shadow

Dinamika Politik Santri

Dinamika Politik Santri

Dinamika Politik Santri

Dinamika Politik Santri
Dinamika Politik Santri

Direktur Pascasarjana IAIN Madura, Dr Zainuddin Syarif menilai santri sebagai sumber kekuatan politik pesantren.

Sebab santri merupakan salah satu elemen penting dalam keberadaan dunia pesantren.

Hal tersebut disampaikan dalam ajang internasional bertajuk Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019, yang digelar Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) di Jakarta, Selasa hingga Jum’at (1-4/10/2019).

“Prinsipnya dalam perspektif politik, santri merupakan sumber kekuatan politik pesantren.

Karena jalinan dan relasi santri terhadap sosok kiai adalah sebuah kepatuhan sam’an wa ta’atan denhan mengharap berkah agar kehidupan santri lebih baik,” kata Dr Zainuddin Syarif, Sabtu (5/10/2019).
Role model politik santri versi Dr Zainuddin Syarif.

Pihaknya menilai tidak salah jika Olesen menyatakan justifikasi simbol agama yang diberikan santri

terhadap kiainya seperti barakah, karamah dan lainnya merupakan faktor politik yang berfungsi sebagai sumber kekuatan. Seperti yang disampaikan Moesa dalam disertasinya ‘Agama dan Politik; Studi Konstruksi Sosial Kiai tentang Nasionalisme Pasca Orde Baru’.

“Hal ini menandakan bahwa santri sebagai unsur pesantren dan keberadaannya sangat menentukan, kiai tanpa santri seperti presiden tanpa rakyat. Karena mereka adalah sumber daya manusia yang tidak saja mendukung keberadaan pesantren, tetapi juga menopang intensitas pengaruh kiai dalam masyarakat,” ungkapnya.

Dalam statment Moesa, santri merupakan kepanjangan tangan kiai dalam keterwakilannya di partai politik melakukan partisipasi kreatif dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan. “Kenyataan ini diperkuat Mansurnoor yang menyatakan bahwa santri merupakan jangkar politik kiai yang berposisi sebagai Kiai Rajhe (besar) atau Elit yang mengkoordinir santri-santri yang mempunyai peran sentral di masyarakat. Seperti menjadi guru ngaji, madrasah, takmir masjid, kiai lokal (kene’), aparatur desa, dan lainya,” jelasnya.

“Era reformasi memberikan dampak perubahan terhadap pola pikir masyarakat dalam melepaskan diri dari jeratan dan kungkungan politik kekuasaan. Ledakan dan gelombang reformasi sebagai era baru dalam memberikan kebebasan dalam berpolitik, merambah juga terhadap perubahan perilaku politik santri,” imbuhnya.

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/sejarah-pramuka/