preferential-lite
shadow

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan
Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan

Kesibukan Sastro sebagai kepala sekolah dan pengajar tidak membuatnya abai

dengan persoalan lingkungan di sekolah. Terutama dalam membangun lingkungan yang hijau, bersih, dan sehat.

Untuk menciptakan kondisi tersebut, Sastro telah memiliki beberapa program lingkungan nyata yang diterapkan di sekolah. Di antaranya, penanaman pohon, pembuatan kompos, serta gerakan memungut sampah. Selain itu, beberapa pokja dibentuk untuk menangani masalah lingkungan di sekolah. ”Setiap Jumat, misalnya. Kami adakan Jumat bersih. Semua warga sekolah harus ikut kegiatan tersebut,” tegasnya.
Buat Buku Tuntunan Peduli Lingkungan
Tentang Sastro SPd MPd (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/.com)

Selain gerakan nyata, untuk meningkatkan pemahaman cinta lingkungan seluruh siswa, Sastro membuat buku khusus bertema lingkungan. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung membuat enam buku untuk siswa kelas I hingga VI.

Untuk setiap jenjang, Sastro membedakan materi buku tersebut berdasar

kemampuan berpikir siswa. Semakin tinggi kelas siswa, materi lingkungan yang diberikan semakin luas.

Dia mencontohkan buku untuk kelas I. Materi yang digunakan sebatas mengenai lingkungan keluarga. Sementara itu, untuk kelas VI, materinya terdiri atas lingkungan fisik dan sosial. ”Dalam materi lingkungan kelas atas ini, juga diajarkan karakteristik kondisi lingkungan beberapa daerah di Indonesia,” jelas bapak tiga putra itu.

Buku yang rampung ditulis pada 2013 tersebut sengaja dibuat

untuk mempermudah siswa dalam memahami lingkungan. Latar belakangnya, selama ini belum banyak buku soal lingkungan yang tersedia. Siswa sering kesulitan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan

 

Sumber :

http://groupspaces.com/Education30/pages/geography

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli

Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli
Pengertian Kebudayaan Menurut Beberapa Ahli
Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
4. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Francis Merill
a. Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
b. Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.

Bounded et.al

Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.

Mitchell (Dictionary of Soriblogy)

Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.

Robert H Lowie

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.

Arkeolog R. Seokmono

            Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh kesimpulan mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia
Dua Pola Kebudayaan yang Terbentuk Di Indonesia

Di negara kita, dewasa ini telah terjadi polarisasi dan membentuk kebudayaan sendiri.

Polarisasi ini didasarkan kepada kecendrungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu kedalam dua golongan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Perbedaan ini menjadi sedemikian tajam seolah-olah kedua golongan ilmu ini membentuk dirinya sendiri dan yang masing-masing terpisah satu sama lain. Seakan-akan terdapat dua kebudayaan dalam bidang keilmuan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Terdapat pranata-pranata sosial, bahkan pranta-pranata pendidikan, yang masing-masing mendukung kebudayaan tersebut, yang semakin memperluas jurang perbedaan antara keduanya.

 

Dua pola kebudayaan tersebut dicerminakan dengan adanya jurusan Pasti-Alam dan Sosial-Budaya

dalam system pendidikan kita. Adanya pemmbagian jurusan ini merupaka hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di negara kita. Sudah merupakan rahasia umum bahwa jurusan Pasti-Alam dianggap lebih mempunyai prestise dibandingkan dengan jurusan Sosial-Budaya. Ha ini akan menyebabkan mereka yang mempunyai minat dan bakat di bidang ilmu-ilmu sosial akan terbujuk untuk memilih jurusan Pasti-Alam karean alasan-alasan sosial psikologis.

 

Dipihak lain, mereka yang sudah terkotak di dalam jurusan Sosial-Budaya

dalam proses pendidikannya kurang mendapatkan bimbingan yang cukup dalam pengetahuan matematikanya umtuk menjadi ilmuwan kelas satu yang benar-benar mampu.

 

Argumentasi yang sering dikemukakan didasarkan pada dua asumsi.

Asumsi yang pertama mengemukakan sebagai raison d’etre bagi eksistensi pembagian jurusan ini didasrkan pada dua asumsi. Asumsi yang pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan matematika yang mengharuskan kita mengembangkan pola pendidikan berbeda pula. Asumsi yang kedua menganggap ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan mateamtika dapat menjuruskan keahliannya di bidang keilmuan ini. Pendapat kita kita mengenai asumsi kedua adalah jelas bahwa asumsi ini ketinggalan zaman dan tidak dapat dipertahankan lagi. Pegembangan-pengembangan ilmu sosial memerlukan membutuhkan bakat-bakat matematika yang baik untuk menjadikannya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.

 Sedangkan dalam memberiakan penilaian terhadap asumsi yang pertama sebaiknya kita mempelajarinya dengan sangat berhati-hati. Berpikir secara matematik tidak terlepas dari cara berpikir masyarakat secara keseluruhan. Artinya bahwa cara berpikir mempunyai konotasi cultural yang berjangkar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Terlampau bahaya bagi kita untuk mengmabil kesimpulan secara deduktif dari kasus-kasus di negara lain. Sebaiknya kita menunda penilaian  kita mengenai hal ini dan mennyerahkan masalah tersebut terhadap para pendidik untuk mengkajinya lebih lanjut.

Sumber : http://diana-ega-fst12.web.unair.ac.id/artikel_detail-243960-Umum-Sejarah%20BPUPKI.html

Perbedaan Antara Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam

Perbedaan Antara Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam

Perbedaan Antara Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam

Perbedaan Antara Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam
Perbedaan Antara Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam

Tak dapat disangkal bahwa terdapat perbedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial

namun perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental. Dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari kedua ilmu tersebut adalah sama. Metode yang diperguankan untuk mendapatkan pengetahuannya adalah metode yang sama, tak terdapat alas an yang bersifat metodologis yang membedakan antar ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam.

Ilmu-ilmu alam mempelajari dunia fisik yang relatif tetap dan mudah dikontrol. Obyek-obyek penelaahan ilmu-ilmu alam dapat dikatakan tak pernah mengalami perubahan baik dalam perspektif waktu maupun tempat. Sebuah batuan yang menjadi obyek penelaahan kita tetapa merupakan batuan yang mempunyai karakteristik yang sama diamana dan kapanpun juga. Hal ini sangat berlainan keadaannya dengan manusia yang menjadi obyek penelaahan ilmu-ilmu sosial. Manusia mempunyai satu karakteristik yang unik yang membedakan dia dari ujud yang lain. Ia mempunyai kemampuan untuk belajar dan dan disebabkan oleh faktor belajar itu dia mengembangkan kebudayaan yang terus berubah dalam kuru zaman. Karakteristik manusia tidak hanya bervariasi dari waktu ke waktu tetapi juga dari satu tempat ke tempat lain sesuai dengan kebudayaan yang berhasil dikembangkannya.

            Dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan memcapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. Waalapun begitu, mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini akan mencapai derajat keilmuan yang sama seperti apa yang dicapai ilmu alam. Terdapat beberapa kesulitan tujuan ini karena beberapa sifat dari obyek yang diteliti ilmu sosial mempelajari tingkah manusia.

Berikut sedikit uraian tentang  perbedaan antar ilmu alam dan ilmu sosial :

Obyek penelaahan yang kompleks

Gejala sosial adalah lebih kompleks dibandingkan dengan gejala alami. Ahli ilmu alam berhubungan dengan satu jenis gejala yang bersifat fisik. Gejala sosial juga memiliki karakteristik fisik, namun diperlukan penjelasan yang lebih dalam untuk mampu menerangkan gejala tersebut. Untuk menjelaskan hal ini berdasarkan hukum-hukum seperti yang terdapat dalam ilmu alam dan ilmu hayat adalah tidak cukup.

Ahli ilmu alam berhubungan dengan gejala fisik yang bersifat umum. Penelaahannya meliputi beberpa  variabel dalam jumalah yang relative kecil yang dapat diukur secara tepat. Ilmu-ilmu sosial mempelajari manusia baik selaku perseorangan maupun selaku anggota dari suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambah rumit. Variabel dalam penelaahan sosial adalah relative banyak yang kadang-kadang membingungkan si peneliti.

Jika seorang ahli ilmu alam mempelajari suatu eksplosi kimiawi maka hanya beberapa faktor fisik yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Jika seorang ahli ilmu sosial mempelajari suatu eksplosi sosial yang berupa huru-hara atau kejahatan maka terdapat faktor yang banyak sekali dimana diantaranya terdapat faktor-faktor yang tidak bersifat  fisik : senjata yang digunakan, kekuatan dan arah tusukan, urat darah yang tersayat, si pembunuh yang meluap-luap, dendam kesuamt pertiakaian, faktor biologis keturunan, kurangnya perlindungan keaamanan, malam yang panas dan memberonsang, pertikaian dengan orang tua, kemiskinan, dan masalah ketegangan rasial.

 

Kesukaran dalam pengamatan

Pengamatan langsung gejala sosial sulit dibandingkan dengan gejala ilmu-ilmu alam. Ahli ilmu sosial tidak mungkin melihat, mendengar, meraba, mencium, atau mencecap gejal yang sudah terjadi di masa lalu. Seorang ahli pendidikan yang sedang mempelajari system persekolahan di zaman penjajahan dulu kala tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri kejadian-kejadian tersebut. Seorang ahli ilmu fisika atau kimia yang bisa mengulang kejadian yang sama setiap waktu dan bisa mengamati suatu kejadian tertentu seara langsung. Hal ini berlainan sekali denagn ahli ilmu jiwa yang tak mungkin mencampurkan ramuan-ramuan ke dalam tabung reaksi untuk bisa merekonstruksi masa kanak-kanak seorang manusia dewasa. Hakiki dari gejala ilmu-ilmu sosial tidak memungkinkan pengamatan secara langsung dan berulang.

Gejala sosial lebih bervariasi dibandingkan dengan gejala fisik. Pada umumnya pengamatan pada tiap cc dari sejumlah volume asam sulfat menghasilkan kesimpulan yang tidak berbeda mengenai mutu asam tersebut. Pengamatan terhadap 30 orang anak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama di kota tertentu lain sekali kesimpulannya dengan pengamatan terhadap jumlah murid dan sekolah yang sama di kota lain umpamanya ditinjau dari segi umr anak-anak tersebut.

Di dalam situasi tertentu seorang ahli ilmu sosial akan memperlakukan setiap individu secara sama rata umpamanya dalam tabulasi waktu lahir mereka. Akan tetapi karena variasi yang nyata dari hakiki manusia maka pengambilan kesimpulan secara umum dari pengambialn contoh ( sample ) dalam ilmu-ilmu sosial kadang-kadnag adalah berbahaya.

 

Obyek penelaahan yang tak terulang

Gejala fisik pada umumnya  bersifat seragam dan gejala tersebut dapat diamati sekarang. Gejala sosial banyak yang bersifat unik dan sukar untuk terulang kembali. Abstraksi secara tepat dapat dilakukan terhadap gejala fisik lewat perumusan kuantitatif dan hokum yang berlaku secara umum. Masalah sosial sering kali bersifat spesifik dalam konteks histories tertentu. Kejadian tersebut bersifat mandiri dimana mungkin saja terjadi pengulangan yang sama dalam waktu yang berbeda namun tak pernah serupa sebelumnya.

 

Hubungan antara ahli dengan obyek penelaahan

Gejala fisik seperti unsure kimia bukanlah suatu individu melainkan barang mati. Ahli ilmu alam tidak usah memperhitungkan tujuan atau atau motif palnit dan lautan. Tetapi ahli ilmu sosial mempelajari manusia yang merupakan mahluk yang penuh tujuan dalam tingkah lakunya. Karena obyek penelaahan ilmu sosial sangat dipengaruhi oleh keinginan dan pilihan manusia maka gejala sosial berubah secara tetap sesuai dengan tindakan manusia yang didasari keinginan dan pilihan tersebut.

Ahli alam menyelidiki prose salami menyusun hokum yang bersifat umum mengenai proses tadi. Sedangkan ilmu-ulmu sosial tidak bisa terlepas dari jalinan unsure-unsur kejadian sosial. Kesimpulan umum mengenai suatu gejala sosial bisa mempengaruhi kegiatan sosial tersebut.

Ahli ilmu sosial tidaklah bersikap sebagai penonton yang menyaksikan suatu proses kejadian sosial. Dia merupakan bagian integral dari objek kehidupannya ynag ditelaahnya. Ahli ilmu alam mempelajari fakta dimana dia memusatkan perhatiannya pada keadaan yang terdapat pada alam. Ahli ilmu sosial juga mempelajari fakta umpamanya mengeani kondisi-kondisi yang terdapat dalam dalam suatu masyarakat.

Sumber : https://www.mindstick.com/Articles/126240/how-to-prevent-air-and-soil-pollution

Tumbuhkan Minat Baca Anak, Ini Yang Dilakukan Indonesia-Singapura

Tumbuhkan Minat Baca Anak, Ini Yang Dilakukan Indonesia-Singapura

Tumbuhkan Minat Baca Anak, Ini Yang Dilakukan Indonesia-Singapura

Tumbuhkan Minat Baca Anak, Ini Yang Dilakukan Indonesia-Singapura
Tumbuhkan Minat Baca Anak, Ini Yang Dilakukan Indonesia-Singapura

Indonesia dan Singapura memiliki semangat yang sama dalam memajukan pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan meningkatkan minat baca. Kali ini sasarannya untuk anak-anak di Jogjakarta.

Singapore International Foundation (SIF) bekerja sama dengan Badan Perpustakaan

dan Arsip Daerah (BPAD DIY) Daerah Istimewa Jogjakarta, menggagas perpustakaan keliling Words on Wheels (WoW) SIF kepada lebih dari 5 ribu siswa. Program ini akan dilakukan selama tiga tahun.

Singapore International Volunteers (SIV) memperkenalkan alat pembelajaran interaktif kepada anak-anak, serta melakukan pelatihan kepada staf dan pustakawan BPAD DIY.
Tumbuhkan Minat Baca Anak, Ini Yang Dilakukan Indonesia-Singapura
Program perpustakaan keliling Words on Wheels (WoW) (Istimewa)

WoW merupakan suatu program unggulan SIF yang diluncurkan pertama kali pada tahun 2011

dan telah dilaksanakan di Hanoi dan Ho Chi Minh Vietnam, Jaffna Sri Lanka dan Bandung Indonesia.

“Menghadirkan kegembiraan dalam kegiatan membaca dan konsep pembelajaran yang mampu menjangkau sekolah-sekolah di Yogyakarta. Hal ini juga menghubungkan anak-anak Yogyakarta ke dunia yang lebih luas di luar lingkungan sekitar mereka,” kata Direktur Eksekutif SIF, Jean Tan dalam keterangan tertulis, Senin (13/11).

Selama tiga tahun ke depan, empat kali dalam sepekan, WoW Yogyakarta akan memberikan akses gratis terhadap materi pendidikan berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia, bahan pelajaran di bidang teknologi informasi dan fasilitas pembelajaran kepada 10 sekolah di Yogyakarta.

Lebih dari 150 Singapore International Volunteers (SIV) akan melakukan kunjungan bulanan s

elama tiga tahun yang ditujukan untuk menumbuhkan minat baca. Kegiatan WoW secara resmi diluncurkan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura Yaacob Ibrahim, Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta Budi Wibowo menjelaskan dengan bergabung bersama untuk berbagi sumber daya dan keahlian dalam memecahkan tantangan bersama, tentu bisa meraih tujuan yang lebih besar. Hasilnya yaitu dengan mewujudkan gerakan membaca menjadi budaya.

“Badan Perpustakaan dan Arsip Yogyakarta selalu berusaha memperkuat pendekatan kami agar anak-anak tertarik untuk membaca dan merasakan cara baru dalam mengakses pengetahuan, dan kami menyambut baik kerja sama ini,” paparnya.

 

Baca Juga :

 

 

Sistem ICT Dianggap Mampu Tekan Korupsi

Sistem ICT Dianggap Mampu Tekan Korupsi

Sistem ICT Dianggap Mampu Tekan Korupsi

Sistem ICT Dianggap Mampu Tekan Korupsi
Sistem ICT Dianggap Mampu Tekan Korupsi

Penggunaan sistem Informasi, Komunikasi dan Teknologi (ICT)

yang mengarah ke e-government (teknologi informasi dalam pemerintahan) dianggap mampu menekan tindak pidana korupsi. Meski sudah diterapkan di Malaysia, jika pemerintah Indonesia berkeinginan untuk menggunakannya diperlukan pengamanan yang lebih pada data penting.

Hal tersebut dikatakan oleh Halimah Abdul Manaf dari Universiti Utara Malaysia. Saat menjadi pembicara dalam kuliah umum “Open Government and The Role of Information, Communication and Technology for a better People Services” yang diadakan oleh Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MIP UMY) pada Jumat (10/11).

“Dari data statistik yang kami miliki, penggunaan sistem ICT

di Malaysia ternyata mampu menurunkan tingkat tindak pidana korupsi hingga 60 persen,” kata Halimah.

Ketika akan menggunakan sistem ini, menurutnya pemerintah perlu membangun sebuah badan. Untuk peningkatan keamanan data pentingnya, maupun milik masyarakat.

Selain peran pemerintah, juga dari masyarakat diperlukan.

Yaitu peningkatan skill-nya dalam menghadapi sistem teknologi ICT ini.

“Masyarakat perlu melakukan persiapan khusus, agar kita bisa sama-sama menyukseskan keberadaan sistem ICT dalam E-Government ini,” kata Erni Zuhriyati, Sekretaris Prodi MIP UMY.

 

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/apa-itu-frase.html

Persamaan Politik Asean dan Timur Tengah

Persamaan Politik Asean dan Timur Tengah

Persamaan Politik Asean dan Timur Tengah

Persamaan Politik Asean dan Timur Tengah
Persamaan Politik Asean dan Timur Tengah

Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and the Middle East: Trajectories for Future Relations” yang digelar oleh The Committee of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10).

Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman ini dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi hingga pelajar.

Dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI

untuk Yordania dan Palestina, kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparanya, Philip menekankan dalam tiga hal yaitu Politik dan Keamanan, Ekonomi dan Perdagangan, dan terakhir Hubungan persahabatan.

Dia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dengan Timur Tengah (Midle East). Yang pertama sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya.

Kesamaan kedua dalam hal agama sehingga bisa saling tukar pikiran

dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama.

Ketiga kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing, dan yang terakhir pertukaran Budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal yang menjadi point utama kesamaan antara ASEAN

dengan Timur Tengah di antaranya Penerapan Sistem Demokrasi dalam pemerintahan negara, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan upgrading kecanggihanya.

Yang berikutnya, perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua Negara seperti Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki dalam kolaborasi perlawanan terhadap terorisme, dan Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.(*)

 

 

Sumber :

https://nouw.com/danuaji/understanding-and-examples-of-explanator-36084748

Kumpulan Artikel Tentang Karakter

Kumpulan Artikel Tentang Karakter

Kumpulan Artikel Tentang Karakter

Kumpulan Artikel Tentang Karakter
Kumpulan Artikel Tentang Karakter

Berikut ulasan mengenai Kumpulan Artikel Tentang Karakter. Silahkan disimak!

Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa

Pendidikan Karakter Yang Berhasil
Pengertian Pendidikan Karakter
Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Karakter

Pengertian Pendidikan Karakter

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Karakter

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa

Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Sekian artikel dari Tugas Sekolah Dan Kuliah mengenai Kumpulan Artikel Tentang Karakter, yang dapat kalian jadikan acuan untuk belajar.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/19505/seni-rupa-murni

Kumpulan Artikel Tentang Manajemen

Kumpulan Artikel Tentang Manajemen

Kumpulan Artikel Tentang Manajemen

Kumpulan Artikel Tentang Manajemen
Kumpulan Artikel Tentang Manajemen

Fungsi Manajemen Kesiswaan

Indikator Keberhasilan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif dalam MBS
Komunikasi Dalam MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Koordinasi Dalam MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Monitoring Dan Evaluasi Dalam MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Pengertian Dan Gaya Kepemimpinan MBS
Pengertian Manajemen Kesiswaan
Prinsip-Prinsip Manajemen Kesiswaan
Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan
Supervisi Dalam MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
Tanggung Jawab Kepala Sekolah Terhadap Manajemen Kesiswaan
Tiga Pilar Manajemen Kesiswaan
Tugas Manajemen Kesiswaan
Tujuan Manajemen Kesiswaan

Tujuan Manajemen Kesiswaan

Secara umum tujuan manajemen kesiswaan adalah untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, teratur serta dapat mencapai tujuan pendidikan sekolah. Selain itu manajemen kesisswaan di sekolah secara baik dan berdaya guna akan membantu seluruh staf maupun masyarakat untuk memahami kemajuan sekolah. Mutu dan derajat sekolah tergambar dalam system sekolahnya. Jadi tujuan manajemen kesiswaan adalah mengatur berbagi kegiatan dalam bidang kesiswaan serta serta sebagai wahana bagi siswa untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin.

Fungsi Manajemen Kesiswaan

Adapun mengenai fungsi manajemen kesiswaan adalah sebagai berikut: 1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas: kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya; 2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan sosial: sosialisasi dengan sebaya, keluarga dan lingkungan sosial (sekolah &l masyarakat).

Tugas Manajemen Kesiswaan

Manajemen Kesiswaan Untuk mewujudkan tujuan manajemen kesiswaan, sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Penerimaan Murid Baru; Penerimaan murid baru merupakan salah satu kegiatan yang pertama dilakukan yang biasanya dengan mengadakan seleksi calon murid. Pengelolaan penerimaan murid baru ini harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga mengajar-belajar sudah dapat dimulai pada hari pertama setiap tahun ajaran baru. Menurut Ismed Syarief Cs. (1976: 25-20) langkah-langkah penerimaan murid baru pada garis besarnya adalah sebagai berikut:

Sekian artikel dari Tugas Sekolah Dan Kuliah mengenai Kumpulan Artikel Tentang Manajemen, yang dapat kalian jadikan acuan untuk belajar.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/19502/resensi-adalah