shadow

Bangsa Turki menjadi orang-orang yang menguasai khilafah

DINASTI ABBASIYAH PRIODE 2

Dominasi Bangsa Turki Terhadap Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

Pada masa Al-Mu’tashim Unsur Turki mulai memasuki pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Orang-orang Turki pada masa Al-Mu’tashim dijadikan sebagai pelayan, hamba, tentara, dan komandan. Bangsa Turki adalah orang-orang yang sangat kuat. Mereka terlatih perang, naik kuda dan senjata. Sehingga Al-Mu’tashim senang terhadap mereka. Walaupun demikian, Al-Mu’tashim hanya menganggap mereka hamba dan pembantu yang berada dibawah kekuasaannya.[1]
Pilihan Khalifah Al-Mu’tashim terhadap unsur Turki dalam ketentaraan terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Ma’mun dan sebelumnya[2]. Pada akhirnya Al-Mu’tashim pun merasakan bahaya dari Bangsa Turki dimana rakyat Baghdad dibuat marah oleh perilaku mereka. Bangsa Turki pernah menunggang kuda di Pasar untuk kemudian menginjak-injak anak kecil dan orang tua. Kemudian, terjadilan pertumpahan darah di sana. Untuk merendam gejolak yang terjadi akhirnya Al-Mu’tashim membangun kota Samarra untuk bangsa Turki. Dengan demikian orang-orang Turki memiliki tanah dan rumah sendiri. mereka pun menguasai tempat yang mereka diami dan akhirnya kekuasaan mereka pun terus bergerak.
Setelah Al-Mu’tashim meninggal pada tahun 227 H pemerintahan dilanjutkan oleh Al-Watsiq. Al-Watsiq menyerahkan segala urusan pemerintahan kepada para menteri dan para komandan yang berkebangsaan Turki. Al-Watsiq juga tidak memberikan gelar putra mahkota kepada siapapun sampai ia meninggal. Hal ini merupakan kesempatan Bangsa Turki untuk memilih khalifah yang tepat lalu terpilihlah Al-Mutawakkil sebagai khalifat selanjutnya.[3]
Demikianlah Bangsa Turki menjadi orang-orang yang menguasai khilafah. Kesalahan-kesalahan politik dari para khalifah Dinasti Abbasiyah pun datang silih berganti yang membukakan jalan yang luas untuk Bangsa Turki menempatkan orang-orang mereka. Hal tersebut menjadikan mereka pemilik ibu kota negara serta berhak menentukan khalifah. Sebenarnya, ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. Dari tiga belas Khalifah pada periode kedua ini, hanya empat khalifah yang meninggal secara wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa sehingga wibawa khalifah pun merosot tajam.


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

Posted in:
Articles by:
Published: