shadow

Karakter Anti Kritik Penghambat Peradaban

Karakter Anti Kritik Penghambat Peradaban

Karakter Anti Kritik Penghambat Peradaban

Karakter Anti Kritik Penghambat Peradaban
Karakter Anti Kritik Penghambat Peradaban

Suatu hari, Sang Ibu membersihkan mushola dengan mengepel teras mushola. Ia kembali mengingatkan beberapa orang yang tidur di teras, karena jelas ada larangan tidur di area mushola. Ini berjalan lancar, kemudian ada orang yang merokok tepat di lokasi larangan merokok. Dan ia pun langsung diingatkan oleh Ibu ini. Pergilah pria perokok tersebut. Namun, pria disamping saya di sisi lain (sebut saja mr X) berceletuk “ibu ini kayak yang punya aja, digaji enggak, tapi sok ngatur-ngatur. Dia tu orang gang sini juga mas (sembari menghadap saya)”.

Saya cukup kaget mendengar ia berkata demikian, padahal yang dilakukan sang Ibu ini semuanya benar menurut saya. Dan harusnya kita bangga dengan hadirnya ibu ini. Mushola bisa selalu bersih dan tanpa meminta imbalan apapun. Nah, tidak lama kemudian Pria Mr X ini makan di area mushola. Jelas saja sang ibu langsung melarangnya cuma tidak menyuruhnya pergi secara langsung.

Ibu : “Pak boleh makan tapi jangan sampai cemat cemot (berantakan)”

Mr X : “orang makan kok cematcemot” (sembari menghadap saya dan meneruskan makannya)

Beberapa waktu kemudian makanan Mr X ini tumpah dan mengotori bagian teras mushola. Mr X ini pun sempat panik dan ia membersikan sebisanya dan langsung pergi begitu saja. (mungkin dia malu).

Cerita di atas benar-benar terjadi dan menjadi gambaran, apakah demikian karakter orang-orang Indonesia?. Padahal, sang ibu tidak mengkritik terlalu jauh, hanya menyampaikan aturan yang sudah dituliskan jelas dan ditempel pada dinding mushola. Namun, yang diterima bukanlah feedback positif.

Mulai dari aturan yang dilanggar hingga membuat alasan untuk membenarkan hal yang dilakukannya ketika melanggar menjadi sebuah kebiasaan orang-orang tersebut. Tak hanya kejadian ini saja, masih banyak kejadian di luar sana yang menggambarkan hal sejenis.

Entah kenapa karakter seperti ini seakan sudah menjadi tradisi seperti menolak perbaikan, menolak kiritikan, menolak ketika diingatkan. Bahkan, ia membalas dengan hal-hal negatif kepada orang yang mengkritiknya. Padahal jika aturan yang sudah diterapkan itu ditaati pastinya semuanya akan berjalan dengan baik. (sumber kisah: Fajar, kompasiana.com)

Kemenangan Semu
Kalau ribut dengan pelanggan,
Walaupun kita menang,
Pelanggan tetap akan lari.

Kalau ribut dengan rekan sekerja,
Walaupun kita menang,
Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.

Kalau kita ribut dengan boss,
Walaupun kita menang,
Tiada lagi masa depan di tempat itu.

Kalau kita ribut dengan keluarga,
Walaupun kita menang,
Hubungan kekeluargaan akan renggang.

Kalau kita ribut dengan guru,
Walaupun kita menang,
Keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang.

Kalau ribut dengan kawan,
Walaupun kita menang,
Yang pasti kita akan kekurangan kawan.

Kalau ribut dengan pasangan,
Walaupun kita menang,
Perasaan sayang pasti akan berkurang.

Kalau kita ribut dengan siapapun,
Walaupun kita menang,
Kita tetap kalah…
Yang menang cuma ego diri sendiri, itu hanyalah kemenangan semu.
Yang susah adalah mengalahkan ego diri sendiri. Namun, jika kita mampu menaklukan diri sendiri, ialah pemenang sejati.

Apabila menerima teguran, tidak perlu marah, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita.

Anti kritik akan membuat kita tak akan pernah maju, atau kalaupun maju akan sangat lamban karena kita akan bergerak secara alamiah tanpa ada faktor eksternal yang menyokongnya. Kritik bisa hadir dalam bentuk beragam. Bisa dalam bentuk tulisan, perkataan maupun sikap. Disinilah dituntut profesionalitas kita menyikapinya. Ketika kita masih mengutamakan hati dan perasaan, maka yang biasanya akan muncul adalah penolakan. Dalam ilmu kejiwaan hal ini adalah standar yang tak perlu diperdebatkan. Cara kita menanggapinya menjadi sinyal seberapa baik kecerdasan emosional kita, seberapa besar dan lapang jiwa kita.

Masih ingatkah dengan Brand “Nokia”, raja ponsel semenjak tahun 1990 an yang akhirnya mulai terhantam dari tahun 2001. Raksasa seperti perusahaan Nokia kini hanya tinggal kenangan karena kegagalan membaca konsumen, kurang memahami tren telepon seluler dan bisa jadi kurang mampu menerima kritikan karena terlalu angkuh dengan nama besarnya.

Sumber : https://downloadapk.co.id/