukan buku/pustaka yang dimaksud dalam katalog. Biasanya call number atau nomer panggil-lah yang menjadi ‘alat’ terakhir bagi pengguna/petugas untuk menemukan koleksi buku/pustaka yang dimaksud, untuk itu nomer panggil inilah yang perlu diperhatikan selanjutnya oleh pengguna. Sehingga pada kasus ini maka pengguna atau petugas mempunyai dan atau mendapatkan informasi berupa judul/ subyek/pengarang, katalog tercetak, nomer panggil, dan tanda penomoran rak yang akan mengantarkannya kepada koleksi buku/pustaka yang diinginkan.”

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi 

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi
Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi

Pengertian Informasi Dan Penelusuran Informasi 

Secara sederhana informasi dapat dipahami sebagai data yang diberi makna. Artinya informasi merupakan bentuk ‘olahan’ dari data yang diperuntukan untuk tujuan tertentu agar penerima dapat mengerti arti dan makna dari data tersebut. Sedangkan menurut businessdictionary.com informasi didefinisikan sebagai berikut:
“Data that is (1) accurate and timely, (2) specific and organized for a purpose, (3) presented within a context that gives it meaning and relevance, and (4) can lead to an increase in understanding and decrease in uncertainty.”
Definisi di atas jelas memperlihatkan bahwa informasi merupakan bentuk pemaknaan dari data dalam konteks tertentu yang ditujukan agar dapat meningkatkan pemahaman dan mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.

Informasi secara prinsip sebetulnya

‘hanya’ terdiri dari dua jenis yakni informasi lisan dan informasi terekam. Informasi lisan merujuk pada informasi yang disampaikan secara lisan dan merupakan bentuk komunikasi di dalam masyarakat. Sedangkan informasi terekam merujuk kepada informasi yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, jurnal, compact disc, ataupun bentuk lainnya. Perpustakaan sebagai lembaga pusat sumber informasi biasanya lebih banyak mengelola informasi terekam bukan informasi lisan.

Informasi yang terekam dalam perpustakaan

dapat dilihat dalam berbagai bentuk koleksi ataupun media seperti koleksi buku fiksi, koleksi buku non fiksi, koleksi media cetak non buku, koleksi multimedia, dan koleksi digital/online. Koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi fiktif, inspiratif, dan rekreatif yang berupa buku cerita, novel, dan lain-lain. Sedangkan koleksi buku non fiksi biasanya menyimpan informasi yang lebih bersifat informatif, edukatif, dan ilmiah yang berupa buku teks, buku referensi, buku pedoman, buku manual, dan lain-lain.
Adapun koleksi media non buku biasanya berupa terbitan berkala, leaflet, pamlet, brosur, poster, kliping, lukisan atau gambar, peta, globe bahkan alat peraga. Koleksi multimedia merupakan satu bentuk informasi terekam dalam berbagai media yang mengandalkan teknologi elektronik seperti video cassette, audio cassette, CD, DVD, media mikro, audio reader, slide suara, audio book, dan lain-lain. Bahkan kemajuan internet telah membuat informasi dapat diakses secara online melalui situs web, video onine, audio online, journal online, database online, majalah online, koran online dan media online lainnya.
Keberadaan informasi dalam keanekaragaman bentuk media atau sumber tentu menjadikan masalah tersendiri dalam bagaimana menemukan kembali informasi yang ada. Apalagi apabila jumlah informasi yang beredar sudah mencapai ribuan, jutaan bahkan milyaran. Hal inilah yang kemudian mengapa diperlukan adanya media atau strategi untuk mendapatkan informasi secara cepat, tepat dan akurat. Proses dalam menemukan informasi inilah yang sering disebut sebagai temu kembali informasi, dimana secara spesifik juga akan menyangkut penelusuran informasi.

Temu kembali informasi sendiri merupakan

kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai (Sulistyo-Basuki, 1992). “Temu balik informasi” merupakan istilah yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakan. Sedangkan penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang dibutuhkan, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan / unit informasi.
Penelusuran informasi menjadi penting karena “ruh” atau “nyawa” dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemakai, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemakai, dan bagaimana memberikan “jalan” kepada pemakai untuk menemukan informasi yang dikehendaki. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat dan tepat. Proses dan penggunaan alat yang tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula.

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah
Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

Ratusan siswa meriahkan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) ke-17 di Medan

, Sumut. Lasenas kali ini berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya karena lebih banyak diisi kegiatan simulasi, diskusi, pidato, ketrampilan membuat cokelat, lilin, dan lainnya.

“Lasenas 2019 sangat berbeda dengan sebelumnya. Kami desain agar siswa bisa memahami sejarah dengan cara menyenangkan tanpa menghafal. Lasenas juga tidak hanya menonjolkan pada agenda jalan-jalan,” kata Kasubdit Geografi Sejarah Kemendikbud Agus Widiatmoko yang ditemui saat pembukaan Lasenas ke-17 di Medan, Selasa (9/7).

Cara-cara kreatif, lanjutnya, harus dilakukan agar siswa tidak melupakan sejarah. Apalagi di era revolusi industri 4.0, pemahaman sejarah siswa semakin tergerus oleh paparan teknologi.

Sejarah masih dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan karena penuh dengan hafalan.

 

BACA JUGA: Kemendikbud: Usia 15 Tahun 15 Hari Bisa Diterima di SMP Negeri

Lasenas ke-17 ini yang diadakan hingga 12 Juli mendatang diikuti 150 peserta yang terdiri dari siswa dan siswi SMA, SMK dan MA serta guru-guru dari seluruh Indonesia.

Direktur Sejarah Kemendikbud Triana Wulandari

yang membuka Lasenas ke-17 mengungkapkan, banyak tempat bersejarah di Medan perlu diangkat lagi ke permukaan. Lewat Lasenas, siswa diajarkan memahami sejarah dan melihat langsung kota-kota bersejarah di Indonesia.

“Dengan demikian, siswa akan lebih mencintai sejarah dan kebudayaan Indonesia yang sangat beragam,” ucapnya.

 

Baca Juga :

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah
80 Kampus Kembangkan Produk Unggulan Daerah

Pemerintah akan mendorong 80 universitas untuk mengembangkan inovasi produk unggulan daerah.

Nanti setiap kampus akan mendapat bantuan pendanaan sekitar Rp5 miliar.

Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe mengatakan, melalui proses teaching industry kementerian akan mendorong universitas untuk mengembangkan produk unggulan berdasarkan sumber daya alam (SDA) di daerah setempat. Dia menjelaskan, selama ini yang sudah mendapatkan tugas khusus pengembangan SDA setempat baru perguruan tinggi negeri badan hukum (PTN BH).

“Ke depan kami memiliki rencana agar tidak hanya PTN BH, namun semua perguruan tinggi yang punya kekhususan untuk diberi tugas khusus membangun produk inovasi berbasis wilayah. Harapan kita secara nasional semua perguruan tinggi memiliki hal ini,” katanya saat Workshop Tindak Lanjut Hasil Rakernas Kemenristekdikti 2019 bidang Penguatan Inovasi di Jakarta kemarin.

Baca Juga:

Menristekdikti: Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

Kemenristekdikti akan memberikan fasilitas dana. Selain itu, juga bantuan sarana prasarana yang diperlukan untuk pengembangan unggulan inovasi tersebut.

Jumain menerangkan, kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) telah ditugasi mengembangkan padi dan buah, Institut Teknologi Surabaya (ITS) dengan kendaraan listriknya, hingga Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan pengembangan bibit unggul sapi.

“PTN BH telah kami tugaskan dengan teaching industry yang melahirkan kemampuan untuk masuk ke dunia usaha dari inovasi yang telah dihasilkan. Harapan ini, semua perguruan tinggi pun bisa berinovasi dan menghilirisasi produknya,” jelasnya.

Dia memberikan contoh inovasi yang saat ini tengah dibina

untuk pengembangan produk unggulan di daerah setempat. Seperti di kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh dengan pengembangan nilam sebagai bahan baku parfum. Kemudian di Universitas Khairun Ternate untuk mengembangkan minyak atsiri dari buah pala.

Jumain melanjutkan, kalaupun perguruan tinggi tersebut masih belum mampu melakukan pengembangan secara mandiri, maka diperbolehkan kerja sama dengan perguruan tinggi lain. “Misalnya di Universitas Khairun kan kemampuannya dalam pengembangan minyak atsiri kan belum (baik). Nah, kita minta nanti kerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) atau IPB,” jelasnya.

 

Sumber :

https://telegra.ph/Contoh-Teks-Eksplanasi-Tentang-Sosial-Pengangguran-07-05

Institut Pertanian Bogor Rebranding Sebutan Nama Kampus

Institut Pertanian Bogor Rebranding Sebutan Nama Kampus

Institut Pertanian Bogor Rebranding Sebutan Nama Kampus

Institut Pertanian Bogor Rebranding Sebutan Nama Kampus
Institut Pertanian Bogor Rebranding Sebutan Nama Kampus

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria menjelaskan, upaya rebranding lembaga pendidikan yang dipimpinnya didasari karena hampir semua organisasi di dunia selalu melakukan audit brand atau mengecek kesehatan sebuah brand.
“Brand itu masih oke, enggak. Jadi, kalau brand itu masih sehat akan dipertahankan, tapi kalau kurang sehat, itu tentu harus diubah,” kata Arif.

Dalam mengubah sebutan nama kampus agar lebih sehat, pihaknya bekerja sama dengan konsultan ahli brand profesional. Mereka melakukan rebranding itu tidak sembarangan. Ini baru sebatas mengubah nama singkatan saja, belum logo.

“Jadi, dalam perubahan itu, kami melalukan riset yang membutuhkan waktu selama enam bulan dengan meminta tanggapan mahasiswa, orang tua, anak SMA, mitra, dan pemerintah. IPB itu seperti apa? Jadi, kami menyerap apa pandangan mereka,” katanya.

Baca Juga:

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas

Dia menambahkan, setelah itu ciri-cirinya sebenarnya yang diubah pertama kali itu adalah tagline IPB, yakni searching and serving the best atau mencari dan memberikan yang terbaik. “Setelah 20 tahun, tepatnya sejak 1998, kami evaluasi tagline tersebut, ternyata tidak ada diferensiasinya dibandingkan organisasi lain. Apa yang membedakan IPB dengan kampus lain,” ujarnya.

Jadi memang, kata dia, tagline mencari dan memberikan yang terbaik itu sudah menjadi suatu keharusan semua orang sehingga terlalu generik, maka butuh tagline sesuai dengan identitas IPB itu sendiri.

“Nah, hasil survei itu ada suatu ciri yang semua menggambarkan realitas bahwa orang IPB itu, termasuk alumninya punya dua ciri penting, yaitu pertama integritas di mana orang IPB itu jika mengajar serius dan beretika. Kemudian kedua adalah inovasi, sudah banyak penghargaan yang kami peroleh karena inovasi,” ungkapnya.

Karena itu, wajar jika pihaknya kemudian mengubah tagline atau moto dari searching and serving the best menjadi inspiring innovation with integrity. Menurutnya, sejak lama IPB mengalami dualisme terjemahan nama kampus. Dia menyebut, pemilihan kata ‘university’ karena IPB menawarkan program studi lebih banyak dan luas, tidak sekadar aspek pertanian dan kelautan saja.

Arif juga mengatakan, hasil studi eksplorasi pemangku kepentingan memberikan masukan bahwa kata ‘pertanian’

di kampus itu telah diartikan sempit oleh calon mahasiswa dan orang tuanya. “Ada beberapa corporate brand yang menempuh strategi ini untuk memberi simplicity dalam pengucapannya. Tetapi, lebih solid dalam exporsure-nya dan menjelaskan janji brand-nya. Untuk itulah IPB mengubah brand,” ujarnya.

Walaupun terjemahan yang lebih sesuai adalah “Bogor Agricultural Institute”, sudah lama IPB menggunakan terminologi “Bogor Agricultural University” dalam bahasa Inggrisnya. Alasan mengapa dipilih kata University diawali dengan pemikiran bahwa telah lama IPB menawarkan program studi lebih banyak dan luas, lebih dari aspek pertanian dan kelautan saja.

Namun yang berubah dari brand IPB ini adalah jika awalnya “Bogor Agricultural University”

terasa lebih panjang dan jika disingkat kurang elok, maka disederhanakan menjadi “IPB University”. “Yang jelas, kegiatan rebranding ini juga melihat kebutuhan baru para future students dan stakeholder lainnya.

Slogan lama ‘Searching and Serving the Best’ dirasakan sudah menjadi sebuah keharusan dan kekuatan Institusi. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, maka IPB University merasakan kebutuhan untuk memiliki janji baru lebih distinctive, berbeda dari universitas lain,” katanya.

 

 

Sumber :

https://telegra.ph/Pengertian-Teks-Ulasan-Contoh-Ciri-Tujuan-Struktur-07-05

Mampukah Sistem Zonasi Menjawab Pemerataan Siswa dan Mutu Pendidikan?

Mampukah Sistem Zonasi Menjawab Pemerataan Siswa dan Mutu Pendidikan

Mampukah Sistem Zonasi Menjawab Pemerataan Siswa dan Mutu Pendidikan?

Mampukah Sistem Zonasi Menjawab Pemerataan Siswa dan Mutu Pendidikan
Mampukah Sistem Zonasi Menjawab Pemerataan Siswa dan Mutu Pendidikan

Persaingan masuk sekolah negeri kerap membuat waswas. Persaingan antarcalon siswa ketat. Diperlukan kecermatan saat mendaftar. Salah satunya terkait sistem zona. Pendaftar tidak merata.

PENDAFTARANonline penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMPN berakhir 15 Juni lalu. Hasilnya, lembaga yang dijuluki sekolah favorit tetap mendominasi pendaftaran. Jumlahnya membeludak. Di sisi lain, peminat sekolah pinggiran cenderung sedikit.
Mampukah Sistem Zonasi Menjawab Pemerataan Siswa dan Mutu Pendidikan?
SMPN Yang Kurang Pendaftar (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Fenomena tersebut mengulang cerita PPDB tahun-tahun sebelumnya. Belum banyak perubahan. Padahal, pada tahun pelajaran 2017–2018, PPDB menerapkan aturan baru, yaitu sistem zonasi. Sekolah-sekolah negeri dikelompokkan berdasar zona.

Pembagian zona sekolah mempertimbangkan tempat tinggal calon siswa. Calon siswa dari zona A dianjurkan tidak mendaftar ke sekolah luar zona. Jika nekat, peluang mereka kecil. Sebab, kuota pendaftar luar zona dibatasi hanya 5 persen dari total pagu.

Aturan sistem zonasi tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) 17/2017 tentang PPDB. Sistem zonasi merupakan upaya pemerataan jumlah pendaftar dan kualitas pendidikan.

”Tujuannya bagus, agar calon peserta didik tidak menumpuk di sekolah-sekolah yang dianggap favorit,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Gresik Mahin Muchtar kemarin (29/6).

Bagaimana realisasinya? Hasilnya belum sesuai harapan. Penerapan sistem zonasi belum efektif. Buktinya, persebaran jumlah pendaftar sekolah negeri tetap tidak merata. Ada kesenjangan jumlah calon peserta didik antara sekolah yang dianggap favorit dan sekolah pinggiran.

SMPN 4 Sidayu, misalnya. Hingga pendaftaran ditutup, pagu sekolah tersebut belum terpenuhi. Padahal, pagunya hanya 96 anak. Jumlah pendaftar ternyata cuma 43 anak. Kepala SMPN 4 Sidayu Daifi mengakui, jumlah pendaftar di sekolahnya seperti mengulang fenomena PPDB tahun-tahun sebelumnya. ”Memang seperti itu pendaftar di sekolah kami,” ujarnya.

Jadi? Seluruh pendaftar, yaitu 43 anak, pasti diterima. Syaratnya,

calon peserta didik tetap mengikuti tes potensi akademik (TPA) pada 5 Juli. Sebab, selain nilai ujian sekolah (US) SD, TPA menjadi syarat mutlak kelulusan dalam PPDB. ”Kalau ikut TPA, pasti diterima,” ucapnya.

Meski demikian, Daifi masih optimistis sekolahnya mampu memenuhi 96 bangku siswa baru. Sebab, selain menjadikan pilihan pertama, ada pendaftar yang memilih SMPN 4 Sidayu sebagai pilihan kedua dan ketiga.

Selain itu, Daifi mengharapkan limpahan calon peserta didik dari sekolah lain. Terutama SMPN 1 Sidayu dengan 311 pendaftar. ’’Saya optimistis masih bisa (memenuhi pagu, Red),” tutur pria asal Bawean tersebut.

Pada 2016, SMPN 4 Sidayu termasuk lembaga yang tidak memenuhi pagu.

Tahun lalu, dari pagu 96, sekolah itu hanya bisa menjaring 62 siswa. Akhirnya, rencana tiga rombongan belajar (rombel) menciut menjadi dua rombel.

Kekurangan pendaftar juga terjadi di SMPN 3 Balongpanggang. Pagunya 128, tapi hanya ada 88 pendaftar. Meski demikian, Kepala SMPN 3 Balongpanggang Burhanuddin optimistis pagu bisa terpenuhi. ’’Masih ada pendaftar yang memilih pilihan kedua dan ketiga. Itu harapan kami,” katanya.

Burhanuddin juga mengaku cukup puas. Sebab, jumlah pendaftar dalam PPDB 2017 masih lebih baik daripada 2016. Tahun lalu, hanya ada 55 pendaftar di SMPN 3 Balongpanggang. Sekolahnya tertolong oleh limpahan pendaftar dari SMPN 1 Balongpanggang.

Di sisi lain, Burhanuddin memaklumi kondisi tersebut. Stigma sekolah pinggiran

masih melekat di lembaganya. Sulit dijangkau transportasi. Sekolah di Desa Pacuh, Balongpanggang, berjarak sekitar 5 kilometer dari jalan utama. ’’Itu membuat orang tua malas menyekolahkan anaknya ke sini,” ujarnya. Padahal, sekolahnya memperoleh akreditasi A dan berstatus adiwiyata.

SMPN 4 Sidayu dan SMPN 3 Balongpanggang adalah dua di antara 16 SMPN yang terancam kekurangan pendaftar. Pendaftar di satu sekolah sangat jomplang dengan lembaga lain (

 

Baca Juga :

 

 

SDN 09 Capkala Butuh Bantuan, Kondisinya Memprihatinkan

SDN 09 Capkala Butuh Bantuan, Kondisinya Memprihatinkan

SDN 09 Capkala Butuh Bantuan, Kondisinya Memprihatinkan

SDN 09 Capkala Butuh Bantuan, Kondisinya Memprihatinkan
SDN 09 Capkala Butuh Bantuan, Kondisinya Memprihatinkan

Harapan akan dunia pendidikan dengan sistem sempurna di Kalbar seakan sirna seketika. Saat melihat bangunan SD Negeri 09 Desa Capkala, Kecamatan Capkala, Kabupaten Bengkayang yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan, mengancam keselamatan siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar.

Secara kasat mata kondisi bangunan sekolah tersebut sudah tak layak

dipergunakan sebagai tempat untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Apalagi struktur bangunan banyak yang sudah lapuk karena dimakan usia. Mulai dari atap, tiang bangunan, lantai serta plafon. Bahkan, banyak plafon yang terlihat bergelantungan seolah mengintai mangsa. Belum lagi berbicara minimnya lokal yang tersedia di SD tersebut.

“Pendidikan adalah sarana untuk mencetak generasi penerus bangsa untuk menjadi manusia-manusia berkualitas. Tak dapat dipungkiri pendidikan merupakan ujung tombak dalam memajukan kehidupan bangsa dan negara. Pendidikan tercipta karena adanya kebutuhan untuk meningkatkan taraf kualitas hidup serta membentuk kepribadian manusia yang bermoral,” ujar anggota DPRD Provinsi Kalbar, Neneng, Jumat (30/6).

Wakil rakyat asal Dapil Kabupaten Bengkayang-Kota Singkawang ini mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang dan Pemerintah Provinsi Kalbar harus bisa bersinergi dalam upaya memajukan dunia pendidikan di Kalbar.

“Kondisi bangunan SD Negeri 09 Desa Capkala, Kecamatan Capkala,

Kabupaten Bengkayang sangat memprihatinkan. Saya harap pemerintah segera menindaklanjuti kondisi bangunan sekolah tersebut. Jangan sampai sudah jatuh korban baru melakukan tindakan,” tegasnya.

Legislator Partai Demokrat ini berpendapat, keberadaan SD Negeri 09 Desa Capkala sudah tidak layak untuk dipergunakan sehingga bisa mempengaruhi proses belajar mengajar.

“Kondisi ini bisa mengakibatkan konsentrasi anak-anak murid menurun saat mengikuti pelajaran. Saya harap pemerintah segera membangun gedung sekolah baru,” tegasnya.

Sekadar diketahui bahwa SD Negeri 09 Desa Capkala mempunyai tiga ruang kelas.

Yakni, kelas 1 hingga kelas 3. Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 62 orang. Guru yang mengajar berjumlah enam orang. Dua laki-laki serta empat perempuan.

Sedangkan kelas 4 hingga kelas 6 sudah dipindahkan ke sekolah lain. Yakni, menumpang di sekolah baru di Pasar Capkala. Pasalnya lokal sekolah yang dimiliki sangat terbatas. “Mohon dibantu serta dibangun gedung sekolah yang baru. Itu merupakan aspirasi yang disampaikan masyarakat setempat,” lugasnya.

Menurutnya, melalui pendidikan diharapkan anak-anak bangsa mendapatkan keahlian di bidang yang diminati dan kepribadian yang bermoral.

“Sehingga keduanya seimbang dimiliki oleh generasi penerus bangsa untuk menyelesaikan segala permasalahan di masyarakat di masa mendatang,” ulasnya.

 

Sumber :

https://harare.storeboard.com/blogs/education/material-about-building-a-beam-room/965003

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan
Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Kesibukan Sastro sebagai kepala sekolah dan pengajar tidak membuatnya abai

dengan persoalan lingkungan di sekolah. Terutama dalam membangun lingkungan yang hijau, bersih, dan sehat.

Untuk menciptakan kondisi tersebut, Sastro telah memiliki beberapa program lingkungan nyata yang diterapkan di sekolah. Di antaranya, penanaman pohon, pembuatan kompos, serta gerakan memungut sampah. Selain itu, beberapa pokja dibentuk untuk menangani masalah lingkungan di sekolah. ”Setiap Jumat, misalnya. Kami adakan Jumat bersih. Semua warga sekolah harus ikut kegiatan tersebut,” tegasnya.
Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan
Tentang Sastro SPd MPd (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/.com)

Selain gerakan nyata, untuk meningkatkan pemahaman cinta lingkungan seluruh siswa, Sastro membuat buku khusus bertema lingkungan. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung membuat enam buku untuk siswa kelas I hingga VI.

Untuk setiap jenjang, Sastro membedakan materi buku tersebut berdasar

kemampuan berpikir siswa. Semakin tinggi kelas siswa, materi lingkungan yang diberikan semakin luas.

Dia mencontohkan buku untuk kelas I. Materi yang digunakan sebatas mengenai lingkungan keluarga. Sementara itu, untuk kelas VI, materinya terdiri atas lingkungan fisik dan sosial. ”Dalam materi lingkungan kelas atas ini, juga diajarkan karakteristik kondisi lingkungan beberapa daerah di Indonesia,” jelas bapak tiga putra itu.

Buku yang rampung ditulis pada 2013 tersebut sengaja dibuat

untuk mempermudah siswa dalam memahami lingkungan. Latar belakangnya, selama ini belum banyak buku soal lingkungan yang tersedia. Siswa sering kesulitan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan

 

Sumber :

http://groupspaces.com/Education30/pages/geography

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli
Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli
Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
4. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Francis Merill
a. Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
b. Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.

Bounded et.al

Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.

Mitchell (Dictionary of Soriblogy)

Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.

Robert H Lowie

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.

Arkeolog R. Seokmono

            Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh kesimpulan mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia
Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Di negara kita, dewasa ini telah terjadi polarisasi dan membentuk kebudayaan sendiri.

Polarisasi ini didasarkan kepada kecendrungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu kedalam dua golongan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Perbedaan ini menjadi sedemikian tajam seolah-olah kedua golongan ilmu ini membentuk dirinya sendiri dan yang masing-masing terpisah satu sama lain. Seakan-akan terdapat dua kebudayaan dalam bidang keilmuan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Terdapat pranata-pranata sosial, bahkan pranta-pranata pendidikan, yang masing-masing mendukung kebudayaan tersebut, yang semakin memperluas jurang perbedaan antara keduanya.

 

Dua pola kebudayaan tersebut dicerminakan dengan adanya jurusan Pasti-Alam dan Sosial-Budaya

dalam system pendidikan kita. Adanya pemmbagian jurusan ini merupaka hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di negara kita. Sudah merupakan rahasia umum bahwa jurusan Pasti-Alam dianggap lebih mempunyai prestise dibandingkan dengan jurusan Sosial-Budaya. Ha ini akan menyebabkan mereka yang mempunyai minat dan bakat di bidang ilmu-ilmu sosial akan terbujuk untuk memilih jurusan Pasti-Alam karean alasan-alasan sosial psikologis.

 

Dipihak lain, mereka yang sudah terkotak di dalam jurusan Sosial-Budaya

dalam proses pendidikannya kurang mendapatkan bimbingan yang cukup dalam pengetahuan matematikanya umtuk menjadi ilmuwan kelas satu yang benar-benar mampu.

 

Argumentasi yang sering dikemukakan didasarkan pada dua asumsi.

Asumsi yang pertama mengemukakan sebagai raison d’etre bagi eksistensi pembagian jurusan ini didasrkan pada dua asumsi. Asumsi yang pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan matematika yang mengharuskan kita mengembangkan pola pendidikan berbeda pula. Asumsi yang kedua menganggap ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan mateamtika dapat menjuruskan keahliannya di bidang keilmuan ini. Pendapat kita kita mengenai asumsi kedua adalah jelas bahwa asumsi ini ketinggalan zaman dan tidak dapat dipertahankan lagi. Pegembangan-pengembangan ilmu sosial memerlukan membutuhkan bakat-bakat matematika yang baik untuk menjadikannya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.

 Sedangkan dalam memberiakan penilaian terhadap asumsi yang pertama sebaiknya kita mempelajarinya dengan sangat berhati-hati. Berpikir secara matematik tidak terlepas dari cara berpikir masyarakat secara keseluruhan. Artinya bahwa cara berpikir mempunyai konotasi cultural yang berjangkar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Terlampau bahaya bagi kita untuk mengmabil kesimpulan secara deduktif dari kasus-kasus di negara lain. Sebaiknya kita menunda penilaian  kita mengenai hal ini dan mennyerahkan masalah tersebut terhadap para pendidik untuk mengkajinya lebih lanjut.

Sumber : http://diana-ega-fst12.web.unair.ac.id/artikel_detail-243960-Umum-Sejarah%20BPUPKI.html