shadow

Pada masa khalifah Al-Manshur ibu kota negara yang dulunya adalah

PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN DAN KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH

Perkembangan Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M), dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji membayar upeti.
Pada masa Dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam sangat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijjaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan. Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian Barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah Barat.
Kemajuan-Kemajuan dan Perkembangan yang Dicapai : Secara garis besar ada dua faktor penyebab tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam, yakni faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal berasal dari dalam ajaran Islam bahwa ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, memiliki kekuatan yang luar biasa yang mampu memberikan motifasi bagi para pemeluknya untuk mengembangkan peradabannya.
Sedangkan faktor eksternalnya, yaitu ajaran yang merupakan proses sejarah umat Islam di dalam kehidupannya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran Islam. Faktor penyebab tersebut adalah semangat Islam, perkembangan​organisasi ketatanegaraan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan Islam.
B. Kemajuan yang dialami Dinasti Abbasiyah
Kemajuan di bidang Politik
Pada masa khalifah Al-Manshur ibu kota negara yang dulunya adalah Al-Hasyimiyah dipindahkan ke kota Baghdad. Di kota baru ini Al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, kepolisian negara, dan membentuk angkatan bersenjata, lembaga kehakiman, serta jawatan pos yang tidak hanya bertugas mengantar surat tetapi juga bertugas menghimpun informasi di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
Kemajuan di bidang Ekonomi
Pada masa Al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kejayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.
Kemajuan di bidang Agama
Pada masa Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, yaitu Tafsir bil al-Ma’tsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Tokoh tafsir terkenal seperti Ibn Jarir at-Tabary, Ibn Athiyah, Abu Bakar Asam (Mu’tazilah), Abu Muslim Muhammad Ibn Bahr Isfahany (Mu’tazilah), dan lain-lain.
Dalam bidang Hadits, mulai dikenal ilmu pengklasifikasian Hadits secara sistematis dan kronologis seperti, Shahih, Dhaif, dan Madhu’. Bahkan sudah diketemukan kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarrah dan ta’dil rawi yang meriwayatkan Hadis tersebut. Ahli Hadits terkenal di zaman ini adalah: Imam Bukhari (w 256 H), Imam Muslim (w 261 H), Ibn Majah (w 273 H), Abu Daud (w 275 H), at-Tirmidzi, An-Nasa’I (303 H), dan lain-lain.


Sumber: https://swatproject.org/

Posted in:
Articles by:
Published: