shadow

Mengatasi Anak yang Suka Menangis

Mengatasi Anak yang Suka Menangis

Jika anak terlalu tidak jarang menangis, orang tua mesti segera menggali tahu akar masalahnya. Bagi itu, berikut sejumlah tindakan yang dapat Anda kerjakan untuk menanggulangi anak yang suka menangis.

Hadapi dengan Tenang

Saat menyaksikan anak yang menangis, lagipula sampai menjerit-jerit, orang tua sering merasa panik. Sebagian dari mereka memilih guna menghentikan tangis anak dengan teknik memarahinya. Alhasil, tangis anak juga semakin keras dan menjadi-jadi.

Untuk menanggulangi anak yang suka menangis, orang tua usahakan tetap bersikap tenang dan dapat mengontrol diri. Setelah itu, tanyakan apa yang ia minta. kita tidak perlu tidak jarang kali menuruti keinginannya, terlebih bila tersebut tidak bermanfaat untuknya.

Saat keinginannya tidak dapat Anda turuti, usahakan berikan opsi lain yang lumayan menarik. Misalnya, ketika anak meminta mainan berbahaya, Anda dapat menawarinya guna pergi ke lokasi bermain atau membelikannya es krim.

Melalui Komunikasi Terbuka

Komunikasi antara anak dan orang tua mempunyai peranan yang lumayan penting untuk perkembangan mental dan karakter anak. Jika komunikasi itu tidak berlangsung baik, anak ingin sulit mengungkapkan perasaannya sampai-sampai lebih memilih jalan menangis atau marah-marah dengan harapan supaya orang tua dapat mengerti.

Mengatasi anak yang suka menangis atau marah-marah dapat Anda kerjakan dengan terlebih dahulu membetulkan pola komunikasi kita dengannya. Mintalah anak guna sering-sering bercerita mengenai ia dan teman-temannya. Jadilah pendengar yang baik untuknya. Posisikan diri kita sebagai kawan yang dapat memahaminya. Apresiasi kebaikan-kebaikannya dengan pujian. Namun, tetap berikan nasihat yang ia perlukan. Dengan begitu, ia pun bakal merasa diperhatikan.

Sementara ketika ia meminta sesuatu dan Anda mesti melarangnya, ucapkan dengan tegas larangan dan dalil Anda itu dengan bahasa yang halus sampai-sampai tidak menyakiti perasaannya. Jadi, ia pun dapat mengerti bahwa orang tua tidak mengizinkan bukan sebab tidak sayang, tetapi untuk kebaikannya.

Berikan Rasa Aman

Tangis pada anak dapat terjadi sebab adanya rasa cemas, gugup, takut, dan tidak nyaman. Saat berada di lokasi baru atau bertemu orang baru, mereka seringkali akan merasa was-was dan segera menangis. Sebab, ia memerlukan rasa aman, yang seringkali hanya dapat diperoleh saat bareng orang tua. Lalu, apa yang mesti orang tua kerjakan saat tidak bareng anak?

Salah satu teknik yang dapat Anda lakukan ialah dengan mengajar kemandiriannya sampai-sampai ia tidak tidak jarang kali bergantung pada orang lain. Di samping itu, sering-seringlah mengajaknya berinteraksi dengan teman-teman baru, laksana anak tetangga atau anak dari teman-teman Anda. Namun, ketika Anda sedang di luar dan tidak dapat bersamanya, pastikan terdapat seseorang yang dapat Anda percaya untuk tidak jarang kali mengawasinya. Dengan begitu, ia bakal merasa aman dan tidak perlu fobia meskipun tanpa kehadiran orang tua.

Sumber : http://www.bookmerken.de/?url=http%3A%2F%2Fwww.pelajaran.co.id

Mahasiswa Diminta untuk Tidak Buta Politik

Mahasiswa Diminta untuk Tidak Buta Politik

Mahasiswa Diminta untuk Tidak Buta Politik

Mahasiswa Diminta untuk Tidak Buta Politik
Mahasiswa Diminta untuk Tidak Buta Politik

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa dasar perubahan dunia politik hampir selalu

dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa terbukti mampu menjadi barisan terdepan dan menjadi pelopor utama dalam sejarah Bangsa.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Ar-Raniry, Mahyuddin kepada Klikkabar.com, Minggu kemarin, 5 Februari 2017.

“Mahasiswa dengan kemahirannya dalam menjalankan fungsi sebagai kelompok penggagas

perubahan, mahasiswa telah berhasil menumbangkan rezim orde baru yang berkuasa puluhan tahun pada saat itu serta membawa Indonesia ke dalam era reformasi,” kata Mahyuddin.

Oleh karenanya, Mahyuddin menilai bahwa peran mahasiswa dalam dunia politik merupakan hal yang sangat penting dalam kemajuan politik suatu bangsa.

Mahasiswa seharusnya dituntut untuk berperan aktif menjadi agen perubahan (agent of change) dan “control Sosial” yang terjadi di sekitarnya.

“Untuk mewujudkan perubahan di Aceh tentunya membutuhkan keterlibatan mahasiswa

dalam berbagai hal dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya dan kegiatan-kegiatan intelektual yang dilakukan oleh mahasiswa. Karena sejatinya mahasiwa adalah inisiator perubahan,” ujarnya.

Ia menambahkan, mahasiswa seharusnya lebih berperan aktif dan harus lebih banyak lagi terlibat dalam berbagai persoalan politik di Aceh, terutama menyangkut persoalan Pilkada damai di Aceh. Selain itu, fungsi kontrol perlu ditunjukkan oleh mahasiswa, karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat, tak berlebihan jika banyak harapan dan tanggung jawab yang dipikul oleh mahasiswa.

Ia juga menilai bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mampu menjadi poros pengembangan masyarakat sesuai bidang masing-masing.

“Kalau menjadi mahasiswa yang hanya kuliah untuk mendapatkan pekerjaan semata dan hidup untuk kesejahteraan diri sendiri karena tidak mau tau tentang perkembangan politik maka tidak kecil kemungkinan mahasiswa akan “buta politik”. Jangan sampai mahasiswa kehilangan fungsi dan perannya Sebagai Agen Of Change,” demikian Mahyuddin

 

Baca Juga :

Jembatan Lamnyong Diresmikan, Rektor Unsyiah dan UIN Gembira

Jembatan Lamnyong Diresmikan, Rektor Unsyiah dan UIN Gembira

Jembatan Lamnyong Diresmikan, Rektor Unsyiah dan UIN Gembira

Jembatan Lamnyong Diresmikan, Rektor Unsyiah dan UIN Gembira
Jembatan Lamnyong Diresmikan, Rektor Unsyiah dan UIN Gembira

Dua rektor universitas terbesar di Aceh mengungkapkan kegembiraan atas peresmian

jembatan Lamnyong Banda Aceh pada Senin, 13 Februari 2017.

Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal mengucapkan terima kasih kepada gubernur Aceh yang telah mengalokasikan dana pembangunan jembatan tersebut hingga selesai. Prof Samsul menilai bahwa jembatan tersebut sangat diperlukan oleh masyarakat terutama mahasiswa, karena menghubungkan Lamnyong dengan Kopelma Darussalam.

“Dengan diresminya jembatan Lamyong yang baru ini, maka kita tidak pernah melihat lagi mahasiswa baik dari Unsyiah maupun UIN Ar-Raniry, yang terjebak kemacetan untuk menimba ilmunya,” kata Prof Samsul.

Sementara Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Farid Wajdi Ibrahim juga mengapresiasi Gubernur Aceh

atas pembangunan jembatan tersebut.

“Dengan dibuat pembangunan jembatan ini, maka tidak pernah terlihat kemacetan bagi pengguna jalan yang melalui jalan Lamyong ini, khususnya bagi mahasiswa di dua kampus kita ini,” ujar Prof Farid.

Menurut Prof Farid, jembatan tersebut bukanlah permintaan terakhir dirinya pada gubernur Aceh

terhadap pembangunan pendidikan di Aceh. Sebelumnya, Prof Farid mengakui bahwa dirinya telah meminta mobil operasional kampus, tapi hingga saat ini belum direalisasikan.

“Kata Pak Zaini selaku gubernur Aceh lagi pemberian untuk dayah-dayah di daerah dan pendidikan lainnya,” terang Prof Farid

 

Sumber :

http://slamet.blog.st3telkom.ac.id/sejarah-bendera-merah-putih/

Unsyiah Adakan Entrepreuneur Sharing Session

Unsyiah Adakan Entrepreuneur Sharing Session

Unsyiah Adakan Entrepreuneur Sharing Session

Unsyiah Adakan Entrepreuneur Sharing Session
Unsyiah Adakan Entrepreuneur Sharing Session

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kewirausahaan mengadakan Entrepreuneur Sharing Session. Kegiatan ini menghadirkan Andi Miswar SH dari And’s Entrepreneur Community di ruang flamboyan Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Rabu 22 Februari 2017.

Wakil Rektor III Unsyiah, Dr Ir Alfiansyah Yulianur BC dalam sambutannya menyampaikan,

pengelolaan bonus demografi perlu diperhatikan. Indonesia kini memasuki masa bonus demografi yang harus dikelola dengan baik dan efisien. Masyarakat yang berusia produktif saat ini lebih banyak ketimbang yang berusia non-produktif.

“Tentu bonus demografi ini harus didukung dengan kualitas sumber daya manusianya (SDM-nya). Jika bonus demografi tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi disaster demografi,” katanya.

Ia mengatakan, selama ini Unsyiah telah mengupayakan lahirnya manusia-manusia berkualitas

, salah satunya melalui pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Keseriusan Unsyiah ditunjukkan dengan adanya Unit Pengelola PKM untuk menunjang program tersebut. Saat ini sudah banyak PKM dari Unsyiah, seperti beton ramah lingkungan, teknologi budidaya jamur merang modern, sirup jamblang, deodoran gayun powder, dan produk inovatif lainnya. Hasil PKM ini diharapkan dapat dijadikan sebagai produk usaha berkelanjutan.

“Bukan masanya lagi untuk mengharapkan lapangan kerja dari pemerintah. Ubahlah pola pikir agar mampu menciptakan lapangan kerja, bukanlah menjadi pencari kerja,” tegas WR III Unsyiah.

Menurutnya, Unsyiah berencana untuk membuat market syariah yang berlokasi di Masjid Jamik

Kampus Unsyiah. Kehadiran pasar ini sebagai wadah bagi pengusaha muda dari Unsyiah untuk membuka wirausaha dan diskusi sesama pengusaha muda. Program ini akan melibatkan lembaga-lembaga yang telah sukses dalam dunia usaha.

“Banyak tuntutan dunia kerja zaman ini, salah satunya bidang wirausaha. Selain itu, keberhasilan seseorang di dunia kerja 80% didukung oleh softskill. Sementara 20% lainnya dilihat dari sisi akademik,” sebutnya.

Dr Alfian menegaskan, mahasiswa jangan sekedar mengandalkan ilmu dalam perkuliahan. Bergabunglah dalam organisasi dan dunia wirausaha untuk membentuk jiwa kepemimpinan. Kegiatan ini dihadiri Kepala Biro Kemahasiswaan, Drs M Nasir Ibrahim dan Kepala UPT Kewirausahaan Unsyiah, Dr drh M Hanafiah MP beserta pengusaha muda dari berbagai fakultas di Unsyiah

 

Sumber :

http://slamet.blog.st3telkom.ac.id/sejarah-bola-voli/

Pengabdian Sepenuh Hati Djumail, Kepala SLB di Kolaka Timur

Pengabdian Sepenuh Hati Djumail, Kepala SLB di Kolaka Timur

Pengabdian Sepenuh Hati Djumail, Kepala SLB di Kolaka Timur

Pengabdian Sepenuh Hati Djumail, Kepala SLB di Kolaka Timur
Pengabdian Sepenuh Hati Djumail, Kepala SLB di Kolaka Timur

Djumail mendata sendiri anak-anak difabel di Kolaka Timur dan membujuk orang tua agar

mau menyekolahkan mereka. Mengantar pulang siswa yang rumahnya jauh dan kondisinya mengkhawatirkan.

RAMADHAN, Kolaka Timur

DJUMAIL dengan sabar menggendong bocah itu menuju sepeda motor. Perlahan didudukkannya di bagian belakang sadel.

”Pegangan Bapak, ya,” katanya kepada Muhammad Albi, si bocah.

Pelan-pelan Djumail lantas beranjak ke bagian depan sadel. Dan, gruuung…sepeda motor pun distarter

. Guru dan murid itu pun bersiap menempuh berkilo-kilometer menuju Kecamatan Loea, tempat tinggal Albi.

”Saya nggak tega membiarkannya pulang sendirian. Saya khawatir ada apa-apa di jalan,” kata Djumail kepada Kendari Pos (Jabar Ekspres Group) sesaat sebelum mengantarkan muridnya di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Tirawuta, Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara, Kamis lalu (21/7).

Albi seorang difabel, persisnya tunadaksa. Rumahnya jauh, di kecamatan sebelah.

Karena itulah, Djumail selalu menyempatkan diri untuk mengantarkannya pulang. ”Kalau saya sibuk, maka istri saya, Rosmini, yang mengantar,” tutur dia.

Itu hanyalah sebagian kecil pengabdian Djumail bagi murid dan sekolah. Pria 52 tahun tersebut mengabdi di sana sejak 2013, dua tahun sebelum sekolah itu resmi aktif.

Sekolah tersebut punya enam ruang kelas dan enam tenaga pengajar yang berstatus guru tidak tetap (GTT). Plus pimpinan SLBN yang dijabat Djumail. Kamis siang lalu itu suasana sekolah ramai.

Bangunan sekolah lumayan bagus karena baru dua tahun kelar dikerjakan. Beberapa siswa mondar-mandir di teras kelas dengan seragam SD dan SMP.

 

Baca Juga :

Botram Tutup MPLS Bandung Masagi

Botram Tutup MPLS Bandung Masagi

Botram Tutup MPLS Bandung Masagi

Botram Tutup MPLS Bandung Masagi
Botram Tutup MPLS Bandung Masagi

UJUNGBERUNG – Kehangatan begitu terasa di penutupan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) SMPN 8 Kota Bandung. Panitia mengemasnya dalam kegiatan makan bersama atau botram. Diikuti peserta didik baru, guru dan kepala sekolah yang berkumpul di lapangan sekolah.

Ketua panitia MPLS SMPN 8 Kota Bandung Hj Umamih menjelaskan, botram dipilih menjadi penutup kegiatan MPLS pendidikan berkarakter Bandung Masagi dengan harapan menciptakan suasana keakraban. Di samping, menguatkan karakter berbagi kepada sesama. Sebab, makanannya berasal dari masing-masing siswa baru. Dibawa untuk dikonsumsi sendiri. Lalu, dianjurkan menawarkan menu makananya kepada rekannya.

Selain itu, kata Umamih, guru-guru juga membuat menu makanan khas Sunda.

Dengan begitu, hidangannya dikenalkan kepada anak-anak agar lebih mencintai kuliner Sunda. Selaras dengan salah cinta budaya Sunda, satu komponen Bandung Masagi. ’’Makan bersama begini jadinya seru,’’ kata dia kemarin (20/7).

Sekretaris panitia MPLS SMPN 8 Kota Bandung Ahustiani MDS menjelaskan, pelaksanaan MPLS sejak Senin 18 sampai 20 Juli 2016. Dengan konten dari hari pertama sampai terakhir mengikuti komponen yang ada dalam Bandung Masagi. Misal, di hari pertama menyambut orang tua murid dan siswa baru dengan gelaran bela diri pencak silat dan tarian sebagai bagian cinta budaya Sunda. Untuk komponen cinta religi, dikenalkan membiasakan doa sebelum aktivitas. Lalu, salat Ashar berjamaah. Mempraktikkan juga kegiatan gerakan pungut sampah (GPS) sebagai bagian dari aktivitas cinta lingkungan. Kerap dinyanyikan juga lagi Karatagan Bandung Masagi selama MPLS.

’’Bandung Masagi itu kan ada empat komponen. Cinta religi, cinta budaya, bela negara

cinta lingkungan,’’ jelas dia.

Sementara itu, Kepala SMPN 8 Kota Bandung Agus Rusyana SPd MSi menegaskan, seluruh panitia MPLS berasal dari guru. Artinya, guru terjun langsung melaksanakan. Ada siswa, tapi hanya terlibat menampilkan ekstrakurikuler. Dipastikan pula tidak ada perpeloncoan kepada para siswa baru.

Melalui pendidikan karakter Bandung Masagi, Agus yakin ada perbaikan karakter anak

. Terlebih dengan falsafah nilai yang terkandung di dalamnya silih asah, silih asih, silih asuh, dan silih wawangi jadi tujuan pendidikan. ’’Mudah-mudahan berhasil baik,’’ ungkap dia.

Agus berharap pelaksanaan pendidikan karakter Bandung Masagi bisa konsisten. Dengan begitu, ikut mewujudkan karakter masyarakat yang positif. Tidak hanya saat ini, tapi ke depannya. Di samping memang sejalan dengan arahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).’’Kalau (Bandung Masagi) mau diperwalkan tidak masalah,’’ jelas dia.

 

Sumber :

https://vhost.id/soal-latihan-teks-prosedur/

Ibu Muda Jarang Ajarkan Sunda

Ibu Muda Jarang Ajarkan Sunda

Ibu Muda Jarang Ajarkan Sunda

Ibu Muda Jarang Ajarkan Sunda
Ibu Muda Jarang Ajarkan Sunda

SUKASARI – Adanya pelestarian dan penggunaan bahasa daerah sebenarnya berada di keluarga. Diakui atau tidak, anak-anak bisa mengenal bahasa daerah pertama kalinya yaitu keluarga. Akan tetapi, terkadang bahasa daerah malah sering dikenalkan lewat sekolah.

Saat ini, ibu-ibu muda kelahiran tahun 80-90an malah sudah jarang mengggunakan bahasa daerah dalam kesehariannya. Menurut Dosen Bahasa Daerah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Retty Isnendes, kebanyakan para ibu muda malah menggunakan Bahasa Indonesia (nasional) dalam bercakap dan mengajak ngobrol anak-anaknya.

”Mereka menggunakan bahasa daerah malah nanti anak-anak berada di usia sekolah,” kata Retty kepada Bandung Ekspres saat dihubung melalui telepon kemarin (28/7).

Padahal, ketika mengenalkan bahasa daerah sejak usia dini, hal itu akan melestarikan

bahasa daerah. Serta anak-anak akan lebih paham terhadap bahasa daerahnya. Terlebih adanya bahasa daerah terutama Bahasa Sunda terdapat kata-kata yang sama pengucapnnya.

Jika orangtua muda tidak lagi menggunakan bahada daerah, otomatis pewarisan bahasa muda vakum dan mati. Pelestarian bahasa daerah daerah bukan ditekankan pada pemerintahan, melainkan pada masyarakat. Masyarakat harus semakin sering menggunakan bahasa daerah.

Minimalnya di lingkungan keluarga, ketika berbicara harus menggunakan bahasa daerah

. Secara pribadi, pihaknya masih mewariskan Bahasa Sunda pada anak sendiri. Baginya Bahasa Sunda adalah bahasa indung yang wajib diwariskan dari tuturunan, dan sekarang mewariskannya pada anak-anaknya.

Sedangkan bahasa daerah di Jabar terdapat tiga bahasa yang sudah ditetapkan dalam perda sebagai bahasa daerah. Di antaranya Sunda, Cirebon, Betawi. ”Secara umum dan dominan Bahasa Sunda diajarkan karena komposisi penggunanya lebih banyak orang Sunda,” ucapnya.

Dia menjelaskan, pembelajaran Bahasa Sunda sebagai muatan lokal sudah mencerminkan

budaya Sunda, walaupun materinya sangat terbatas (karena diatur kurikulum). Bahasa Sunda bisa disebut basa indung karena mayoritas penggunanya lebih dari dua bahasa lainnya. Pengertian bahasa indung di sana adalah bahasa daerah.

”Pengertian yang diambil dari UNESCO Sekarang yang jadi masalah adalah ibu-ibu muda yang tidak lagi menggunakan bahasa daerah atau Sunda yang notabene bahasa indung,” jelasnya.

 

Sumber :

https://jilbabbayi.co.id/struktur-novel/

Kamagaca Kembalikan Budaya Baca Buku

Kamagaca Kembalikan Budaya Baca Buku

Kamagaca Kembalikan Budaya Baca Buku

Kamagaca Kembalikan Budaya Baca Buku
Kamagaca Kembalikan Budaya Baca Buku

Pesatnya perkembangan teknologi di zaman sekarang ini membuat anak-anak perlahan mulai melupakan budaya

membaca buku. Jika dilihat, banyak anak-anak zaman sekarang ini lebih sering memainkan gadget-nya dibandingkan membaca buku.

Di sekolah GagasCeria Bandung, penurunan minat baca pada anak terlihat pada satu semester terakhir ini. Seperti yang diucapkan Wakil Kepala Sekolah Gagasceria Dewi Yuliani kepada Bandung Ekspres dalam kegiatan Kariaan Maca Gagasceria (Kamagaca) di Sekolah GagasCeria, Jalan Malabar, Kota Bandung, kemarin (3/3).

”Buku itu jendela ilmu. Tapi anak-anak zaman sekarang terlalu fokus dengan gadget mereka.

Melihat minat baca anak-anak turun selama satu semester terakhir. Akhirnya, GagasCeria membuat acara Kamagaca ini,” ujar Dewi.

Kamagaca merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menjadikan proses membaca menjadi bagian dari diri anak. ”Tujuan kami adalah menjadikan buku sebagai bagian dari diri anak-anak karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Jangan sampai buku-buku tidak terjamah dan digantikan oleh gadget,” ucapnya.

Dia juga menuturkan, Kamagaca ini merupakan kegiatan literasi mulai dari pembacaan dongeng, bazar buku, art fair, hingga sumbang buku. Di acara yang berlangsung sepanjang Februari ini juga terdapat kegiatan readthon atau membaca buku bersama, senam Kamagaca, dan tukar buku di area parkir SD GagasCeria.

”Selain itu, di samping merayakan satu hari sebagai hari buku, kami membuat bulan Februari

menjadi bulan buku,” ujarnya.

Meskipun acara Kamagaca berlangsung di lingkungan sekolah GagasCeria, masyarakat umum juga dapat ikut mengunjungi dan menikmati kegiatan tersebut. Seperti melihat karya anak-anak GagasCeria dalam kegiatan art fair dan bazar buku. ”Seminggu ini sekolah lain juga banyak yang berkunjung untuk melihat karya dari anak-anak,” ujar wakil kepala non akademik tersebut.

Orang tua siswa juga sangat mendukung dengan adanya kegiatan ini, sehingga sedikit demi sedikit kembali tertarik pada buku dan mulai mengurangi ketertarikannya pada gadget.

”Saya sangat mendukung acara ini, bagus buat anak saya, akhir-akhir ini dia jadi suka melihat-lihat buku, kalau di ajak ke toko buku dia pasti senang, dan perlahan mulai mengurangi memainkan gadgetnya,” ujar Dede, 31, salah satu orang tua murid Sekolah Dasar Gagasceria. (zeldy-job/fik)

 

Baca Juga :

Tiga Guru Honorer Dapat Umroh

Tiga Guru Honorer Dapat Umroh

Tiga Guru Honorer Dapat Umroh

Tiga Guru Honorer Dapat Umroh
Tiga Guru Honorer Dapat Umroh

SOREANG – Tiga orang guru honorer anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bandung, mendapat tiket Umroh gratis dari Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Deddi Mulyadi.

Salahseorang pemenang umroh gratis, Rosmiati guru honorer di SD Negeri Kadumanis Arjasari mengaku gembir. Guru berusia 38 tahun itu mengaku kaget sekaligus senang dirinya bisa pergi ke tanah suci.

”Alhamdullilah, saya tidak menyangka bisa diberangkatkan umroh gratis. Saya serasa mimpi dan kaget karena saya harus menyiapkan uang bekal meski gratis ongkosnya,” ungkap Rosmiati.

Selain itu, dalam acara tabligh akbar dengan penceramah Ustd Jujun Junaedi itu, ada tiga orang guru

lainnya mendapatkan tiket berlibur ke Singapura.

Sementara itu Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung, Dadang M Naser memberikan apresiasi terhadap kinerja para guru di Kabupaten Bandung yang telah berbakti. Bupati Bandung aktif itu berharap apa yang dilakukan DPD Golkar Kabupaten Bandung, bisa bermanfaat. ”Mudah-mudahan ini juga jadi pemicu semangat mereka,” ujar Dadang M Naser.

Disinggung terkait upah yang selama ini dinilai belum mampu menyejahterakan guru honorer, lanjut Dadang, Pemkab Bandung selama terus mengupayakan agar para guru honorer ini mendapatkah upah yang sesuai.

”Kami tadinya mau membuat Surat Keputusan (SK). Tapi tidak boleh oleh Kementerian Keuangan, karena apabila ada SK berdampak pada honor. Tapi sekarang jelas, honor harus ada berdampak pada sertifikasi,” kata Dadang.

Dirinya mengatakan, hasil keputusan Musyawarah Nasional (Munas) PGRI,

menganjurkan Pemerintah Daerah harus memberikan SK sebagai pengakuan pemerintah. ”Selama ini SK parsial sama sekolah masing-masing, sekarang dikiblatkan jadi punya nomerator guru honor di kabupaten,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai persoalan guru honorer jadi problem klasik di berbagai daerah. Ia mengatakan, ada dua hal yang menjadi konflik terkait guru honorer ini.

”Pertama, jumlah ketersediaan guru yang sampai sekarang itu proses distribusinya

belum merata di berbagai tempat. Kedua, terus mengalirnya lulusan tenaga pendidikan. Jadi kalau honorer ingin selesai, yang sekarang diangkat dulu,” kata Dedi.

Setelah itu, kata Dedi yang juga Bupati Purwakarta itu, Fakultas Pendidikan di setiap universitas harus dievaluasi terlebih dahulu. Karena, ketika saat ini yang diangkat fakultas pendidikan itu tidak berhenti melahirkan orang, dan akan banyak lagi antrean.

”Jadi problem ini tidak akan selesai sampai kapanpun. Diberhentikan dulu sambil berhitung. Negara kan sebetulnya bisa menghitung berapa kebutuhan guru di 2017, sampai 10-20 tahun ke depan harus sudah ada gambarannya. Kemudian masuk perguruan tinggi untuk pendidikan semakin diperketat agar melahirkan guru-guru yang punya kualifikasi,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/

SMK TI Garuda Nusantara Jalin Pertukaran Pelajar

SMK TI Garuda Nusantara Jalin Pertukaran Pelajar

SMK TI Garuda Nusantara Jalin Pertukaran Pelajar

SMK TI Garuda Nusantara Jalin Pertukaran Pelajar
SMK TI Garuda Nusantara Jalin Pertukaran Pelajar

CIMAHI – SMK TI Garuda Nusantara bekerjasama dengan salahsatu akademi di Norwegia

untuk pertukaran pelajar, pelatihan dan sebagainya.

”Siswa Kami bebas dan gratis belajar di sana. Ini bentuk penghargaan yang harus diapresiasi” terang Kepala SMK TI Garuda Nusantara Arip Setiawan, di kantornya Jalan Sangkuriang Cimahi, Senin ( 20/3).

Menurut Arip, pihaknya tidak menyangka akan bekerja sama dengan akademi di Norwegia. Karena mereka langsung menguhubungi dan memberikan penghargaan atas perkembangan sekolah yang katanya sisi penilaian adalah dari jumlah peserta didik yang terus meningkat.

Sebut dia, dengan adanya jaringan internet dunia jadi kecil. Mereka juga sebutnya selalu melakukan pemantauan.

”Kita juga memantau sekolah-sekolah lain hanya tidak jauh paling seputaran Bandung Raya. Sebagai bahan acuan kemajauan sekolah,” tambahnya.

Lebih lanjut Arip menegaskan, mengelola sekolah mempunyai seni tersendiri khusus sekolah swasta maka pengajaran lebih di titik beratkan pada praktik dan kegiatan lain. Bukan sekedar aspek kognitif tapi juga harus dapat menghidupkan suasana belajar sambil bermain dan hasilnya memuaskan.

”Lulusan sekolah kami welcome di dunia kerja. Ini yang memungkinkan. Sekolahnya langsung mendapat tempat-tempat di hati masyarakat Cimahi. Sebab sejak berdiri tahun 2009 jumlah siswa terus bertambah kini di atas 2 ribu siswa dengan jumlah guru 150 orang,” sebut Arip.

Selain itu kata Arip, siswanya dilatih dewasa seperti yang akan dilaksanakan pada 26, 27 dan 28 maret menjadi

panitia pada Lomba futsal antar SMP dan Kegiatan baris-berbaris se Cimahi dan KBB.

Siswa lebih dewasa karena terbiasa mengadakan kegiatan, di dunia kerja langsung dapat menyesuaikan diri. Maka tak heran permintaan kerja dari berbagai perusahaan berdatangan ke sekolah kami,” pungkasnya

 

Sumber :

https://voi.co.id/