shadow

contoh pendekatan normatif

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM KAJIAN ISLAM

Islam dalam kenyataan historis terdiri dari beberapa hal:

1. Sumber-sumber ajaran. Secara ijmak al-Qur’an (Alquran, Quran) diakui sebagai sumber utama dan al-Sunnah (Sunnah Nabi, al-Hadīts, Hadis) sumber kedua. Sumber ketiga dan seterusnya tidak sepenuhnya disepakati, seperti ijmā’ (ijmak, konsensus), ‘urf (kebiasaan baik yang berlaku pada masyarakat Muslim) dan ra’y (penalaran). Mengenai ijmak, perbedaan pendapat berkenaan dengan apakah itu merupakan sumber atau metode. Jika sumber, ijmak siapa yang mesti diambil? Ijmak para Sahabat Nabi Muhammad saw., ijmak para ulama, atau ijmak umat? Kalau ijmak para Sahabat, apa yang diambil dari situ: metodenya, isinya atau kedua-duanya? Kalau ijmak para ulama, bagaimana caranya, sejauh mana hasilnya mengikat kaum Muslimin, apakah orang yang berada jauh dari segi ruang dan waktu boleh menyelisihinya atau membuat ijmak sendiri? Kalau ijmak umat, bagaimana caranya, keabsahannya dst.
Mengenai kemungkinan ijmak menjadi metode, penjelasannya adalah: di dalam Islam tidak ada otoritas (pihak yang berwenang) untuk menentukan bahwa hukum ini berlaku atau tidak berlaku pada umat Islam. Yang ada secara pasti dan tidak diperdebatkan adalah al-Qur’an sebagai sumber, sementara pemahaman terhadapnya bisa sangat bervariasi. Dari sebuah ayat yang sama dapat dipahami pengertian yang berbeda. Ayat: وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ [الصافات: 96], (sedangkan Allah menciptakan kalian dan misalnya, dipahami oleh kaum Asy’ariah sebagai pernyataan bahwa manusia dan perbuatannya diciptakan oleh Allah, sementara kaum Mu’tazilah tidak. Bagi kaum Asy’ariah kata مَا تَعْمَلُونَ dipahami sebagai “apa yang kalian lakukan”, sedangkan bagi kaum Mu’tasilah kata ini berarti “[bahan dari] apa yang kalian buat” yakni patung. Ayat ini merupakan argumen yang diajukan oleh Nabi Ibrahim kepada kaumnya ketika beliau mereka persalahkan karena telah menghancurkan patung-patung yang mereka sembah. Beliau lalu berkata, “Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat ini, sedangkan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian buat?” Jadi beliau mempersalahkan mereka karena telah menyembah patung yang kedudukannya sama (atau bahkan lebih rendah), yakni patung yang juga diciptakan.
Adat kebiasaan yang berlaku pada kaum Muslimin juga begitu. Kapan ia menjadi sumber hukum mengapa ia menjadi sumber hukum? Kalau ada bagian-bagiannya yang berbeda atau bertentangan dengan ajaran Islam yang dirumuskan di tempat dan waktu lain, apakah ia dapat dijadikan sumber?
2. Norma-norma, yakni aturan-aturan yang mengikat pemeluknya, menjadi panduan, tatanan dan pengendali tingkah laku yang berlaku dan berterima. Bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah baik, sedangkan mencuri tidak baik. Bahwa giat belajar adalah baik, sedangkan malas belajar dan mencontek sewaktu ujian adalah tidak baik. Bahwa menolong orang lain yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya adalah baik, sedangkan membiarkannya tak tertolong adalah tidak baik. Demikian seterusnya. Ada perbuatan yang wajib dilakukan, ada yang dianjurkan (sunat), ada yang dibebaskan tanpa anjuran atau larangan (mubah), ada yang tidak dianjurkan (makruh) dan ada yang tidak boleh dilakukan (haram).
3. Rumusan ajaran: akidah, fiqih dan akhlaq. Untuk memudahkan pemeluk Islam mengerti ajaran agamanya, para ulama merumuskan ajaran-ajaran Islam dalam tiga jenis literatur atau buku ajaran. Rumusan akidah ditemukan dalam buku-buku akidah, ilmu kalam, ilmu tauhid atau ushuluddin, rumusan mengenai kewajiban-kewajiban keagamaan dan larangan-larangannya ditemukan dalam buku-buku fiqih, buku-buku peribadatan yang bersifat umum atau buku-buku khusus seperti pesalatan, tuntunan salat, tuntunan puasa, tuntunan berniaga dan tuntunan berhaji. Rumusan tentang tata perilaku dan disiplin diri terdapat dalam buku-buku akhlaq dan buku-buku adab.
4. Umat yang melaksanakan ajaran. Islam juga dipahami sebagai kumpulan orang-orang menganut ajaran Islam yang disebut umat Islam atau kaum Muslimin. Perilaku dan keadaan mereka selalu dipandang sebagai cermin dari Islam dalam kehidupan nyata, untuk yang baik maupun yang buruk. Akhir-akhir ini Islam diidentikkan dengan kekerasan, kebodohan dan kemudahan diprovokasi untuk melakukan perbuatan tidak tertib atau pengrusakan. Ini terjadi karena ada cukup banyak orang beragama Islam yang melakukan tindakan-tindakan itu, walaupun sebenarnya itu semua bertentangan dengan ajaran Islam.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

mujadalah adalah

mujadalah adalah

 

Sejak kecil hingga dewasa Muhammad saw tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah pula makan daging hewan yang disembelih untuk berhala-berhala. Ia sangat benci dan menjauhkan diri dari praktik-praktik kemusyrikan. Setelah menerima wahyu yang memerintahkan untuk berdakwah kepada kaumnya, mulailah Nabi Muhammad saw menyeru mereka untuk mengesakan Allah swt dan mengajak mereka untuk meninggalkan semua perilaku musyrik.
Secara garis besar substansi ajaran Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah saw diawal kenabiannya adalah sebagai berikut:

a. Keesaan Allah swt.

Islam mengajarkan bahwa Allah swt adalah pencipta dan pemelihara alam semesta serta tempat bergantung bagi semua hambanya. Oleh karena itu umat manusia harus beribadah dan hanya menghambakan diri kepada Allah swt. Perbuatan menyekutukan Allah dengan yang lain hukumnya haram dan pelakunya mendapatkan dosa yang paling besar.
b. Hari kiamat sebagai hari pembalasan.
Kematian akan dialami oleh setiap manusia yang bernyawa. Tetapi hal tersebut bukan merupakan akhir dari segalanya. Justru merupakan awal bagi kehidupan yang panjang yakni kehidupan di alam kubur dan di alam akhirat. Adanya hari akhir merupakan peringatan bahwa kehidupan di dunia ini pun memiliki penghabisan.
c. Kesucian jiwa.
Islam menyeru umat manusia untuk senantiasa berusaha menyucikan jiwa dan tidak boleh mengotorinya. Karena tujuan Rasulullah saw diutus oleh Allah swt tiada lain dan tiada bukan ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
d. Persaudaraan dan persatuan
Persaudaraan memiliki hubungan erat dengan persatuan. Sebab Islam mengajarkan bahwa sesama orang beriman adalah bersaudara. Mereka dituntut untuk saling mengasihi dan menyayangi dibawa naungan ridha ilahi.
Dalam memulai tugasnya menyiarkan agama Islam di Makkah, pada mulanya Rasulullah saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi terhadap keluarganya yang tinggal dalam satu rumah serta mengajak sahabat-sahabatnya yang terdekat. Rasulullah mengajak seorang demi seorang agar meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah swt. Beliau aktif memberikan pelajaran, bimbingan, dan pencerahan kepada para pengikutnya di tempat tersembunyi yaitu di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Abu bakar merupakan orang yang sangat berjasa membantu jalannya seruan dan dakwah Rasululllah saw. Melalui perantaraanya banyak orang memeluk Islam, antara lain Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khattab beserta suaminya Said bin Zaid al-Adawi. Selain itu ada pula Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah saw), Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan beberapa orang penduduk Makkah lainnya. Mereka kemudian bergelar Assabiqunal Awwalun yaitu orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.
Setelah tiga tahun lamanya berdakwah dengan strategi sembunyi-sembunyi (da’watul afrad), Rasulullah saw mengubah strategi dakwahnya secara terbuka dan terang-terangan. Hal ini disebabkan oleh adanya perintah Allah yang turun dalam QS. Al-Hijr ayat 94. Dengan mengundang kerabatnya dari kabilah Bani Hasyim untuk menghadiri jamuan makan, Rasulullah saw mengajak mereka agar masuk Islam. Selain itu, beliau juga mengumpulkan penduduk Mekkah terutama yang bertempat tinggal disekitar Kakbah untuk berkumpul di bukit Shafa. Disana Rasulullah saw menyeru mereka untuk meninggalkan agama nenek moyangnya dan hanya mengesakan Allah swt saja.

RECENT POSTS

perang khandaq disebut juga dengan

perang khandaq disebut juga dengan

 

KONDISI MASYARAKAT ARAB PRA-ISLAM

Bangsa Arab adalah penduduk asli Jazirah Arab. Letaknya dibagian barat daya Asia dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari hamparan padang pasir. Oleh sebab itu iklimnya termasuk salah satu yang paling panas dan paling kering di muka bumi. Bangsa Arab adalah bangsa yang plural dengan berbagai suku, keyakinan (agama), dan kelompok-kelompok sosial yang dimiliki.
Jazirah Arab terbagi menjadi lima bagian yaitu Hijaz, Yaman, Najed, Tihamah dan Yamamah. Kota Mekkah dan Madinah termasuk kedalam bagian Hijaz. Kekuasaan atas tanah Arab juga dikuasai oleh suku Quraisy yang terdiri dari 10 golongan, yaitu Bani Adi, Bani Hushaish, Bani Yaqtah, Bani Taim, Bani Qushai, Bani Thalhah, Bani Abdul Muthalib, Bani Naufal, Bani Harb bin A Syamsin, dan Bani Harb bin Sufwan. Masing-masing dari bani-bani tersebut menduduki kelompok sosial bangsawan dan rakyat biasa. Bani-bani tersebut merupakan organisasi keluarga besar yang hubungan antar anggotanya diikat oleh pertalian darah (nasab). Namun terkadang ada kalanya hubungan seseorang dengan baninya didasarkan pada ikatan perkawinan, suaka politik, atau sumpah setia. Diluar daripada itu, selain dihuni oleh suku Quraisy tanah Arab pun juga dihuni oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan yang tidak beragama.
Kondisi geografis sudah barang tentu sangat mempengaruhi pembentukan sifat, perangai, watak, dan tabiat bangsa Arab. Keadaan gurun pasir yang gersang dan keras membuat mereka bersikap kasar, agresif, berwatak keras kepala, bertingkah laku yang keji, serta suka berperang dan merampas.
Bangsa Arab dulunya mengikuti ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Namun lama-kelamaan berganti dengan agama buatan sendiri akibat prasangka-prasangka, angan-angan dan khayalan. Pluralisme yang ada ditengah-tengah bangsa Arab pra-Islam merupakan persoalan yang paling krusial yang menyebabkan hilangnya ajaran tauhid Nabi Ibrahim as di kehidupan mereka. Krisis akhlak melanda masyarakatnya. Akibatnya mereka kehilangan moral sehingga berada dalam zaman yang disebut sebagai zaman jahiliyah atau zaman kebodohan. Perbuatan-perbuatan maksiat dan mungkar merupakan hal yang sangat lazim mereka lakukan pada saat itu, seperti menyembah berhala, mengonsumsi khamr, suka berjudi, mencuri, merampok, berkelahi dan berperang, membunuh bayi perempuan yang baru lahir, memandang rendah martabat perempuan, memberlakukan hukum rimba, mempercayai ramalan, jimat, dan lain-lain.
Pada mulanya berhala masuk ke kota Makkah dibawa oleh seorang raja Makkah pada saat itu yaitu Amru bin Luhay. Ia membawa Hubal dan menempatkannya didalam Kakbah. Kemudian menyeru orang-orang untuk menyekutukan Allah swt. Masyarakat pun mengikutinya karena menganggap hal tersebut sebagai suatu kebaikan. Salah satu berhala mereka yang tertua adalah Manat yang ditempatkan di tepi pantai daerah Qudaid. Semua orang Arab menghormatinya, namun suku Auz dan Khazraj lah yang paling menghormatinya melebihi yang lainnya. Mereka juga menempatkan Latta di Thaif dan Uzza di lembah Nakhlah. Ketiga berhala inilah berhala mereka yang terbesar. Kemudian kemusyrikan semakin menjadi-jadi dan berhala pun semakin banyak disetiap bagian di bumi Hijaz.
Akan tetapi, betapapun negatifnya sifat-sifat yang dimiliki masyarakat Arab pra Islam itu, sebagai manusia mereka tentunya memiliki juga sifat-sifat yang positif, yaitu membela marwah, harga diri, martabat, kehormatan, kemerdekaan dan kebebasan mereka apabila diganggu atau dirampas orang lain, menghormati dan menghargai tamu, memotong tangan pencuri, mengafani mayat sebeum dimakamkan, berpuasa pada hari-hari tertentu (misalnya hari Asyura)[6], berani berkorban untuk membela sesuatu yang mereka yakini benar serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip persamaan dan demokrasi.

Sumber: https://belantaraindonesia.org/

perang 33 hari israel hizbullah

perang 33 hari israel hizbullah

Masjkur memiliki kepribadian yang baik. Sejak kecil ia sudah diajarkan kedua orang tuanya untuk hidup apa adanya dan bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki. Bahkan pada saat orang tuanya sudah meninggal, Masjkur diberikan tanggung jawab yang besar, yaitu mengasuh, membesarkan dan menikahkan adik-adiknya. Tanggung jawab itu ia emban sendiri. Baginya, tanggung jawab kedua orang tuanya dulu adalah tanggung jawabnya sekarang untuk merawat adik-adiknya.
Masjkur adalah orang yang senang membantu satu sama lain, ramah terhadap orang disekitarnya. Pada saat ia dimasukkan ke pesantren oleh ayahnya, ia dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan teman-temannya yang baru. Hingga tidak heran jika ia dapat beradaptasi dengan baik walaupun ia sudah berpindah-pindah pesantren. Selain mendapatkan pengajaran yang baik dari kedua orang tuanya, Masjkur juga memiliki sikap yang baik karena mendapatkan didikan dari pesantren. Walaupun setiap pesantren memiliki cara masing-masing untuk mendidik para santrinya, Masjkur tetap bisa mengikuti apapun peraturan yang ada di pondok pesantren. Seperti ayahnya dulu, Masjkur juga termasuk anak yang rajin, cerdas dan tekun serta suka menolong sesama temannya. Bahkan pada saat ia menjadi seorang santri, ia memiliki banyak teman dan sering kali melakukan diskusi mengenai kehidupan mereka. Umumnya, para santri dating dari kalangan keluarga yang menderita akibat penjajahan Belanda.

3. Peran K.H Masjkur dalam Barisan Sabilillah

Salah satu tokoh Nahdhatul Ulama yang layak disematkan gelar pahlawan adalah K.H Masjkur. K.H Masjkur pernah menjadi Mentri Agama RI yang ikut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari tangan para penjajah. Perjuangan ulama yang lahir di Singosari Malang tahun 1900 M / 1315 H ini telah dirintis sejak usia muda di bidang Pendidikan, dengan mendirikan pesantren Misbahul Wathan. Tetapi, sebelum mendirikan pesantren dan terjun langsung ke masyarakat, Masjkur muda telah mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu dari beberapa pesantren dengan berbagai konsentrasi keilmuwan, antara lain Pesantren Kresek di Batu, Pesantren Bungkuk Malang, Pesantren Sono Bundaran Sidoarjo dan Pesantren Siwalan Sidoarjo.
Setelah itu, Masjkur ke pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Masjkur menimba ilmu hadits dan tafsir dari Kiai Hasyim Asy’ari. Selain itu, Masjkur juga pernah berguru kepada Syaikhona Khalil Bangkalan Madura. Jadi, lengkap sudah bekal awal Masjkur untuk menjadi calon ulama dan pemimpin masyarakat. Selain itu, Masjkur juga sempat menjadi santri di Pesantren Jamsaren Surakarta dibawah asuhan K.H Idris, seorang Kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di pesantren ini, ia bertemu dengan teman-temannya yang kemudia menjadi ulama dan pemimpin umat di daerahnya masing-masing.


Sumber: https://robinschone.com/

 

Al-Muhtadi

Para Khalifah yang memerintah Dinasti Abbasiyyah Periode Kedua

Periode kedua Dinasti Abbasiyyah merupakan periode kemunduran Dinasti abbasiyyah. Hal itu terjadi dikarenakan Khalifah yang memimpin lemah dan hidup bermewah-mewahan, luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyyah yang harus dikendalikan sementara komunikasi sangat lambat, ketergantungan yang berlebih terhadap tentara militer yang terdiri dari orang-orang Turki, dan kesulitan keuangan dikarenakan gaji tentara sangat tinggi.

Adapun khalifah-khalifah pada periode ini diantaranya yaitu :

1. Al-Mutawakkil (232 H/847 M – 247 H/861 M)
Al Mutawakkil adalah putra dari khalifah Al-Mu’tashim yang menjabat sebagai Khalifah pada tahun 232 H/847 M setelah menggantikan saudaranya Al-Watsiq. Al Mutawakkil memerintah selama 14 tahun 9 bulan.
Sejak masa pemerintahan al-Mutawakkil telah ada usaha-usaha menjauhi kekuasaan orang-orang Turki. Ia juga menentang faham mu’tazilah, ia membebaskan orang-orang ahlussunnah yang dipenjarakan pada peristiwa mihnah. Para tawanan perang pun baru dapat ditebus jika telah memberi kesaksian bahwa Alquran bukanlah makhluk Allah. Ia mendekati para petani dan pedagan, memperbaiki kanal, menunda pembayaran pajak tanaman sampai buahnya matang, akan tetapi kekuasaan khlaifah belum begitu kuat sehingga ia kembali didominasi oleh oragn-orang turki. Revolusi revolusi yang terjadi pada era ini adalah revolusi Babak al-Kharmi, revolusi al-Maziar, revolusi Zang, dan revolusi Arab. Sementara itu, kondisi ekonomi yang awalnya sangat melimpah dan kaya mulai mengalami penyusutan karena banyaknya pengeluaran, khususnya keharusan memberi gaji atau upah bagi tentara turki.[4]
Usaha perbaikan ekonomi telah dimulai oleh khalifah pertama dari periode ini, ia menangguhkan pembayaran pajak tanaman hingga tanaman tersebut matang. Akan tetapi, sebelum kebijakan ini menjadi sebuah tradisi atau kebijakan, khalifah al-Mutawakkil telah dibunuh. Dengan demikian, keadaan ekonomi-politik kembali seperti sebelumnya bahkan menjadi lebih parah.
2. Al-Muntashir
Al-Muntashir ialah khalifah Abbasiyah di Baghdad dari 861 hingga 862M. Al-Muntashir naik secara mulus ke tahta kekhalifahan pada 861 dengan dukungan faksi Turki setelah pembunuhan ayahandanya oleh seorang perwira Turki. Berlawan dengan pendirian ayahnya Khalifah Al Mutawakkil yang lebih memihak sunni, Al-Muntashir atas saran dari wazir Ahmad ibn Khashib mengeluarkan dekrit yang mengizinkan para pengikut sekte Syi’ah untuk melakukanziarah kembali kepada tempat-tempat yang terpandang suci oleh sekta syiah sehinggaAl-muntashir sangat di puji-puji oleh golongan syiah.
Al-Muntashir meninggal pada tahun 248 H/862 M menjelang hari raya Idul Adha di usia 26 tahun. Masa pemerintahannya hanya berlangsung selama enam bulan. Masih belum pasti penyebab kematiannya namun ada yang mengatakan penyebabnya adalah karena diracun.[5]
3. Al-Musta’in
Al-Musta’in naik menjabat khalifah dalam usia 27 tahun pada tahun248 H/862 M menggantikan Khalifah Al-Muntashir atas penunjukan dari bangsa Turki. Di masa pemerintahannya banyak terjadi kerusuhan dan pembebasan diridari kekuasaan-kekuasaan setempat. Terjadi pula kudeta terhadap Al-Muntashir hingga akhirnya Al-Muntashir diturunkan dari jabatannya dan diangkatlah Al-Mu’tazz sebagai khalifah. kemudian ia pun dikirim ke kota Wasith dan disana ia pun dibunuh orang. Masa pemerintahannya berlangsung hanya tiga tahun dan berakhir pada tahun 252 H/ 866 M. [6]
4. Al-Mu’tazz
Al-Mu’tazz mulai menjabat sebagai khalifah pada tahun 252 H/ 866 M dan berusia 20 tahun pada saat itu. ia langsung dari kegelapan relung penjara naik memegang tambuk kekuasaan. Saudaranya Al-Muayyad yang sama-sama keluar dari penjara kemudian diangkatnya menjadi Panglima Besar kerajaan. Al-Muayyad sangat dihormati dan dimuliakan oleh penduduk ibukota Baghdad. Hal ini menilbulkan kecemburuan khalifah Al-Mu’tazz. Menjelang pengunjung tahun 252 H/866 M khalifah Al-Mu’tazz memerintahkan untuk menangkap adiknya tersebut. akhirnya Al-Muayyad di tangkap dan dipenjarakan sampai meninggal.
Pada masa pemerintahannya terjadi berbagai kerusuhan diantaranya yaitu kerusuhan yang dilakukan oleh golongan khawarij. Golongan khawarij tersebut melakukan pemborantakan di wilayah Mosul, Irak Utara dibawah pimpinan Musamir Al-Khariji. Kerusuhan ini terjadi selama enam tahun lamanya dengan kemenangan yang silih berganti hingga akhirnya Musamir Al-Khariji tewas dalam pertempuran pada tahun 258 H/ 872 M dan sisa-sisa pengikutnya porak poranda. Pada masa ini pula lahir dua buah dinasti baru yaitu dinasti shaffariah dalam wilayah Iran dan dinasti thuluniah di Mesir. Al –Mu’tazz meninggal pada usia 24 tahun karena siksaan yang sangat kejam yang dilakukan kaum pemberontak dari tentara ibu kota Samarra yang menyerbu ke dalam istana secara langsung.
5. Al-Muhtadi
Al-Muhtadi adalah putra dari Khalifah Al-Watsiq. ia diangkat menjadi khalifah menggantikan Al-Mu’tazz pada usia 37 tahun. Ia bukanlah seorang militer akan tetapi seorang ulama yang menyerahkan kehidupannya untuk kepentingan agama dan sikap hidupnya taat dan warak.[7]
Pada masa awal pemerintahannya, Al-Muhtadi mengeluarkan dekrit yang melarang segala jenis hiburan kepelesiran dan seluruh perbuatan munkarat. Ia pun menyingkirkan seluruh penyanyi wanita (al-Mughniat) dari istana khalifah. Pada masanya juga muncul gerakan Zangi di Basrahyang lambat laun semakin meluas.
Akhir dari kekuasaannya yaitu kekalahannya dalam melawan panglima Musa ibn Begha salah satu kaum elite yang dirugikan oleh Al-Muhtadi. Pasukan Al-Muhtadi merasa tidak sebanding dengan pasukan Musa ibn Begha yang ahli dalam strategi perang. Namun Al-Muhtadi tetapmemaksakan melawan hingga maka terjadilah kudeta. Al-Muhtadi berusaha melarikan dirinamun berhasil tertangkap dan di bunuh. Al-Muhtadi memerintah hanya selama 11 bulan. Ia meninggal pada usia 38 tahun pada tahun 256 H/870 M.

RECENT POSTS

Bangsa Turki menjadi orang-orang yang menguasai khilafah

DINASTI ABBASIYAH PRIODE 2

Dominasi Bangsa Turki Terhadap Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

Pada masa Al-Mu’tashim Unsur Turki mulai memasuki pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Orang-orang Turki pada masa Al-Mu’tashim dijadikan sebagai pelayan, hamba, tentara, dan komandan. Bangsa Turki adalah orang-orang yang sangat kuat. Mereka terlatih perang, naik kuda dan senjata. Sehingga Al-Mu’tashim senang terhadap mereka. Walaupun demikian, Al-Mu’tashim hanya menganggap mereka hamba dan pembantu yang berada dibawah kekuasaannya.[1]
Pilihan Khalifah Al-Mu’tashim terhadap unsur Turki dalam ketentaraan terutama dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Ma’mun dan sebelumnya[2]. Pada akhirnya Al-Mu’tashim pun merasakan bahaya dari Bangsa Turki dimana rakyat Baghdad dibuat marah oleh perilaku mereka. Bangsa Turki pernah menunggang kuda di Pasar untuk kemudian menginjak-injak anak kecil dan orang tua. Kemudian, terjadilan pertumpahan darah di sana. Untuk merendam gejolak yang terjadi akhirnya Al-Mu’tashim membangun kota Samarra untuk bangsa Turki. Dengan demikian orang-orang Turki memiliki tanah dan rumah sendiri. mereka pun menguasai tempat yang mereka diami dan akhirnya kekuasaan mereka pun terus bergerak.
Setelah Al-Mu’tashim meninggal pada tahun 227 H pemerintahan dilanjutkan oleh Al-Watsiq. Al-Watsiq menyerahkan segala urusan pemerintahan kepada para menteri dan para komandan yang berkebangsaan Turki. Al-Watsiq juga tidak memberikan gelar putra mahkota kepada siapapun sampai ia meninggal. Hal ini merupakan kesempatan Bangsa Turki untuk memilih khalifah yang tepat lalu terpilihlah Al-Mutawakkil sebagai khalifat selanjutnya.[3]
Demikianlah Bangsa Turki menjadi orang-orang yang menguasai khilafah. Kesalahan-kesalahan politik dari para khalifah Dinasti Abbasiyah pun datang silih berganti yang membukakan jalan yang luas untuk Bangsa Turki menempatkan orang-orang mereka. Hal tersebut menjadikan mereka pemilik ibu kota negara serta berhak menentukan khalifah. Sebenarnya, ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. Dari tiga belas Khalifah pada periode kedua ini, hanya empat khalifah yang meninggal secara wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa sehingga wibawa khalifah pun merosot tajam.


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

Pada masa khalifah Al-Manshur ibu kota negara yang dulunya adalah

PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN DAN KEMAJUAN DINASTI ABBASIYAH

Perkembangan Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M), dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji membayar upeti.
Pada masa Dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam sangat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijjaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan. Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian Barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah Barat.
Kemajuan-Kemajuan dan Perkembangan yang Dicapai : Secara garis besar ada dua faktor penyebab tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam, yakni faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal berasal dari dalam ajaran Islam bahwa ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, memiliki kekuatan yang luar biasa yang mampu memberikan motifasi bagi para pemeluknya untuk mengembangkan peradabannya.
Sedangkan faktor eksternalnya, yaitu ajaran yang merupakan proses sejarah umat Islam di dalam kehidupannya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran Islam. Faktor penyebab tersebut adalah semangat Islam, perkembangan​organisasi ketatanegaraan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan Islam.
B. Kemajuan yang dialami Dinasti Abbasiyah
Kemajuan di bidang Politik
Pada masa khalifah Al-Manshur ibu kota negara yang dulunya adalah Al-Hasyimiyah dipindahkan ke kota Baghdad. Di kota baru ini Al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, kepolisian negara, dan membentuk angkatan bersenjata, lembaga kehakiman, serta jawatan pos yang tidak hanya bertugas mengantar surat tetapi juga bertugas menghimpun informasi di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
Kemajuan di bidang Ekonomi
Pada masa Al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kejayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.
Kemajuan di bidang Agama
Pada masa Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, yaitu Tafsir bil al-Ma’tsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Tokoh tafsir terkenal seperti Ibn Jarir at-Tabary, Ibn Athiyah, Abu Bakar Asam (Mu’tazilah), Abu Muslim Muhammad Ibn Bahr Isfahany (Mu’tazilah), dan lain-lain.
Dalam bidang Hadits, mulai dikenal ilmu pengklasifikasian Hadits secara sistematis dan kronologis seperti, Shahih, Dhaif, dan Madhu’. Bahkan sudah diketemukan kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarrah dan ta’dil rawi yang meriwayatkan Hadis tersebut. Ahli Hadits terkenal di zaman ini adalah: Imam Bukhari (w 256 H), Imam Muslim (w 261 H), Ibn Majah (w 273 H), Abu Daud (w 275 H), at-Tirmidzi, An-Nasa’I (303 H), dan lain-lain.


Sumber: https://swatproject.org/

Abu Bakar menderita sakit panas selama 15 hari

AKHIR PEMERINTAHAN KHALIFAH ABU BAKAR

Islam di masa Abu Bakar berkembangan dengan baik dan fokus pada perluasan wilayah dan penumpasan pemberontakan oleh suku-suku yang murtad dari Islam. Selain makin berkembangnya Islam, Madinah sebagai pusat pemerintahan menjadi kota yang lebih baik. Stabilitas negara bisa dikendalikan dengan pasukan militer yang kuat dan loyal.
Abu Bakar juga membentuk lembaga Bait al-Mal, semacam kas negara atau lembaga keuangan. Pengelolaannya diserahkan kepada Abu Ubaidah sahabat nabi yang digelari Amin Al-‘Ummah. Fungsi Bait al-Mal ini adalah untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran negara secara bertanggung jawab guna terpeliharanya kepentingan umum. Bait al-Mal adalah amanat Allah dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu, beliau tidak mengizinkan pemasukan atau pengeluarannya berlawanan dengan apa yang telah ditetapkan oleh syari’at. Selain mendirikan Baitul Mal ia juga mendirikan lembaga peradilan yang ketuanya diserahkan kepada Umar bin Khattab.
Abu Bakar memerintah pada 632-634 (11-13 H). Selama dua tahun tersebut beliau menegakkah pemerintahan Madinah yang terancam keruntuhan. Beliau tidak hanya berhasil mempersatukan kembali suku-suku yang terpecah-pecah, tetapi juga berhasil mengislamkan suku-suku yang sebelumnya memusuhi Islam. Di hari ketujuh bulan Jumadil Akhir tahun 13 H Abu Bakar menderita sakit panas selama 15 hari. Delapan hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir, beliau meninggal dunia.
Abu Bakar dimandikan istrinya, Asma’ binti Umais dan anaknya, Abudrrahman. Ia dishalati, dipimpin oleh Umar bin Khattab dan dikafani pada dua bajunya, sesuai wasiatnya. Abu Bakar meninggalkan di usia 63 tahun dan dimakamkan di dekat Rasulullah.

3.1 KESIMPULAN

Abu Bakar merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang paling dekat. Selepas kematian Rasulullah, kaum muslimin membaiat Abu Bakar sebagai penggantinya. Sebagai Khalifah Abu Bakar memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pemimpin agama (khalifah, bukan Rasul) sekaligus merangkap kepala negara.
Abu Bakar menjabat sebagai khalifah selama dua tahun. Dalam masa pemerintahan tersebut, ia melanjutkan misi ekspedisi Usama bin Zaid yang telah dipersiapkan Rasulullah pada masa hidupnya, mengambalikan kaum muslimin dalam ajaran Islam yang benar dan memerangi kaum murtad, mengumpulkan Alqur’an dalam satu mushaf, dan mengirim pasukan ke Irak dan Syam untuk menyebarkan ajaran Islam.
Ketika ia menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar juga berhasil menaklukan kekaisaran Romawi dan Persia sehingga Islam mampu menjadi sebuah negara besar yang diakui oleh pemerintahan-pemerintahan di sekitarnya.
Pemerintahan Abu Bakar berakhir ketika beliau wafat, digantikan oleh Umar bin Khattab. Abu Bakar wafat di usia 63 tahun di bulan Jumadil Akhir. Kemudian Abu Bakar dimakamkan di sisi Rasulullah didalam kamar Aisyah.

RECENT POSTS

Abu Bakar mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid

Ekspedisi Ke Luar Madinah

a. Wilayah Persia

Khalid bin Walid mendapatkan perintah untuk menaklukan wilayah Persia oleh Abu Bakar sekitar awal tahun 12 H. Abu Bakar juga mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Iyadh bin Ghanim yang mengepung wilayah Persia Utara. Namun di wilayah Khawazdim pasuka Khalid dihadang oleh Hurmuz, salah satu pasukan Persia yang kemudian berhasil dikalahkan oleh Khalid.
Berita kekalahan tersebut didengar oleh pasukan Persia yang berada di Azdasyir, yang kemudian berniat membalas dendam. Mereka bertemu di lembah Tsaniy, di suatu lembah dekat sungai di Basrah. Khalid berhasil menumpas pasukan tersebut dan mengirimkan seperlima ghanimah ke khalifah setelah membagikan empat perlimanya kepada pasukan.
Di bulan Shafar 12 H, Raja Persia akhirnya mendengar kekalahan pasukannya dan menghimpun pasukan menuju Waljah. Salah satu kabilah Arab, bergabung dengan pasukan Persia, yakni Bani Bakkar. Khalid berhasil mengalahkan mereka, namun kekalahan Bani Bakkar menyulut kemarahan kaum Nasrani Arab dan mereka memutuskan untuk membantu kerajaan Persia menyerang Islam.
Kaum Nasrani Arab meminta bantuan kepada kerajaan Persia. Di Ullais kedua kelompok bertemua dan menggabungkan kekuatan untuk menumpas kaum muslimin. Khalid berhasil mengalahkan pasukan gabungan tersebut.
Berturut-turut pasukan Khalid berhasil menaklukan beberapa wilayah, yakni: menaklukan Hirah dan membuat penduduk disana membayar Jizyah kepada khalifah, menaklukan Anbar yaitu sebuah kota di tepi sungai Eufrat di utara Kuffah, menaklukan Tamr dan berhasil mengislamkan 40 pemuka agama Nasrani yang memahami injil, menaklukan Daumatul Jandal, dan terakhir di Furadh. Kemudian Abu Bakar memulai untuk menaklukan kekaisaran Romawi.

b. Wilayah Syam
Abu Bakar mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, pasukan yang dulunya hendak dikirim Rasulullah namun ditunda karena wafatnya beliau. Pasukan ini kemudian bergabung dengan pasukan lain untuk menjadi pasukan gabungan yang lebih besar guna mempersiapkan diri untuk menghadapi pasukan Romawi.
Di bulan Shafar tahun 13 H, pasukan Romawi menghimpun diri di Damaskus. Seluruh pasukan Islam berkumpul di Yarmuk untuk mengahadapi pasukan Romawi. Pasukan Romawi berjumlah 240.000, sedangkan pasukan gabungan Islam berjumlah 39.000 orang. Kedua kubu bertarung dengan sengit, pasukan muslim berhasil memukul mundur pasukan Romawi. Korban banyak berjatuhan dan sebagian besar tenggelam di sungai Yarmuk dan Waqushah.
Perang Yarmuk belum berakhir hingga khalifah Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar, yang kemudian memecat Khalid sebagai panglima perang dan digantikan oleh Abu Ubaidah. Pasukan muslim berhasil memenangkan pertarungan tersebut.


Sumber: https://bengkelharga.com/

Aswad menyerang Najran dan berhasil mendudukinya beserta wilayah sekitarnya

Memberantas Nabi Palsu

Tidak berapa lama setelah Rasulullah wafat,

munculanlah orang-orang yang mengikrarkan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi. Beberapa diantara mereka telah mendeklarasikan diri sebagai nabi sejak Rasulullah masih hidup dan sebagiannya muncul setelah mendengar beliau telah waat. Sebagian nabi palsu tersebut adalah tokoh-tokoh dari beberapa suku yang belum bisa menerima Islam (non Muslim), akan tetapi berusaha meniru atau menyaingi keberhasilan kaum muslimin.
Pertama, Musailamah al- Kadzdzab. Ia memiliki pasukan sebesar 40.000 orang. Musailamah merupakan tokoh cendekiawan yang terpandang didalam lingkungan Bani Hanifah yang mendiami wilayah Yamamah. Abu Bakar mengirimkan pasukan dibawah Panglima Ikrimah bin Amru bin Hisyam, yang disusuli oleh pasukan cadangan dibawah pimpinan Panglima Syarhabil bin Hasanah.
Selanjutnya bala bantuan lain menyusul yang terdiri dari atas kaum Muhajirin dan Anshar yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Musailamah yang mengetahui hal tersebut kemudian menuju Wadial Aqraba, sebuah tempat perlintasan bagi musafir Basrah bersama seluruh pasukannya. Majat bin Mirarat, tokoh yang dihormati di kalangan Bani Hanifah membuat regu patroli dan menyelidiki gerak-gerik kaum muslimin atas dasar belas dendam terhadap sekutu mereka, Bani Amir. Regu tersebut berhasil disergap oleh pasukan Khalid dan selain Majat dihukum mati karena tidak mau berbaiat kepada Abu Bakar sebagai khalifah.
Pertempuran besar pecah keesokan harinya. Musailamah yang akhirnya terdesak melrikan diri ke Al-Hadikat, yaitu wilayah miliknya yang dilingkari tembok yang tinggi. Khalid kemudian mengepung tempat itu, Al-Barrak salah satu pasukannya meminta untuk dilemparkan ke dalam dan membuka gerbang. Pasukan muslim menyerbu, Khalid yang khawatir akan jatuhnya korban besar di kedua belah pihak berseru dan menantang Musailamah melakukan perang tanding.
Musailamah sendiri sebenarnya telah tewas ditangan Wahsyi yang segera menyerukan takbir. Pertempuran berakhir dengan jumlah korban dan harta rampasan yang besar. Dengan kekalahannya, suku Hanifah segera berbalik dan mengangkat baiat terhadap Abu Bakar.
Kedua, Sajjah Tamimiyah. Sajjah adalah seorang wanita yang berasal dari suku besar Tamim. Dia mengaku sebagai nabi setelah mendengar Rasulullah meninggal dunia. Sajjah merupakan salah satu pemuka suku Tighlab, kemudian ia melakukan sekutu dengan Malik bin Nuwaira yang kemudian menghimpun pasukan yang cukup besar.
Kemudian ia menggabungkan diri dengan Musailamah, beberapa kitab mengatakan bahwa Musailamah dan Sajjah melakukan pernikahan. Kemudian dibuat persyaratan dimana hasil wilayah Yamamah dibagi menjadi dua tiap tahunnya, sebagai imbalannya kedua pasukan harus bergabung untuk menghadapi pasukan dari Madinah.
Ketiga, Al-Aswad al-Ansi. Nama aslinya adalahAbhalah bin Ka’ab bin Ghautsal-Ansi, dari negeri yang dikenal dengan nama Kahf Khubban. Ia mengaku dirinya seorang nabi ketira Rasulullah hendak wafat dan seluruh suku Mazhaj mempercayainya. Aswad menyerang Najran dan berhasil mendudukinya beserta wilayah sekitarnya.
Aswad sendiri akhirnya dibunuh panglimanya, Kais Ibnu Abdi Yaguts. Kemudian ia menekan dan menindas beberapa kaum di daerah Yaman. Emir Firuz, salah satu pejabat San’a yang dikuasi oleh Kais meminta pertolongan di Madinah karena hendak dibunuh. Pasukan Ikrimah yang datang dari wilayah Mahra dan pasukan Ibnu Ummayah dari Madinah mengepung San’a dan menyerbu masuk ke dalam kota.
Kais sendiri kemudian ditangkap dan dikirim ke Madinah untuk dihadapkan dengan Abu Bakar. Wilayah tersebut kemudian kembali berbaiat kepada Abu Bakar.
Keempat, Thualihah al-Asadi. Dalam satu sejarah disebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fikir dari suku besar Asad dan kekuatannya diakui dan diterima oleh suku besar Thai Ghathfan. Pasukan Khalid bin Walid berangkat ke tempat suku Thai Ghathfan, Murra dan Fezara yang menggabungkan diri dengan Thualihah, kemudian terjadilah pertarungan yang sengit.
Pasukan Thualihah dihancurkan dan Thualihah sendiri melarikan diri ke Syria. Ia kemudian memeluk Islam kembali dan sempat umrah ke Mekkah ketika Abu Bakar masih menjabat. Abu Bakar hanya membiarkannya dan berkata, “Ia sekarang seorang muslim, apa yang harus dilakukan?”


Sumber: https://ngegas.com/