shadow

perbedaan cowok ganteng dan tidak ganteng

perbedaan cowok ganteng dan tidak ganteng

perbedaan cowok ganteng dan tidak ganteng

perbedaan cowok ganteng dan tidak ganteng
perbedaan cowok ganteng dan tidak ganteng

Kalau cowok ganteng pendiam cewek-cewek bilang “Wow, cool banget.” Kalau cowok jelek pendiam cewek-cewek bilang, “Ih kuper”

Kalau cowok ganteng jomblo cewek-cewek bilang “Pasti dia perfeksionis.” Kalau cowok jelek jomblo cewek-cewek bilang, “Udah jelas kagak laku”

Kalau cowok ganteng berbuat jahat cewek-cewek bilang “Nobody is perfect.” Kalau cowok jelek jahat cewek-cewek bilang, “tampangnya kriminal “

Kalau cowok ganteng nolongin cewek yang digangguin preman cewek-cewek bilang “Jantan, kayak di film-film”. Kalau cowok jelek yang nolongin cewek-cewek bilang, “Pasti premannya temennya dia.”

Kalau cowok ganteng dapet cewk cantik cewek-cewek bilang “Klop, serasi banget” Kalau cowok jelek dapet cewek cantik, cewek-cewek bilang, “Pasti main dukun “

Kalau cowok ganteng abis diputusin, cewek-cewek bilang “Gak usah sedih, kan masih ada aku” Kalau cowok jelek abis diputusin, cewek-cewek bilang, “kacian deh lu !”

Kalau cowok ganteng ngaku indo cewek-cewek bilang “Emang mirip bule sih” Kalau cowok jelek ngaku indo cewek-cewek bilang, “Pasti blasteran jin ama tuyul”

Kalau cowok ganteng sayang binatang cewek-cewek bilang “Penuh cinta kasih.” Kalau cowok jelek sayang binatang cewek-cewek bilang, “sesama keluarga emang harus menyayangi.”

Kalau cowok ganteng bawa mercy cewek-cewek bilang “Keren luar dalem.” Kalau cowok jelek bawa mercy cewek-cewek bilang,” Mas, majikannya mana ?”

Kalau cowok ganteng males difoto cewek-cewek bilang “Pasti takut fotonya disebar.” Kalau cowok jelek males difoto cewek-cewek bilang, “nggak tega liat hasil cetakannya.”

Kalau cowok ganteng naik motor gede cewek-cewek bilang “Wah keren kayak Lorenzo Lamas” Kalau cowok jelek naik motor gede cewek-cewek bilang, “Awas, Mandragade lewat !”

Kalau cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek-cewek bilang “Ini namanya Gentlemen” Kalau cowok jelek nuangin air ke gelas cewek-cewek bilang, “Naluri pembantu, emang gitu .”

Kalau cowok ganteng lagi sedih cewek-cewek bilang “Let me be your shoulder to cry on” Kalau cowok jelek sedih cewek-cewek bilang, “Cengeng amat sih ! laki-laki apa bukan? .”

Kalau cowok ganteng baca ini langsung ngaca dan senyum-senyum sambil berkata, “Life is so beautiful “ Kalau cowok jelek baca thread ini, frustasi, sambil ngomong, “Hidup ini KEJAAAAAAMM !!!

Sumber : https://aziritt.net/

Kelebihan Sistem Pilkada Langsung

Kelebihan Sistem Pilkada Langsung

Kelebihan Sistem Pilkada Langsung

Kelebihan Sistem Pilkada Langsung
Kelebihan Sistem Pilkada Langsung

Pertama, melalui sistem pemilihan seperti ini akan meningkatkan kesadaran dan kualitas seleksi kepemimpinan di daerah. Kedua, memaksimalkan partisipasi masyarakat daerah dalam pemungutan suara dalam pilkada. Ketiga,mendukung pelaksanaan demokrasi di tingkat nasional, karena demokrasi di tingkat nasional hanya mungkin terbangun jika demokrasi juga terbangun di tingkat lokal. Keempat, meningkatan rasa pertanggungjawaban dan kredibilitas kepala daerah karena dipilih langsung oleh masyarakat.

Kekurangan Sistem Pilkada Langsung

Pertama, money politics. Permasalahan money politics atau politik uang yang muncul dalam pelaksanaan pilkada periode UU No. 22 tahun 1999 ternyata muncul kembali pada pelaksanaan pilkada periode UU No. 32 tahun 2004. Money politics  yang sebelumnya terjadi di kalangan DPRD, saat ini money politics  beralih pada masyarakat sebagai pemilih dalam pemilihan kapala daerah. Selain itu, money politics juga telah merambah dikalangan partai politik. Diidentifikasikan, bahwa telah terjadi pembelian suara oleh calon kepala daerah kepada partai politik untuk dapat memenangkan pilkada.

Kedua, kerancuan peran DPRD dalam Pilkada juga dapat memicu konflik. Pilkada memang sepenuhnya dilaksanakan oleh KPU Daerah, tetapi pertanggungjawabannya harus disampaikan kepada DPRD, seperti yang tertulis pada pasal 66 ayat 3 poin, bahwa tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan  kepala daerah dan  wakil  kepala daerah adalahmeminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD. Dalam hal ini, kerja KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) berpotensi diintervensi oleh partai politik yang mempunyai kekuatan di DPRD. Sebab, sejalan dengan kewenangan yang besar dalam proses-proses politik lokal, partai politik berpotensi mengintervensi fungsi KPUD, jika kerja KPUD dianggap tidak menguntungkannya.

Ketiga, memunculkan konflik pasca pilkada. Munculnya konflik pasca pilkada dapat terjadi akibat kecurangan-kecurangan pada saat seperti, kempanye, manipulasi data berupa penggelembungan suara dan rasa tidak puas akibat calon idaman kalah.

Keempat, kuatnya hubungan emosional antara calon dan konstituen. Kuatnya hubungan emosional yang terbentuk dapat mengakibatkan legitimasi politik konstituen yang diterima kepala daerah lebih besar daripada legitimasi yang diterima presiden

Baca Juga : 

Analisa Pilkada Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004

Analisa Pilkada Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004

Analisa Pilkada  Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004

Analisa Pilkada Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004
Analisa Pilkada Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004

Sebagai jawaban atas semua permasalahan yang timbul pada pelaksanaan pilkada periode UU No. 22 tahun 1999, pemerintah menyusun dan menetapkan UU No. 32 tahun 2004. Dalam dalam pelaksanaanya, pilkada dilaksanakan secara langsung oleh masyarakat untuk memilih kepala daerah.

Pilkada langsung yang telah dilaksanakan mulai Juni 2005 merupakan yang pertama kali di Indonesia. Walaupun Indonesia telah mempunyai pengalaman dalam melakukan pemilihan secara langsung dalam pemilihan presiden pada 2004 lalu. Namun terdapat perbedaan secara yuridis formalmengenai aturan yang digunakan. Dalam pelaksanaan presiden secaa langsung sudah jelas tersurat dalam undang-undang, sementara untuk Pilkada, konstitusi hanya menyebutkan, bahwa Gubernur/ Walikota/ Bupati dipilih secara demokratis. Bagaimana pemilihan Kepala daerah secara demokratis itu bentuknya, konstitusi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Dalam UU No. 32 Tahun 2004 tidak disebutkan latar belakang mengapa Kepala Daerah dipilih oleh rakyat secara langsung. Dalam konstitusi ini hanya dijelaskan bahwa Pemilihan terhadap Kepala Daerah secara demokratis dengan mengingat bahwa tugas dan wewenang DPRD menurut UU No.22 Tahun 2003 (UU Susduk MPR/DPR/DPD/DPRD) yang menyatakan antara lain bahwa DPRD tidak memiliki tugas dan wewenang untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Dengan dasar pemilihan Kepala Daerah yang dikehendaki konstitusi secara demokratis, maka pembentuk UU No.32 Tahun 2004 mengambil keputusan Pilkada dilakukan langsung oleh rakyat.

Ilmuwan politik mengatakan, suatu negara dikatakan demokratis bila memenuhi prasyarat antara lain masyarakat memiliki kebebasan untuk merumuskan preferensi-preferensi politik mereka melalui jalur-jalur perserikatan, informasi dan komunikasi; memberikan ruang berkompetisi yang sehat dan melalui cara-cara damai; serta tidak melarang siapapun berkompetisi untuk jabatan politik.

Berdasarkan pernyataan Juan J Linz dan Alfred Stepan tersebut berarti pemilihan kepala daerah di Indonesia telah memasuki ruang demokrasi. Dalam kehidupan politik yang demokrasi, terdapat suatu kebebasan dalam berkomunikasi dan berkompetisi dalam kehidupan politik. Suatu prestasi yang sangat membanggakan telah berhasil diraih Indonesia dalam kehidupan politik di tingkat lokal.

Menurut saya permasalahan yang labih mendasar adalah bukan mengenai bagaimana sistem legitimasi di tingkat lokal, baik melalui mekanisme penunjukan langsung dari pemerintah pusat, pemilihan oleh DPRD yang disahkan oleh presiden, ataupun pemilihan langsung oleh rakyat. Namun permasalahannya adalah dapatkah pemilihan kepala daerah secara langsung ini memberikan manfaat berupa peningkatan tingkat kesejahteraan hidup masyarakat daerah.

Hal inilah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan dan penetapan sistem pemilihan kepala daerah oleh pemerintah. Sehingga tidak menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaanya. Terulangnnya permasalahan pilkada periode UU No. 22 tahun 1999, dapat dijadikan bukti kurangnya tanggapan pemerintah terhadap permasalahan yang ada di daerah. Kelebihan dan kekurangan dari sistem pemilihan kepala daerah saat ini, akan coba saya deskripsikan sebagai berikut.

Sumber : https://multi-part.co.id/the-arcana-apk/

Konflik di Tingkat Lokal

Konflik di Tingkat Lokal

Konflik di Tingkat Lokal

Konflik di Tingkat Lokal
Konflik di Tingkat Lokal

Konflik yang sering timbul dari pelaksanaan pilkada berdasarkan UU No. 22 1999 adalah konflik kepentingan yang terjadi pada tingkatan elit daerah. Hal ini dikarenakan kepala daerah lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan umum.Selain itu, konflik yang timbul biasanya disebabkan oleh perbedaan kepentingan antara Kepala Daerah dengan DPRD.

Oligarki Partai

Secara sederhana oligarki partai dapat diartikan sebagai dominasi oleh golongan terpilih atas golongan pemilih atau pimpinan partai atas anggota partai. Besarnya kekuasaan yang dimiliki oleh pimpinan partai membuat pimpinan partai berjalan menurut kehendak hatinya sendiri. Hal inilah yang membuat mereka terpisah dari masa (anggota partai). Penyebab utama terjadinya oligarki partai adalah kebutuhan teknis yang mendesak akan kepemimpinan.

Dari ketiga hal diatas dapat diketahui bahwa telah terjadi bad practice dalam pelaksanaan pilkada, periode UU No. 22 tahun 1999. Berdasarkan semua kekurangan dalam pelaksanaan pilkada di daerah tersebut, pemerintah telah menggantinya dengan peraturan perundang-undangan yang diharapkan dapat mengatasi permasalah tersebut.

Sumber : https://multi-part.co.id/guild-of-heroes-apk/

Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail

Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail

Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail

Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail
Teknik Negosiasi dalam Bisnis Retail

Hubungan antara pengecer, dalam hal ini pengelola toko dengan pemasok  atau suplier merupakan tahapan yang sangat penting, karena berhubungan  langsung dengan ketersediaan barang-barang yang akan dijual. Berikut ini  beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hubungan pengecer dengan  pemasok :

1. Kedua belah pihak perlu bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan  konsumen

2. Pengecer profesional mencari sumber barang yang dapat memenuhi kebutuhan akan barang-barang yang diminati oleh konsumen

3. Pengecer perlu membeli barang-barang dalam jumlah yang tepat, harga yangtepat dan di bawah perjanjian yang pantas

4. Pengecer memerlukan pemasok-pemasok yang kuat secara finansial dandapat membantu menawarkan bantuan promosi dan pelayanan yangbermanfaat

5. Pengecer membutuhkan hubungan yang lebih dekat dan dalam jangka panjang dengan pemasok

6. Pengecer bersedia mengkonsentrasikan pembelian mereka dengan pemasok yang dapat enak diajak bekerjasama

II. Potensi konflik antara pengecer dengan pemasok

Antara pengecer dengan pemasok kadangkala terjadi permasalahan atau konflik yang tidak dapat dihindarkan. Potensi konflik yang dapat ditimbulkan dari pihak pengecer yaitu :

1. Pengecer kurang mendorong penjualan barang pemasok

2. Pengecer lebih mengutamakan produk pesaing

3. Pengecer tidak menyediakan stock sebagaimana yang telah disepakati bersama

4. Pengecer menginginkan syarat-syarat perjanjian yang lebih menguntungkan

dan minta pengiriman yang sesering mungkin

5. Pengecer minta diskon yang lebih besar dan konsesi-konsesi lain

6. Pengecer sering terlambat membayar tagihan

Sedangkan potensi konflik dari pihak pemasok yaitu :

1. Pemasok hanya sedikit memberikan dukungan promosi

2. Sistem pengambilan barang kurang baik

3. Mutu barang kurang baik

4. Jaminan penyediaan barang tidak sesuai dengan yang di butuhkan

Hal –hal yang perlu disepakati

Dengan memperhatikan potensi konflik tersebut di atas, maka antara pihak pemasok dengan pengecer perlu membuat kesepakatan untuk beberapa hal yang menyangkut mengenai barang. Hal-hal tersebut yaitu :

1. Sistem pengiriman barang

2. Siapa yang menanggung biaya pengiriman

3. Bagaimana menangani pengembalian barang

4. Garansi macam apa yang dapat diberikan

5. Sistem pembayaran

6. Harga

7. Jumlah pembelian

8. Diskon

Beberapa pertimbangan dalam berhubungan dengan pemasok

Pengecer dengan pemasok tentunya menginginkan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk dapat mewujudkan keinginan tersebut maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

1. Kepercayaan

2. Harga

3. Pengiriman

4. Informasi

5. Order ulang

6. Mark up

7. Risiko

Baca Juga : 

Penyair adalah

Penyair adalah

Penyair adalah

Penyair adalah
Penyair adalah

Maka, sering disebut bahwa penyair adalah sosok pencari yang tak pernah usai. Atau peziarah yang tak pernah lelah. Ia akan selalu gelisah, galau, resah, menjelajahi alam ragawi (fisik) dan alam bathin (nonfisik). Ditelusurinya ruang dan waktu kehidupan hingga tersingkap tabir kehidupan. Berbagai kesan perjalanan hidup itu direkam, dihayati, dan direnungkan penyair. Lantas, dengan penuh emosional kesan itu dituangkannya dalam puisi yang dirangkum secara menakjubkan. Karena itu, sering dikatakan bahwa orang yang sedang jatuh cinta, putus cinta, atau sedang dilanda keprihatinan hidup yang amat hebat lebih mudah menciptakan puisi. Mengapa? Karena jiwanya sedang dilanda keresahan yang amat sangat, yang memudahkannya merangkai kata-kata penuh makna. Penyair tidak sembarangan mengambil kata yang ditemuinya dari setiap pengalaman, penglihatan dan perasaan. Sebagai sosok kreatif, ia harus memilah dan memilih mana kata yang bermakna untuk menimbulkan kesan imajinatif dalam puisi.

Untuk itu, rasanya tidak berlebihan bila Albert Einsten, fisikawan paling tersohor abad 20, menyatakan bahwa “Imajinasi lebih berarti dari ilmu pasti”. Mengapa? Karena ilmu pasti yang tidak dilandasi sikap arif bijaksana hanya menjadi sumber bencana. Sementara puisi adalah sumber kearifan yang tiada habis, yang mengajak orang melakukan perjalanan mengasah nurani. Melalui puisi itu, penyair mengabarkan kegelisahan dan keresahan agar dunia tidak kehilangan kebijaksanaan.

Sumber : https://zalala.co.id/cooking-fever-apk/

Berpuisi Ialah Perjalanan

Berpuisi Ialah Perjalanan

Berpuisi Ialah Perjalanan

Berpuisi Ialah Perjalanan
Berpuisi Ialah Perjalanan

Apakah kamu pernah membaca tulisan berjalan di bagian bawah layar televisi dalam sebuah acara konser musik? Acara itu disiarkan sebuah televisi swasta setiap minggu. Seringkali beberapa penyanyi atau grup band ternama dihadirkan untuk mendendangkan lagu-lagunya yang sedang hits. Nah, saat konser itu, di bagian bawah layar akan terlihat pesan atau kesan yang berjalan beriringan. Selain pesan dan kesan yang dikirim para pemirsa melalui short massage service (SMS), kata-kata di bagian bawah layar juga berisi request lagu, dan ucapan salam kepada sahabat, pacar, orang tua, penyanyi, atau tokoh yang mereka kenal. Kalian yang ingin kirim SMS, tinggal menulis nomor lagu dan kesan-pesan. Maka, di layar akan tertulis begini: “…(no. lagu), aku suka lagu ini karena lirik lagu ini sesuai banget ma suasana hatiku. …(nama penyanyi atau band) emang keren banget!” Kita juga sering menyaksikan kalimat-kalimat lain yang senada.

Apa hal menarik dari fenomena di atas? Ya. Ternyata banyak orang suka lagu karena syair lagu tersebut mencerminkan perasaan yang dialaminya. Nah, begitu pun dengan puisi, kita sering merasa sreg dengan puisi yang “mampu memahami jiwa kita”. Kita sering terhanyut saat membaca puisi, karena puisi seperti berkisah tentang masalah kita. Puisi juga serasa membawa kita menuju kenangan-kenangan, hari-hari yang telah lalu, atau memberi spirit untuk kehidupan yang lebih baik.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena berpuisi dapat membawa seseorang pada perjalanan mengasah nurani. Dengan menulis atau membaca puisi, seseorang dibawa menuju ruang sunyi. Di situ ia merangkum peristiwa, perasaan, idealisme, harapan, mimpi, bahkan “kegilaan”. Puisi menggugah kesadaran untuk peduli pada dunia sekitar.

Misalnya penggalan puisi berikut ini:

biarkan aku di sini

bersama kebebasan

yang kubuat sendiri

bersama bendera

yang kukibarkan tanpa

lagu kebangsaan

saat berlari mengejar bus kota,

saat menyanyi di tengah kota,

dan saat tertidur di sudut-sudut

jalan berdebu

aku sesungguhnya lelah

dan terpenjara

….

(Adde Marup WS)

 

Apa yang ingin disuarakan puisi tersebut? Yaitu menggugah kesadaran kita tentang nasib anak jalanan. Anak jalanan itu berlari mengejar bus kotamenyanyi di tengah kotatertidur di sudut-sudut jalan berdebu. Di tengah penderitaan hidup, ia tetap merasakan adanya kebebasan. Mengapa bisa begitu? Karena puisi tidak dilahirkan dari ruang angkasa, tetapi diciptakan berdasar pergulatan penyair dengan keadaan di sekitarnya. Penyair juga menyimak dan merenungkan masalah sosial, politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Di zaman sekarang, anak jalanan dapat dengan mudah ditemukan di tengah kehidupan masyarakat kota. Keberadaan mereka semakin bertambah dari tahun ke tahun. Nah, puisi di atas, ingin mengajak kita untuk menyelami kehidupan mereka, ikut merasakan penderitaan mereka. Dengan menghayati puisi itu kita dididik untuk tidak hanya mampu mengutuk mereka sebagai peminta atau pengemis. Kata puisi di atas, anak jalanan adalah manusia yang lelah dan terpenjara.

Puisi di atas menunjukkan kepada kita, bahwa penyair adalah sosok yang berbeda dengan manusia biasa. Maksudnya, dalam melihat sesuatu, atau masalah tertentu, penyair memiliki cara pandang yang berbeda dengan manusia umumnya. Lantas, ia merenungkan dan menuliskannya dalam bentuk puisi. Seperti bungkus pasta gigi. Bagi orang biasa, mungkin dianggap sebagai benda biasa. Saat isinya habis, bungkus pasta lantas dibuang. Berbeda dengan seorang perajin, bungkus pasta gigi mungkin akan dijadikannya sebagai bahan kerajinan seperti tas dompet, keranjang, dan sebagainya.

Sumber : https://zalala.co.id/battle-for-the-galaxy-apk/

Analisis dan Rekomendasi

Analisis dan Rekomendasi

Analisis dan Rekomendasi

 Analisis dan Rekomendasi
Analisis dan Rekomendasi

Menurut pendapat penulis, industri manufaktur masih berpotensi menyediakan kesempatan kerja yang sangat luas, namun angkatan kerja berpendidikan tinggi yang tersedia di pasar kerja masih langka. Meski prospek kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan tinggi cenderung meningkat dibandingkan kesempatan kerja lulusan pendidikan yang lebih rendah, namun prospek ini belum sepenuhnya dianggap sebagai peluang “bisnis” bagi sejumlah lembaga penyelenggara pendidikan tinggi. Hal ini dibuktikan oleh perguruan tinggi yang masih mengutamakan ijazah dan gelar dibandingkan memberikan jaminan mutu “pasti bekerja”.

Gambar 4. Karikatur lembaga pendidikan yang hanya memberikan gelar di harian “Kedaulatan Rakyat”, 12 Mei 2007.

Analisis berikutnya adalah adanya kenyataan jumlah penganggur lulusan pendidikan tinggi yang ternyata masih tinggi. Jika pun ada kesempatan kerja bagi angkatan kerja berpendidikan tinggi, maka upahnya pun sangat terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi mereka senjang dibandingkan dengan kesempatan kerja yang ada. Sebagai akibatnya, pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Umum dan SLTA Kejuruan lebih dipilih oleh dunia kerja daripada lulusan pendidikan tinggi . Hal ini merupakan tantangan bagi dunia perguruan tinggi.

Berkenaan dengan hal tersebut, penulis merekomendasikan perlunya mengajak bahkan “memaksa” dunia perguruan tinggi untuk melakukan kerjasama pendidikan dengan industri/perusahaan. Dengan “memaksa” melakukan kerjasama pendidikan, maka penyelenggara perguruan tinggi akan belajar beberapa hal. Pertama, perguruan tinggi akan memperbaiki manajemen pendidikan mereka agar go-industrial society dan bahkan go-international telah menjadikan manajemen mereka lebih baik ditinjau dari pengelolaan akademis, pendidikan mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi akan lebih efektif menyelenggarakan proses pendidikan yang berguna. Kedua, kerjasama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri akan menjadikan perguruan tinggi lebih mandiri. Apa yang disediakan perguruan tinggi pun akan menemukan titik temunya dengan kebutuhan industri/perusahaan. Perguruan tinggi akan dengan leluasa mengembangkan penelitian dan pendidikan, semnetara itu industri akan memperoleh manfaat yang diperlukannya dari perguruan tinggi baik dalam bentuk hasil penelitian maupun penyediaan tenaga kerja yang berkuallifikasi. Dan ketiga, konsep Tri Darma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan setali tiga uang sekaligus apabila kerjasama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri/perusahaan dapat diwujudkan secara efektif. Kerjasama pendidikan harus berada dalam tiga area itu.

VI. Kesimpulan

Tulisan ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya pertama, pendidikan merupakan wahana terpenting untuk meningkatkan kapasitas manusia dalam pembangunan dan sekaligus merupakan cara terbaik untuk memutus persoalan pembangunan. Kedua, kerjasama pendidikan antara pendidikan tinggi dan industri/perusahaan merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kapasitas manusia. Ketiga, bangsa yang unggul ditandai oleh kehadiran industri/perusahaan multinasional yang mempunyai dayasaing global. Oleh karena itu, kerjasama pendidikan antara pendidikan tinggi dan industri/perusahaan yang terbaik adalah ditujukan untuk mencetak angkatan kerja yang dapat mengisi kebutuhan industri/perusahaan.

Baca Juga : 

Rantai Permasalahan Pembangunan

Rantai Permasalahan Pembangunan

Rantai Permasalahan Pembangunan

 Rantai Permasalahan Pembangunan
Rantai Permasalahan Pembangunan

Haz berpendapat bahwa peningkatan moral dan norma dapat dilakukan melalui pendidikan. Penguasaan ilmu dapat ditingkatkan melalui pendidikan yang tepat guna hingga perguruan tinggi. Pengelolaan sumberdaya nasional akan lebih efektif apabila para pemimpin bangsa paham tentang makna pendidikan dalam konteks pembangunan. Dan kesejahteraan rakyat dapat tumbuh apabila masyarakat semakin cerdas dalam menyikapi situasi dan beradaptasi dalam situasi yang sedang terjadi secara bijaksana, dan hal ini bisa muncul apabila seluruh warga masyarakat memahami keterampilan hidup yang tentunya diperoleh dari proses pendidikan. Rantai dapat diputus apabila salah satu titiknya diintervensi dengan efektif.

IV. Kerjasama Pendidikan Perguruan Tinggi dan Industri/Perusahaan

Michael Porter pernah mengatakan bahwa keunggulan kompetitif suatu bangsa bergeser dari hal-hal yang sifatnya kasat mata seperti sumberdaya alam, ke arah penciptaan dan asimilasi pengetahuan. Porter juga mengatakan bahwa keunggulan kompetitif suatu bangsa saat ini sangat ditentukan oleh kapasitas belajarnya. Konsep keunggulan kompetitif Porter mensyaratkan penciptaan dan asimilasi pengetahuan ini sebagai ujung tombak inovasi atau tumbuhnya pengetahuan baru. Inovasi inilah yang akan memberikan keunggulan kompetitif. Bangsa yang tenggelam dengan kejayaan masa lalu dan sulit berinovasi, tidak akan pernah mencapai suatu keunggulan kompetitif. Porter dengan tegas menuliskan bahwa kesejahteraan suatu bangsa harus diciptakan, bukan diwariskan . Keunggulan bangsa bahkan oleh Naisbitt diramalkan salah satunya justru bangkit dari menggobalnya perusahaan multinasional. Kelak, menurut Naisbitt, persaingan antar-negara tidak terjadi lagi, namun yang terjadi adalah persaingan antar-perusahaan multinasional dalam kancah global. Misalnya persaingan antara Petronas dan Pertamina dalam memperebutkan hak pengelolaan eksplorasi minyak di Iran .

Beberapa bentuk kerjasama pendidikan antara perguruang tinggi dan industri pada dasarnya dapat diikuti oleh munculnya universitas perusahaan (corporate university) di tahun 1960-an di Amerika Serikat. Universitas perusahaan merupakan kepanjangan tangan atau disponsori perusahaan tertentu untuk menjalankan misi perusahaan induknya, yaitu menjalankan penelitian dan pengembangan dan menyediakan tenaga kerja bermutu yang dibutuhkan perusahaan/industri . Bentuk-bentuk kerjasamanya pada awalnya lebih bersifat kebutuhan dibandingkan keilmuan semata.

Konsep penyelenggaraan kerjasama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri di Indonesia dekat dengan model sambung-sesuai (link and match) yang digagas oleh Wardiman Djojonegoro pada tahun 1990-an . Konsep ini bukan hal baru khususnya di Jerman dan Amerika Serikat . Di Indonesia, konsep ini diadopsi menjadi konsep “teaching factory” yang didalamnya mengandung makna kerjasama antara perguruang tinggi, sekolah menengah kejuruan, dan industri. Model ini secara relatif tidak mempunyai standar. Namun terdapat ciri-ciri sebagai berikut: (1) digerakkan industri yang dipandu oleh kebutuhan pasar (deman driven); (2) menghasilkan kompetensi yang memenuhi standar dan diakui secara nasional; (3) menawarkan beragam daftar, keluaran dan penyampaian yang mudah; (4) mengintegrasikan antara pelatihan, pendidikan, dan dunia usaha; dan (5) sistem manajemen yang mandiri .

Konsep kerjasama pendidikan antara perguruan tinggi dan industri mempunyai karakteristik sebagai berikut. Pertama, lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi menjadi pusat keunggulan (center of excellent). Lembaga penyelenggara meliputi satu unit lembaga perguruan tinggi yang mempunyai pusat-pusat pelatihan keunggulan (training center) yang menyebar di beberapa tempat. Konsep ini digagas oleh Bockelmann . Penyebaran pusat-pusat keunggulan dilakukan dengan pertimbangan bahwa potensi pasar kerja bukan berada di satu tempat saja, namun berada di beberapa tempat . Pusat keunggulan merupakan pusat pelatihan yang memanfaatkan teknologi tinggi. Teknologi tinggi yang diadopsikan harus teknologi yang dapat menjadikan para mahasiswa berlatih dan membiasakan diri melakukan proses produksi yang memanfaatkan tingkat akurasi tinggi. Lembaga penyelenggara harus mempertimbangkan keuntungan dari jasa pelatihan yang diberikan. Untuk itu lembaga penyelenggara harus mempertimbangkan (1) pelatihan dilakukan sesuai permintaan dan relevan dengan kompetensinya; (2) meningkatkan kualitas pekerja dan pekerjaan mandiri; (3) memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu; (4) menyediakan investasi dan biaya operasional untuk ruang kelas, ruang kantor, dan perabotannya.

Kedua, bidang kerjasama harus spesifik . Gert W. Thoma mengatakan bahwa lembaga penyelenggara harus menjalin kerjasama dengan dunia industri (pabrikan) dalam bentuk proyek percontohan, dimana lembaga penyelenggara (perguruan tinggi) dan industri (1) melakukan penilaian kualitas produk, diversifikasi produk, perbaikan proses produksi dan bahkan mendukung dalam pemasaran. Mahasiswa akan dilibatkan dalam proses ini; (2) melakukan sub-kontrak dengan industri untuk melakukan proses produksi; (3) menerapkan penelitian dan pengembangan yang melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, bidang kerjasama antara perguruan tinggi penyelenggara dan lembaga mitranya (perguruan tinggi luar negeri) harus spesifik. Misalnya bidang mekatronik, mesin mobil, elektronika, atau furnitur.

Ketiga, sertifikasi berstandard internasional. Lulusan pendidikan tinggi didik untuk memenuhi kualifikasi sarjana yang bersertifikat dengan standard internasional yang diakui dan dibutuhkan dunia industri. Meyer mengatakan bahwa untuk itu diperlukan pelatihan bagi para mahasiswa dengan standard minimal pendidikan seperti: (1) kemampuan manajemen organisasi, komunikasi, dan pemasaran; dan (2) mengikuti pelatihan bersertifikasi ISO (seperti ISO 9000, 9001, 9002, dan 14000); (3) memaksa pemerintah untuk membebaskan lembaga penyelenggara dalam negeri dari beberapa persyaratan yang membatasi ruang gerak pengelolaan keuangan internal .

Keempat, para pihak yang terlibat dalam kerjasama harus menyusun rencana bisnis (bussiness plan). Status kerjasama semua pihak harus sudah jelas dan dibuatkan akta perjanjian kerjasamanya. Perguruan tinggi akan bertindak sebagai lembaga pembina. Sementara itu lembaga binaan industri yang merupakan kepanjangan tangan dari kebutuhan industri akan bertindak sebagai tempat pelatihan yang berperan melakukan pelatihan proses produksi. Dengan adanya rencana bisnis maka perguruan tinggi diajak berpikir lebih realitas tentang rencana kerja mereka yang harus dimanajemeni dengan baik .

Kelima, fasilitasi untuk berwirausaha. Bentuk keterampilan yang disediakan oleh lembaga penyelenggara perlu mempertimbangkan kebutuhan industri kecil-menengah. Sektor ini merupakan sektor yang mampu mendorong peningkatan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah. Kebutuhan industri kecil-menengah difokuskan sesuai tingkat keahlian untuk tenaga kerja industri skala tersebut, memberikan jasa konsultasi dan pelayanan dalam bidang teknologi dan administrasi bisnis dalam skala tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar mahasiswa lulusannya selain dijamin memasuki pasar kerja juga mempunyai kemampuan mendirikan sendiri usaha mereka apabila mereka memilih berwirausaha sendiri .

Sumber : https://obatwasirambeien.id/tips-memilih-jasa-penulisan-artikel/

Faktor Manusia dan Pendidikan Dalam Pembangunan

Faktor Manusia dan Pendidikan Dalam Pembangunan

Faktor Manusia dan Pendidikan Dalam Pembangunan

Faktor Manusia dan Pendidikan Dalam Pembangunan
Faktor Manusia dan Pendidikan Dalam Pembangunan

Berbagai studi pembangunan mulai dari pendekatan pembangunan (ekonomi) neo-klasik seperti Solow , Kendrick , dan Becker menekankan bahwa faktor manusia adalah faktor yang penting selain pemanfataan teknologi serta pengembangan dan modal serta pembentukannya. Model pembangunan ekonomi klasik mendapatkan pembenaran ketika pendekatan korporasi yang dipelopori oleh Harod-Domar meletakkan pandangannya pada peran penting perdagangan internasional dan perusahaan multi-nasional sebagai penggerak utama pembangunan. Model ini banyak dikenal di negara-negara maju yang juga dikenal sebagai negara OECD (Overseas Economic Cooperation and Development). Model ini dengan baik diungkapkan oleh Lewis yang menempatkan manusia sebagai faktor penting kemajuan ekonomi suatu negara . Aliran ini percaya bahwa, perekonomian negara semakin cepat maju apabila negara menempatkan pembangunan industri sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan. Hal ini berarti menempatkan faktor sumberdaya manusia dan korporasi sebagai pemegang kuncinya.

Pembangunan kualitas sumberdaya manusia merupakan proses jangka panjang. Ia harus dimulai sejak dini warga negara masih menapaki jenjang pendidikan asar hingga merajut ke jenjang pendidikan menengah dan memperdalamnya di jenjang pendidikan tinggi. Berdasarkan skala jenjang pendidikan, maka penyiapan jenjang pendidikan menengah sangat penting dalam pembentukan calon-calon angkatan kerja yang handal . Pengembangan kualitas sumberdaya manusia antara jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi merupakan tahap terpenting dalam pembentukan keterampilan dan kemampuan manusia. Sanjay Lal menemukan bahwa pendidikan menengah sangat menentukan kemana arah lulusannya setelah itu ke dalam pasar kerja . Daya serap pasar kerja sangat ditentukan oleh kemampuan yang dibentuk semasa menempuh pendidikan menengah. Pendidikan tinggi akan semakin menempati titik pentingnya ketika pengetahuan dan keterampilan memerlukan penajaman pengalaman teknis yang lebih terarah . Berkenaan dengan persoalan tersebut, penulis mencoba mengulas apa saja yang penting ketika kita mencoba menghubungkan antara aspek pendidikan dan pasar kerja dalam dimensi kerjasama pendidikan. Karena di sinilah sumber muasal penciptaan manusia yang unggul.

Dalam kasus Indonesia, menciptakan manusia yang unggul sangat penting, karena hal ini dapat memutus rantai permasalahan dapat bermula dari lemahnya penghayatan moral dan norma dalam kehidupan sehari-hari. Masalah ini kemudian menimbulkan masalah krisis kualitas manusia Indonesia sehingga menghasilkan manusia Indonesia dengan penguasaan ilmu yang rendah sehingga tidak mempunyai kompetensi untuk mengisi pembangunan. Masalah kualitas manusia Indonesia yang berkompetensi rendah itu menjadikan manusia Indonesia tidak mampu mengelola sumberdaya nasional secara efektif, sehingga menimbulkan masalah kesejahteraan rakyat Indonesia. Krisis kesejahteraan rakyat ini menciptakan peluang terjadinya krisis moral dan norma. Menurut Hamzah Haz , sepakat dengan Todaro rantai masalah akan terus berlanjut dan berputar-putar apabila tidak diintervensi.

Sumber : https://obatsipilisampuh.id/1password-apk/