shadow

Mengenal Jamaah Syiah Indonesia

Mengenal Jamaah Syiah Indonesia

Syi’ah keliru satu aliran atau mazhab di dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti terhitung Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah.

Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber ilmu terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa dan juga penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.

Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yakni sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang tidak sama bersama khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah segera oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi artinya wahyu dari Allah.

Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni di dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, tentang Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai umpama perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.

Tanpa perhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal bersama Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, meskipun sekte-sekte di dalam Syi’ah tidak sama di dalam siapa pengganti para Imam dan Imam sementara ini.

Kontroversi Syiah bersama Sunny
Hubungan antara Sunni dan Syi’ah sudah mengalami kontroversi sejak masa awal terpecahnya secara politis dan ideologis antara para pengikut Bani Umayyah dan para pengikut Ali bin Abi Thalib. Sebagian kaum Sunni menyebut kaum Syi’ah bersama nama Rafidhah, yang menurut etimologi bahasa Arab artinya meninggalkan. Dalam terminologi syariat Sunni, Rafidhah artinya “mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar bin Khattab, berlepas diri dari keduanya, dan beberapa kawan akrab yang mengikuti keduanya”.

Sebagian Sunni berpikiran firqah (golongan) ini tumbuh tatkala seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang menyatakan dirinya masuk Islam, mendakwakan kecintaan pada Ahlul Bait, terlalu memuja-muji Ali bin Abu Thalib, dan menyatakan bahwa Ali membawa wasiat untuk memperoleh kekhalifahan. Syi’ah menolak keras hal ini. Menurut Syiah, Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif.
Namun terdapat pula kaum Syi’ah yang tidak membenarkan anggapan Sunni tersebut. Golongan Zaidiyyah misalnya, senantiasa menjunjung kawan akrab Nabi yang jadi khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Mereka terhitung menyatakan bahwa terdapat riwayat-riwayat Sunni yang menceritakan pertentangan di antara para kawan akrab tentang kasus imamah Abu Bakar dan Umar

Jamaah Syiah Indonesia

DR. Jalaluddin Rakhmat
Data penelitian pemerintah menyatakan kuantitas pengikut aliran Syiah di Indonesia berkisar 500 orang. Jumlah itu tersebar di pelbagai daerah. Namun, menurut Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (
IJABI) Jalaluddin Rakhmat, kuantitas itu cuma perkiraan terendah. “Ada perkiraan tertinggi, 5 juta orang.

Pemeluk Syiah, kata Kang Jalal melanjutkan, beberapa besar ada di Bandung, Makassar, dan Jakarta. Selain itu, ada terhitung grup Syiah di Tegal, Jepara, Pekalongan, dan Semarang; Garut; Bondowoso, Pasuruan, dan Madura. Di Sampang, kuantitas penganut Syiah tergolong kecil. Cuma 700 orang.

Banyak ulama di Indonesia yang berpikiran aliran Syiah sesat. Meski begitu, Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat berpikiran interaksi penganut Syiah bersama pemerintah baik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dulu menunjuk Jalaludin Rahmat sehingga ia jadi perwakilan Syiah di Indonesia yang pergi ke luar negeri. Permintaan itu singgah saat ada pertemuan menyangkut Syiah di dunia internasional.

Secara organisasi, grup Syiah terhitung diakui keberadaannya oleh Kementerian Dalam Negeri. Hal itu terbukti bersama terdaftarnya IJABI sebagai organisasi massa. Kata Jalal, secara politik, penganut Syiah punyai kedudukan yang serupa bersama pengikut aliran lainnya. “Sama-sama punyai hak berserikat dan berkumpul,” ujarnya.

Sejarah Perkembangan Syiah di Madura
Syiah di Pulau Garam ini adalah grup Islam minoritas. Lalu bagaimana aliran ini sanggup masuk, hidup, dan berkembang di tengah penduduk Madura yang berjumlah 3,62 juta jiwa (versi BPS 2010), yang nyaris seluruhnya adalah mayoritas Islam Sunni yang fanatik? Berikut ini hasil riset koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Jawa Timur, Andy Irfan,

Awal 1980-an
Kiai Makmun, seorang ulama yang awalnya Sunni di Nangkernang, Desa Karang Gayam, Sampang, mendapat kabar dari sahabatnya di Iran tentang revolusi Iran. Keberhasilan kaum ulama Iran yang dipimpin Ayatollah Ali Khomeini menumbangkan Syah Iran Reza Pahlevi (sebuah rezim yang diakui monarki) jadi sumber gagasan bagi Kiai Makmun.

Karena mayoritas ulama dan kaum muslim di lokasi Madura adalah pengikut Islam Sunni yang fanatik, Makmun mempelajari Syiah secara diam-diam bersama membaca buku-buku yang dikirim sahabatnya dari Iran.

1983
Ketertarikannya ini membuat Makmun mengirim tiga anak laki-lakinya, yakni Iklil al Milal yang sementara ini berusia 42 tahun; Tajul Muluk (40); Roisul Hukama (36); dan putrinya, Ummi Hani (32) ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Bangil, Pasuruan. YAPI dikenal sebagai pesantren yang condong pada mazhab Syiah.

1991
Selepas lulus SMP YAPI, Tajul Muluk ulang ke Sampang.

1993
Tajul berangkat ke Arab Saudi untuk studi di Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Al-Maliki. Karena terkendala biaya, sekolahnya berhenti di tengah jalan. Meski demikian, Tajul Muluk yang bernama asli Ali Murtadha ini senantiasa bertahan di Arab bersama bekerja.

1999
Tajul Muluk pulang dari Arab dan ulang menetap di Karang Gayam, Sampang. Keluarga Makmun dan penduduk setempat menyambutnya bersama gembira.

2004
Sejumlah warga desa yang terhitung murid Kiai Makmun mewakafkan sebidang tanah untuk mengembangkan pesantren beraliran Syiah. Pesantren kecil ini diberi nama Misbahul Huda. Ustad atau guru yang mengajar di pesantren ini adalah Tajul Muluk bersama semua saudara-saudaranya sesama alumni YAPI.

Berbeda bersama sang ayah, Tajul Muluk mengajar dan berdakwah ajaran Syiah secara terbuka dan terang-terangan. Sikap Tajul yang egaliter, supel, mudah tangan, cekatan, dan tidak bersedia terima imbalan tiap-tiap ceramah membuat Tajul jadi kiai muda yang dihormati di Karang Gayam.

Dalam sementara yang tidak lama, cuma kira-kira tiga tahun, ratusan warga di Desa Karang Gayam dan di Blu’uren (desa tetangga) sudah jadi pengikut Syiah dan murid Tajul yang setia.

Awal 2004
Perkembangan dakwah Tajul menyebarkan Syiah akhirnya mendapat respons dari para ulama setempat. Di antaranya Ali Karrar Shinhaji (masih kerabat dekat dari ayah Tajul, Kiai Makmun), pemimpin Pondok Pesantren Darut Tauhid, di Desa Lenteng, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Dalam sebuah pertemuan bersama Tajul dan saudara-saudaranya, Karrar terlalu berkeberatan dan tidak menyetujui kesibukan dakwah Tajul Muluk yang mengajarkan Syiah. Baginya, Syiah adalah mazhab di dalam Islam yang keliru dan sesat.

Tak cuma Karrar, para ulama lain di Sampang terhitung bersikap sama: keberatan bersama kesibukan Tajul. Saat itu, mereka tidak terbuka menentang dakwah Tajul Muluk sebab masih menyimpan rasa hormat pada ayah Tajul, Kiai Makmun.

Artikel Lainnya : contoh motivation letter

Juni 2004
Kiai Makmun meninggal setelah sakit. Setelah ia meninggal, para ulama setempat menentang keras penyebaran Syiah yang ditunaikan anak-anak Kiai Makmun. Intimidasi dan kekerasan pada komunitas minoritas Syiah Sampang yang diakui sesat menjadi kerap berjalan sejak sementara itu.

baca juga :

Posted in:
Articles by:
Published: