preferential-lite
shadow

Anak-anak Pegawai Kementerian Keuangan Lomba Tahfidz Alquran

Anak-anak Pegawai Kementerian Keuangan Lomba Tahfidz Alquran

Anak-anak Pegawai Kementerian Keuangan Lomba Tahfidz Alquran

Anak-anak Pegawai Kementerian Keuangan Lomba Tahfidz Alquran
Anak-anak Pegawai Kementerian Keuangan Lomba Tahfidz Alquran

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kanwil Jawa Timur II menggelar lomba Tahfidz Alquran,

Di Masjid Salahudin DJP Jatim II, Rabu (22/5/2019).

Anak-anak yang menjadi peserta dalam kegiatan Ramadan tersebut adalah anak dari para pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan di wilayah Jawa Timur.

Puluhan peserta yang mendaftar sangat antusias mengikuti lomba tersebut. Mereka ada yang anak dari pegawai Kantor Pajak Sidoarjo, ada dari Kanwil, Bea Cukai serta sejumlah instansi lain di bawah Kementerian Keuangan.

Dalam lomba ini, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok usia. Seperti kelompok usia 4-8 tahun

, ada 8-12 tahun, dan kelompok usia anak-anak lain.

Begitu selesai, pemenang langsung diumumkan. Dari setiap kategori, ada tiga orang pemenang.”Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian santunan untuk anak yatim dan buka bersama,” kata Kepala Kanwil DJP Jatim II Lusiani.

Lusiani berharap kegiatan lomba Tahfid Alquran ini bisa terus memacu semangat

mereka supaya lebih giat lagi dalam mempelajari Alquran. Kegiatan ini sengaja digelar untuk menyemarakkan bulan Ramadan.

Kebetulan Kantor DJP Jatim II berdampingan dengan Kanwil Bea Cukai sehingga kegiatan Ramadan ini dilakukan bersama-sama.

“Harapannya mudah-mudahan kita semua semakin kuat dalam menjalankan ibadah pada bulan suci Ramadhan ini,” imbuhnya.

 

Sumber :

http://www.pearltrees.com/danuaji88/item277225370

Mahasiswa UBAYA Olah Bambu Jadi Produk Aesthetic

Mahasiswa UBAYA Olah Bambu Jadi Produk Aesthetic

Mahasiswa UBAYA Olah Bambu Jadi Produk Aesthetic

Mahasiswa UBAYA Olah Bambu Jadi Produk Aesthetic
Mahasiswa UBAYA Olah Bambu Jadi Produk Aesthetic

Dua mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya

(FIK Ubaya), Arby Maulana dan Prasetiya Marani Kartajaya raih predikat ‘The Best Trend Implementation Design’ dalam ciptakan karya dari batang bambu pada ajang kompetisi Design Camp #1. Kompetisi ini merupakan rangkaian acara Gelar Desain bertajuk “Bamboo Experience for Creative Millennials” yang diselenggarakan Asosiasi Desain Produk Indonesia (ADPI) di UKDW, Yogyakarta. Proses pembuatan karya “Bambookoe” akan dijelaskan oleh Arby Maulana dan Prasetiya Marani Kartajaya pada Jumat, 24 Mei 2019 pukul 10.00 – 11.30 WIB di Gazebo Psikologi, Kampus Ubaya Tenggilis, Jl. Raya Kalirungkut, Surabaya.

Kompetisi diikuti oleh 32 mahasiswa desain produk Perguruan Tinggi Negeri

(PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari seluruh Indonesia. Arby dan Prasetiya sebagai mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2017 menciptakan “Bambookoe” dari kreasi bambu berupa lampu tidur dan stationary. Karya “Bambookoe” dibuat multifungsi. Ukiran pada produk lampu tidur memiliki filosofi yang terinspirasi dari icon kota Surabaya seperti patung Sura dan Baya, bambu runcing, anyaman, dan kobaran api. “Selain digunakan sebagai lampu tidur, bagian bambu runcing dapat digunakan meletakkan kuas atau alat tulis. Kemudian ada ukiran api yang menunjukkan semangat arek-arek Suroboyo yang memiliki history perjuangan di kota Pahlawan. Terakhir saya membuat anyaman untuk memperkenalkan anyaman bambu ,” ungkap Arby.

Pada kompetisi ini, seluruh peserta diajak untuk mengunjungi pengrajin bambu

di Sentra Kerajinan Bambu Sendari. Peserta diminta untuk menciptakan kreasi bambu dengan desain yang kreatif serta inovatif dari sudut pandang milenial. Kompetisi diawali dengan workshop ‘Kerajinan Bambu Sinta’ dan peserta diminta belajar bagaimana cara mengolah bambu dan mempromosikan bambu menjadi produk yang tidak dianggap murah dan memiliki nilai jual.

“Melalui kompetisi ini, kami dapat memotivasi pekerja pengrajin bambu untuk menciptakan terobosan baru di era milenial. Jadi selain kami mendapat ilmu terkait pengolahan bambu secara tradisional dari mereka, kami juga memberikan feedback berupa ide baru yang bisa diproduksi pengrajin nantinya,” jelas Arby. Sedangkan produk stationary terdiri dari beberapa tempat yang dapat digunakan untuk menyimpan peralatan kantor atau alat tulis, jam tangan, kacamata, dan masih banyak yang lain.

Proses perencanaan produk dilakukan oleh Arby dan Prasetiya dengan menggambar serta mempersiapkan produk selama kurang lebih dua minggu. Setelah eksplorasi dan terjun secara langsung di tempat pengrajin, membuat tim Ubaya menjadi lebih termotivasi untuk membuat produk bambu yang bermanfaat dan diminati banyak orang.

 

Sumber :

https://uberant.com/users/danuaji88/

Tim Unesa Melaju ke Perempat Final Kontes Robot Terbang

Tim Unesa Melaju ke Perempat Final Kontes Robot Terbang

Tim Unesa Melaju ke Perempat Final Kontes Robot Terbang

Tim Unesa Melaju ke Perempat Final Kontes Robot Terbang
Tim Unesa Melaju ke Perempat Final Kontes Robot Terbang

Tim Golden Eagle Art Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melangkah pasti ke perempat final Kontes Robot

Terbang Indonesia (KRTI) di Lapangan Terbang Angkatan Laut Grati, Pasuruan, Kamis (3/10/2019).

Di babak 16 besar, Golden Eagle Art yang berkompetisi di divisi Racing Plane dan Technology Development, menyisihkan tim dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Selanjutnya, di babak delapan besar, Golden Eagle Art akan menghadapi tim Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik Unesa, Dedy Rahman Prehanto bersyukur timnya bisa melangkah sejauh ini. Dia juga berharap agar semua peserta menjaga sportivitas kompetisi. “Kalah menang dalam suatu pertandingan adalah hal yang bisa,” katanya di sela mendampingi Tim Golden Eagle Art.

Bagi pemenang, kata Dedy, harus selalu bersyukur dan tidak boleh besar hati

, dan yang kalah tidak boleh suudzon alias berburuk sangka terhadap peserta lain. “Salah satu kunci kemenangan dalam suatu pertandingan, yakni selalu berpikir positif dalam semua hal,” tegasnya.
Baca Juga:

Konser Gamelan Pertama: Unesa Perjuangkan Eksistensi Musik Tradisi
Unesa Segera Dirikan Prodi dan Pusat Studi Bahasa Korea
154 Guru Besar se-ASEAN Legitimasi Bahasa Indonesia Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional
Tim Robotik Unesa Siap Tarung di Tubitak UAV Competition 2019
Kontes Robot Indonesia 2019, Unesa Raih Prestasi Membanggakan

Seperti diberitakan, KRTI digelar Unesa bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran

dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) di Lapangan Terbang Angkatan Laut Grati Pasuruan, 1-4 Oktober 2019.

Kegiatan yang telah berlangsung kali ketujuh tersebut diikuti 95 tim dari 40 perguruan tinggi se-Indonesia. Pembukaan digelar di halaman Gedung Rektorat Unesa, Selasa (1/10/2019) malam lalu.

Ketua Panitia, Maspiyah menjelaskan, secara teknis kompetisi berlangsung selama tiga hari. Dimulai Rabu (2/10/2019) hingga penutupan Jumat (4/10/2019) hari ini.

Sebanyak 95 tim tersebut, kata Maspiyah, akan berkompetisi dalam empat divisi. Yakni, 24 tim mengikuti Divisi Racing Plane (RP), 25 tim di Divisi Fixed-Wing (FW), 24 tim di Divisi Vertical Take-off and Landing (VTOL), serta 22 tim di Divisi Technology Development (TD).

Sementara itu, Rektor Unesa, Prof Nur Hasan berterima kasih atas kepercayaan Kemenristek Dikti kepada kampusnya untuk menyelenggarakan KRTI 2019.

“Penyelenggaraan KRTI menjadi bagian upaya dari mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu, serta mengembangkan kemampuan Iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa sekaligus beradaptasi pada era revolusi industri 4.0,” pungkasnya

 

Baca Juga :

Tim Ascarya ITS Sabet Juara Umum Kompetisi Konstruksi Ramping

Tim Ascarya ITS Sabet Juara Umum Kompetisi Konstruksi Ramping

Tim Ascarya ITS Sabet Juara Umum Kompetisi Konstruksi Ramping

Tim Ascarya ITS Sabet Juara Umum Kompetisi Konstruksi Ramping
Tim Ascarya ITS Sabet Juara Umum Kompetisi Konstruksi Ramping

Prestasi gemilang kembali dibawa pulang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kali ini, dalam Kompetisi Konstruksi Ramping (K2R) 4.0, delegasi ITS yang diwakili oleh tim mahasiswa Departemen Teknik Sipil (DTS) berhasil memborong dua gelar juara pertama dalam perlombaan tahunan yang digelar oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (5/10) lalu.

Perolehan juara pertama tersebut pada kategori Kinerja Total dan Pemborosan Minimal. Dengan perolehan dua juara pertama tersebut, menjadikan ITS dinobatkan sebagai juara umum. Tim tersebut terdiri atas Zhafira Aulia KA (mahasiswa S1 angkatan 2016), Davin Atmaja L (S1, 2017), William Bunkharisma (S1, 2017), M Arif Ramapramudya (S1, 2018), Alfya Natasya D (S1, 2018), Erfandi Zen V (S2, 2019), dan Freedy Kristawan (S2, 2018).

Tergabung dalam tim Ascarya, ketujuh mahasiswa ini harus bersaing ketat dengan peserta lain untuk merancang dan memproses purwarupa konstruksi dengan material utama lego (mainan bongkahan plastik kecil yang dapat dirancang menjadi apa saja, red).

K2R 4.0 sendiri merupakan kompetisi dengan fokus penerapan lean construction

(konstruksi ramping). Dalam penerapannya menekankan pada efisiensi kinerja total dan pemborosan minimum dari suatu konstruksi. Acara yang digelar rutin setiap tahunnya sejak 2016 ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai konstruksi ramping itu sendiri.

Freedy Kristawan, salah satu anggota tim Ascarya, mengatakan bahwa dalam lomba ini tim mereka dibagi menjadi dua posisi. Satu orang bertindak sebagai kontraktor utama, sementara enam rekannya yang lain menjadi subkontraktor. Freedy dan tim diberikan gambar desain yang akan diproses secara collaborative pull planning (proses kolaborasi untuk mencari rencana penjadwalan oleh seluruh peserta). “Dalam hal ini kami juga harus membuat rancangan kegiatan purwarupa bangunan berdasarkan rencana tersebut,” ujar pemuda asal Surabaya ini.

Selanjutnya, Freedy dan tim mendata kebutuhan material dan membeli material

yang diperlukan. Serta tidak lupa memasang material lego yang ada hingga purwarupa berhasil diwujudkan. Terakhir tapi tak kalah penting, kinerja total, waste material (lego yang berlebih saat pemesanan atau tidak terpasang), error pemasangan, serta pelanggaran lain yang telah ditentukan pun dihitung oleh tim Ascarya.

Inovasi yang dilakukan tim yang diketuai oleh Zhafira ini ialah saat pemasangan layer, di mana tim melakukannya dengan cepat dan tepat. Bahkan menurut Freedy, tidak ada waste material yang dihasilkan konstruksi rancangan Ascarya. Hal ini juga terjadi lantaran mereka tidak mengerjakan konstruksi per lapisan, melainkan memaksimalkan jumlah lantai yang dapat dikerjakan. “Sehingga tim kami berhasil menyelesaikan tiga lantai dalam sekali pengerjaannya,” ungkapnya semangat.

Freedy menambahkan bahwa koordinasi merupakan hal terpenting dalam peraihan juaranya tim ini.

Sebelum memesan material, mereka melakukan pengecekan internal antara tujuh personel dengan jumlah lego yang akan dipasang. “Sehingga pada akhirnya kami berhasil merancang satu konstruksi yang terdiri dari sepuluh tingkat (lantai, red),” pungkasnya bangga.

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/manusia-purba/

Dinamika Politik Santri

Dinamika Politik Santri

Dinamika Politik Santri

Dinamika Politik Santri
Dinamika Politik Santri

Direktur Pascasarjana IAIN Madura, Dr Zainuddin Syarif menilai santri sebagai sumber kekuatan politik pesantren.

Sebab santri merupakan salah satu elemen penting dalam keberadaan dunia pesantren.

Hal tersebut disampaikan dalam ajang internasional bertajuk Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019, yang digelar Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) di Jakarta, Selasa hingga Jum’at (1-4/10/2019).

“Prinsipnya dalam perspektif politik, santri merupakan sumber kekuatan politik pesantren.

Karena jalinan dan relasi santri terhadap sosok kiai adalah sebuah kepatuhan sam’an wa ta’atan denhan mengharap berkah agar kehidupan santri lebih baik,” kata Dr Zainuddin Syarif, Sabtu (5/10/2019).
Role model politik santri versi Dr Zainuddin Syarif.

Pihaknya menilai tidak salah jika Olesen menyatakan justifikasi simbol agama yang diberikan santri

terhadap kiainya seperti barakah, karamah dan lainnya merupakan faktor politik yang berfungsi sebagai sumber kekuatan. Seperti yang disampaikan Moesa dalam disertasinya ‘Agama dan Politik; Studi Konstruksi Sosial Kiai tentang Nasionalisme Pasca Orde Baru’.

“Hal ini menandakan bahwa santri sebagai unsur pesantren dan keberadaannya sangat menentukan, kiai tanpa santri seperti presiden tanpa rakyat. Karena mereka adalah sumber daya manusia yang tidak saja mendukung keberadaan pesantren, tetapi juga menopang intensitas pengaruh kiai dalam masyarakat,” ungkapnya.

Dalam statment Moesa, santri merupakan kepanjangan tangan kiai dalam keterwakilannya di partai politik melakukan partisipasi kreatif dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan. “Kenyataan ini diperkuat Mansurnoor yang menyatakan bahwa santri merupakan jangkar politik kiai yang berposisi sebagai Kiai Rajhe (besar) atau Elit yang mengkoordinir santri-santri yang mempunyai peran sentral di masyarakat. Seperti menjadi guru ngaji, madrasah, takmir masjid, kiai lokal (kene’), aparatur desa, dan lainya,” jelasnya.

“Era reformasi memberikan dampak perubahan terhadap pola pikir masyarakat dalam melepaskan diri dari jeratan dan kungkungan politik kekuasaan. Ledakan dan gelombang reformasi sebagai era baru dalam memberikan kebebasan dalam berpolitik, merambah juga terhadap perubahan perilaku politik santri,” imbuhnya.

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/sejarah-pramuka/

Murid SDN Bantarkemang Belajar di Luar Kelas

Murid SDN Bantarkemang Belajar di Luar Kelas

Murid SDN Bantarkemang Belajar di Luar Kelas

Murid SDN Bantarkemang Belajar di Luar Kelas
Murid SDN Bantarkemang Belajar di Luar Kelas

Agar proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak monoton dan membuat anak didiknya

merasa jenuh, Kepala SDN Bantarkemang 1, Reni Royani mengajak muridnya belajar di luar kela. Menurut Reni, belajar di ruang kelas, terkadang membuat siswa merasa bosan. Sehingga KBM pun menjadi kurang maksimal. Pembelajaran sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas, melainkan juga luar kelas sehingga anak-anak bisa menambah

pengetahuan misalnya tentang alam di sekitar sekolah dan bisa lebih berekspresi..

“Cara seperti ini ternyata bisa menambah gairah KBM mereka,” ujarnya.

Selain itu, sambung Reni, kegiatan belajar di luar kelas bisa meningkatkan kemampuan dalam bercerita, merangsang kreativitas, menambah pengetahuan guru dalam merencanakan

strategi pembelajaran dan meningkatkan motivasi belajar

. “Banyak nilai karakter yg tertanam di dalam kegiatan tersebut contohnya religi, rasa kepedulian, kejujuran, percaya diri, nasionalisnya,” pungkasnya.

 

Baca Juga :

Siswa SMAN 6 Bogor Juara di GKFP 2019

Siswa SMAN 6 Bogor Juara di GKFP 2019

Siswa SMAN 6 Bogor Juara di GKFP 2019

Siswa SMAN 6 Bogor Juara di GKFP 2019
Siswa SMAN 6 Bogor Juara di GKFP 2019

Abimanyu Damarjati, pelajar asal Kota Bogor berhasil meraih penghargaan Penyutradaraan Film Pendek Fiksi

Terpilih pada Malam Puncak Gelar Karya Film Pelajar (GKFP) 2019. Penyutradaan Abimanyu Damarjati, siswa SMAN 6 Kota Bogor ini menjadi pilihan dewan juri GKFP 2019 lewat film pendek fiksi berjudul “NEKA” yang digarap bersama dua temannya.

“Saya sama sekali tidak menyangka bisa meraih yang terbaik dikategori

penyutradaraan terpilih,” ungkap Abimanyu.

Siswa kelas 12 IPA yang akrab disapa Abi ini mengatakan, proses pembuatan film tersebut dikerjakan ditengah kesibukannya sebagai ketua umum OSIS, yang di akhir jabatannya, dia juga harus menuntaskan program-program kerjanya. “Alhamdulillah dengan segala keterbatasan, baik waktu, peralatan dalam memproduksi film, akhirnya bisa menorehkan prestasi,” ucapnya.

Abi mengaku masih punya keinginan untuk terus ikut lomba serupa diajang yang lain

. Dia menambahkan, banyak ilmu yang didapat setelah ikut workshop selama 5 hari yang sengaja diadakan panitia buat peserta yang masuk nominasi. “Tadinya saya tidak mengerti bagaimana proses pembuatan film yang benar, sekarang saya sudah punya wawasan itu,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap pihak sekolah memfasilitasi siswa yang memiliki keahlian dibidang perfilman dengan menyediakan laboratorium seni dan film. “Saya baru tahu bahwa Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kemendikbud memiliki program bantuan fasilitasi perfilman, tapi sekolah harus lebih dulu mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan tersebut,” pungkasnya

 

Sumber :

http://pressreleaseping.com/pressrelease/275563.html

Mantap! APWMI Tawarkan Sekolah Gratis di Bogor

Mantap! APWMI Tawarkan Sekolah Gratis di Bogor

Mantap! APWMI Tawarkan Sekolah Gratis di Bogor

Mantap! APWMI Tawarkan Sekolah Gratis di Bogor
Mantap! APWMI Tawarkan Sekolah Gratis di Bogor

Kabar gembira datang untuk para orang tua murid yang memiliki anak sekolah di tingkat SMK.

Asosiasi Pengusaha Wanita Mandiri Indonesia (APWMI) menawarkan sekolah gratis bagi masyarakat kurang mampu untuk mengenyam pendidikan. APWMI menjamin biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) setiap bulannya.

Tawaran itu sendiri terlontar dari CEO APWMI, Nurhayati beserta rombongan saat melakukan audiensi dengan Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim di Ruang Paseban Narayana, Balaikota Bogor pada Selasa (15/10). Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menekan jumlah angka pengangguran dan putus sekolah yang setiap tahunnya terus meningkat.

“Kian meningkatnya angka pengangguran dan putus sekolah tentu perlu ditekan,

salah satunya dengan cara menggratiskan biaya sekolah kejuruan. Mengapa kejuruan, agar para pelajar yang telah lulus nanti telah miliki soft skill atau memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing bisa langsung mencari kerja,” kata Nurhayati.

Nurhayati menjelaskan, melihat kondisi meningkatnya pengangguran dan tingginya angka kemiskinan, APWMI ingin berkontribusi nyata serta berkolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Salah satu upayanya ialah dengan menawarkan sekolah gratis bagi masyarakat yang kurang mampu.

“Program sekolah SPP gratis yang saat ini telah berjalan, yakni SMK Labschool Tangerang Raya. Untuk di Kota Bogor sendiri program sekolah SPP gratis sudah ada dan baru berjalan tiga bulan, yaitu di SMK Putra Pena, Jalan Darul Quran, Bogor Barat,” ucap dia.

Di sekolah tersebut, sambungnya, para pelajar dibekali dengan keterampilan Tata Busana,

Tata Boga dan Tata Kecantikan. Dari hasil keterampilannya itu, para siswa bahkan bisa mengantongi uang saku sendiri dengan cara menjual baju seragam yang dibuatnya.

“Untuk sistem sekolah gratis biaya SPP di kami itu mereka diajarkan Tata Busana yang menghasilkan suatu produk, yakni seragam sekolah. Seragam tersebut dijual kembali dan hasil penjualannya dikonversi pada biaya SPP. Jika banyak lebih tak jarang para siswa memiliki uang saku sendiri,” imbuhnya.

Menanggapi tawaran itu, Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim menyambut baik dan sangat mengapresiasi program tersebut. Ia berharap, tak hanya program sekolah gratis biaya SPP saja yang dikolaborasikan, melainkan juga dapat bersinergi terhadap program Sekolah Ibu.

 

Sumber :

https://education.microsoft.com/Story/CommunityTopic?token=Ue57v

Rencana Pemberlakuan Kurikulum Baru

Rencana Pemberlakuan Kurikulum Baru

Rencana Pemberlakuan Kurikulum Baru

Rencana Pemberlakuan Kurikulum Baru
Rencana Pemberlakuan Kurikulum Baru

“Pantai Rei”, sebuah ungkapan klasik dari Heraclites (530SM) yang artinya segala sesuatu berubah. Dan tampaknya itulah yang terjadi dan akan terus terjadi dengan dunia pendidikan kita. Berdasarkan informasi yang beredar di berbagai media massa, bahwa saat ini pemerintah  tengah mempersiapkan kurikulum baru yang diharapkan dapat rampung pada bulan Februari 2013.

Sebelum disahkan dan diaplikasikan, terlebih dahulu pemerintah akan melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum baru ini untuk memperoleh kritik dan masukan dari masyarakat. Kurikulum baru ini merupakan evaluasi dari seluruh mata pelajaran dan akan diterapkan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Dilihat dari konten,  kurikulum baru ini akan memangkas jumlah mata pelajaran. Di tingkat Sekolah Dasar (SD)  jumlah mata pelajaran hanya empat yakni Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika dan Agama, dengan tetap mengacu kepada  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ditetapkan. Terkait dengan mata pelajaran IPA dan IPS,  yang sempat diisukan akan ditiadakan,  kedua mata pelajaran ini  tetap akan diberikan kepada siswa  dalam bentuk yang  berbeda, terintegrasi dengan mata pelajaran lain (Khairil Anwar Notodiputro,  JPNN.com). Sementara, untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak tujuh mata pelajaran dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 10 mata pelajaran. (Inilahjabar.com). Dilihat dari strategi, kurikulum baru ini akan menekankan pada model pembelajaran tematik yang mengarah pada pendidikan karakter. Dengan pendidikan bersifat tematik akan dapat mengembangkan tindak kompetensi penting, yakni perilaku, keterampilan, dan pengetahuan. Selain itu, melalui pendekatan tematik ini, diharapkan  dapat  memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi seluas-luasnya dalam mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya.

Menurut Musliar (AntaraNews.com): “Pendidikan karakter akan lebih banyak dipelajari siswa di tingkat sekolah dasar dimulai sejak dini, semakin tinggi jenjangnya, pelajaran terkait pendidikan karakter berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan”.

Hal senada disampaikan oleh Prof. Kacung Marijan, MA, Staf ahli Mendikbud, bahwa: “Kurikulum pendidikan yang baru nanti akan mengubah mindset pendidikan yang bersifat akademik menjadi dua paradigma yakni akademik dan karakter, bahkan pendidikan karakter akan lebih banyak di tingkat pendidikan dasar atau TK dan SD, karena karakter itu merupakan pondasi pendidikan”. (Kompas.com)

Baca Juga :

Menjadi Sarjana

Menjadi Sarjana

Menjadi Sarjana

Menjadi Sarjana
Menjadi Sarjana

Hingga saat ini menjadi sarjana mungkin masih manjadi dambaan dan harapan bagi sebagian besar orang, tentu dengan alasan  dan motif yang  beragam, mulai dari motif yang bersifat naif-pragmatis hingga motif altruistik-idealis. Dalam hal ini, motif naif-pragmatis bisa dimaknai sebagai dorongan yang lebih tertuju kepada kepentingan pribadi, misalnya untuk menjadi kaya-raya, atau mendapat kedudukan dalam jabatan, melalui upaya dan tindakan yang menghalalkan segala cara.Sementara motif altruistik-idealis dapat dipahami sebagai motif yang didasari untuk melayani dan memberikan manfaat bagi orang lain, melalui upaya belajar keras dan penuh kesungguhan.

Sarjana adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S-1).  Untuk memperoleh gelar sarjana, secara normatif dibutuhkan waktu perkuliahan selama  4-6 tahun atau telah menempuh perkuliahan dengan jumlah SKS sebanyak 140-160. Jika seseorang sudah dinyatakan lulus oleh sebuah perguruan tinggi, maka dia berhak menyandang gelar sarjana.

Hingga era akhir  70-an,  keberadaan sarjana boleh dikatakan tergolong makhluk langka di bumi Indonesia, mungkin karena pada waktu itu jumlah perguruan tinggi (negeri maupun swasta) di Indonesia masih  relatif terbatas. Namun seiring dengan semakin diperluasnya jumlah program studi dan terus berkembangnya jumlah perguruan tinggi hingga ke pelosok-pelosok daerah, maka jumlah sarjana Indonesia pun semakin bertebaran, dengan bidang keahlian yang beragam.

Sebelum tahun 1993,  sebutan gelar sarjana di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari, sebut saja misalnya: Drs., Dra, Ir., atau SH. Namun sejak  tahun 1993 (Keputusan Mendikbud No. 036/U/1993),  ketentuan  sebutan gelar akademik  menjadi lebih beragam,  disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing, (saat ini jumlahnya hingga mencapai puluhan, saya pun tak kuasa  untuk mengingatnya satu per satu).

Belakangan ini sedang berkembang  polemik terkait dengan adanya Surat Edaran dari Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012  tentang kewajiban publikasi ilmiah dalam Jurnal sebagai syarat untuk lulus menjadi sarjana. “Seorang sarjana harus memiliki kemampuan menulis secara ilmiah, termasuk menguasai tata cara penulisan ilmiah yang baik”, demikian ungkap Dirjen Dikti Kemdikbud, Djoko Santoso,  ketika diwawancarai oleh  Kompas.com. Walau secara teknis, mungkin akan timbul berbagai persoalan dalam mengimplementasikannya, tetapi secara pribadi pada dasarnya saya setuju dengan adanya ketentuan ini, dengan harapan semoga dapat memperbaiki mutu  sarjana kita, khususnya dalam mengembangkan budaya intelektual, yang belakangan ini tampaknya cenderung memudar.

Perkembangan terbaru, berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang  Kerangka Kualifikasi  Nasional Indonesia, sarjana (S1) dikategorikan sebagai  jabatan teknisi atau analis (bukan dikategorikan sebagai ahli)  yang berada pada  level (jenjang) 6 (enam), dengan gambaran kualifikasi, sebagai berikut:

  • Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan IPTEKS pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
  • Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
  • Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.
  • Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

Memperhatikan ketentuan tentang  Kerangka Kualifikasi  Nasional Indonesia (KKNI) tesebut, tampak bahwa seorang  sarjana sesungguhnya memiliki posisi yang relatif tinggi dalam struktur masyarakat Indonesia,  dilihat dari kapasitas keilmuan dan kompetensi yang dimilikinya.

Dengan demikian kiranya cukup terang, sesungguhnya  sarjana bukanlah orang sembarangan dan bukan sembarangan orang. Kepadanya dituntut untuk tersedia kapasitas kognitif tingkat tinggi serta memiliki tanggung jawab yang tidak hanya pada dirinya dan lingkungan dimana dia berada, tetapi juga memikul tanggung jawab yang hakiki yaitu kepada Sang Khalik