shadow

Dia yang Entah Kemana

Dia yang Entah Kemana

Table of Contents

Dia yang Entah Kemana

Dia yang Entah Kemana
Dia yang Entah Kemana

Hanya kerontang
Menangisi kepergian rinai, entah kemana
Menanti bidadari turun, kapan
Tanah menjadi rekah, bersama batu
Suara langkah menuju …
keputusasaan

Angin kering, serak
Mengaburkan kabut yang semakin mengabut
Menerbangkan daun yang lelah,
tak berdaya
Menunggu ajal mencerabutnya
dari lapisan bumi

Di manakah dia berada?
Di manakah dia bersemayam?
Akankah terbangun dari tidur panjangnya?
Akankah masih punya nurani?

Dia adalah harapan, segala harapan
Sumber kehidupan dunia
Nyata

2 Oktober ’07

Kekeringan yang parah telah melanda beberapa daerah di Pulau Jawa. Kemarau berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Akibatnya, sumur – sumur menjadi mengering, termasuk waduk ( tadi aku membaca di koran bila air di Waduk Kedung Ombo hanya sanggup bertahan 37 hari lagi ) dan sungai ( Bengawan Solo yang telah mengering, justru menimbulkan bau yang tidak sedap ). Kesimpulannya TIDAK ADA AIR, berarti akan semakin menambah luka derita masyarakat.

Para petani yang sawahnya mengering lah yang paling menderita. Mereka menangis … merasa putus asa, ”mau makan apa?”

Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, tidak akan ada kehidupan ( dan, aku nggak mau membayangkannya! ). Bahkan, ada penduduk yang menebang pohon agar kayunya bisa dijual untuk membeli air. Dan, pemerintah tidak bisa berbuat apa – apa untuk mencegahnya. Karena pohon – pohon tersebut adalah milik mereka sendiri.
Semua menjadi serba dilemma. Tanpa pohon, tidak akan ada penyerapan air, tidak ada yang bertindak sebagai “penyimpan cadagan devisa”. Namun, tanpa air, mereka pun tidak akan bertahan lama.

Entah kapan musim penghujan akan mendatangi manusia? Bukannya matahari beserta UV – nya yang menyinari bumi sepanjang waktu.

Akankah datang kebahagiaan? Akankah muncul harapan baru untuk menatap masa depan? Sudahkah Tuhan memaafkan?

Kini, yang tersisa hanyalah misteri yang melingkupi hati yang resah.
The doors are still closed for us. God doesn’t apologize our attitude. May be, someday, when we are becoming well, God will send a smile, a pure and soft smile. Amien.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/